Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;


Pesisir Teluk Palu dinilai cocok sebagai habitat mangrove dan data-data sejarah juga menguatkan hal ini. Hingga awal 1980-an di kawasan ini masih banyak tanaman mangrove dan sebagian yang tersisa terbukti mampu melindungi permukiman masyarakat dari tsunami.

Oleh karena itu, alasan pembangunan tanggul karena mangrove dianggap tidak cocok tumbuh di pesisir Teluk Palu, Sulawesi Tengah dinilai tidak tepat. Seperti diberitakan harian Kompas pada Jumat (5/4/2019), pemerintah tetap akan membangun tanggul laut di Teluk Palu sebagaimana diusulkan Jepang. Salah satu alasannya, seperti dikemukakan Kepala Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Sulteng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Arie Setiadi Moerwanto, karena Teluk Palu tidak memiliki pantai yang landai, sehingga tidak cocok untuk mangrove.

Arkeolog yang juga Wakil Kepala Museum Daerah Provinsi Sulteng Iksam mengatakan, hingga akhir tahun 1970-an sepanjang pesisir Teluk Palu masih banyak terdapat mangrove. “Bahkan, hingga sebelum tsunami 28 September 2018, di Penggaraman, Pantai Talise masih ada bukti pohon mangrove besar, yang karena tinggal sendiri disebut warga sebagai pohon jomblo,” kata dia.

Iksam mengatakan, pembabatan mangrove di pesisir Teluk Palu baru dimulai setelah tahun 1978, setelah Kota Palu dimekarkanmenjadi Kota Administratif dan Ibukota Provinsi Sulteng. “Pembatatan mangrove di Teluk Palu ini berbarengan dengan pembangunan perumnas di daerah Petobo dan Balaroa, yang terkena likuefaksi beberapa waktu lalu. Jadi tidak tepat jika alasan pembangunan tanggul karena mangrove tidak cocok di Teluk Palu,” kata Iksam

Potensial​

Peneliti mangrove yang juga ahli tsunami dari Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan Perikanan (BRSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Semeidi Husrin mengatakan, Teluk Palu potensial untuk pengembangan mangrove. “Saya yakin Teluk Palu dulunya mangrove karena itu ada sungai besar, pasti dulu kanan-kirinya mangrove rapat,” kata dia.

​Dari survei setelah tsunami, pesisir Teluk Palu juga mengalami pasang surut. “Area pesisir yang secara periodik terendam air akan sangat cocok untuk mangrove. Memang, ada sebagian di Teluk Palu yang terlalu curam, tetapi rata-rata masih cocok untuk mangrove,” kata dia.

Sumber Berita : bebas.kompas.id