Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;


Jakarta - Menjaga Bumi tak bisa lepas dari laut yang bebas dari sampah. Terombang-ambing di samudera, sebenarnya bagaimana sih perjalanan plastik di laut.

Hari Bumi menjadi saat yang tepat untuk kita melihat sejauh perjalanan manusia dalam menjaga alam. Bumi punya sampah hampir seluas Indoenesia di Samudera Pasifik, inilah tanggapan Dr.-Ing. Widodo S Pranowo, Ketua Laboratorium Data Laut dan Pesisir, Pusat Riset Kelautan KKP, Selasa (23/4/2019).

"Sebal, kecewa, sedih beraduk jadi satu. Problem global saat ini yang krusial dihadapi manusia di bumi adalah sampah plastik dan perubahan iklim-laut," ujar Widodo.

Widodo menambahkan bahwa sampah plastik di laut punya banyak macam dengan berbagai kualitas dan bahan. Sehingga ada yang cepat terdegradasi menjadi mikroplastik dan ada yang membutuhkan lebih lama. Bahkan ada yang bisa lebih dari 100 tahun untuk terdegradasi.

Rupanya sampah makroplastik yang terdegradasi menjadi mikroplastik memiliki dampak tersendiri. Ini akan membuat densitas massa air Samudera Pasifik menjadi lebih kental karena penuh dengan larutan mikroplastik.

Sementara itu, samudera dan lautan saling terhubung satu sama lain. Sehingga bisa saja massa air Samudera Pasifik yang mengandung banyak mikroplastik tersebut akan tertransportasi menuju samudera dan laut lainnya. Hal lain yang memungkinkan adalah mikroplastik yang berkeliling terbawa aliran arus ke seluruh samudera dan lautan di bumi.

"Aliran massa air global tersebut sering disebut sebagai The Conveyor Belt Global Current atau dikenal sebagai Atlantic Meridinal Overturning Current (AMOC). Sehingga bisa saja mikroplastik dari seluruh lautan dan samudera suatu saat bisa saling bertemu berkumpul satu sama lain," jelas Widodo.

AMOC adalah aliran arus laut dari area tropis yang lebih hangat ke utara. Sampah mikroplastik tersebut dimungkinkan terbawa aliran arus di kolom air permukaan. Kemudian bisa saja teralirkan ke lapisan kolom massa air yang lebih dalam, sesuai dengan lintasan the conveyor belt global current tersebut.

"Kesempatan mikroplastik terbawa masuk ke kolom air yang lebih dalam bisa saja terjadi. Misalnya, ada aliran massa air yang mengandung larutan mikroplastik dalam jumlah yang sangat masif mengalir di permukaan menuju Samudera Atlantik. Kemudian aliran tersebut terbawa ke arah utara mendekati kawasan perairan kutub utara. Karena massa air menjadi dingin maka secara natural densitasnya akan menjadi lebih berat. Densitas tersebut bertambah berat dengan penambahan mikroplastik terlarut tadi. Maka massa air tersebut akan tenggelam dan mengalir di kolom bawah permukaan, tentunya bersama mikroplastik di dalamnya," ungkap Widodo.

Menurut beberapa penelitian, penyebaran sampah mikroplastik di lautan bisa berdampak bagi kehidupan biota dan manusia. Mikroplastik yang terakumulasi di badan ikan, kemudian dikonsumsi oleh manusia akan memberikan efek samping, seperti kanker.

Dari mikroplastik, sampah juga bisa terdegradasi ke ukuran yang lebih kecil menjadi nano. Nanoplastik yang terkonsumsi oleh hewan atau manusia memiliki dampak mutasi gen. Penelitian ini masih terus dikembangkan oleh para peneliti.

Sumber Berita : Detik Travel