Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;


Senin, 28 Januari 2019. Tsunami merupakan salah satu bencana yang cukup sering memakan korban, baik korban jiwa, dan harta. Tsunami Palu dan Selat Sunda cukup mengejutkan bagi masyarakat Indonesia terutama korban bencana, dan merupakan pukulan telak bagi pemerintah, dikarenakan alat pendeteksi dini tsunami yang telah di deploy beberapa tahun silam, sebagai tindakan setelah kejadina tsunami Aceh 2004 telah rusak dan bahkan hilang. Sebagai tidak lanjut langkah pencegahan bencana tsunami terutama yang diakibatkan oleh meletusnya Gunung Anak Krakatau, terbentuk tim kecil untuk sistem peringatan dini tsunami. Telah dilakukan diskusi teknis dengan Tim Pusat Gempa dan Tsunami BMKG. Dijelaskan bahwa BMKG dan BIG telah memasang alat tidegauges di 8 titik di Perairan Selat Sunda. Namun tak satupun untuk keperluan early warning tsunami. Tidegauges BMKG dan BIG untuk keperluan meteorologi/klimatologi. Selain itu, ada keterlambatan (latency) hingga 9 menit. Sehingga Tim dari Pusat Riset Kelautan melakukan pemasangan alat IDSL yang kita pasang: dapat memberikan warning dan pengukuran serta latency dalam hitungan detik (dibawah 20detik). Selain itu, harga alat ini relatif murah dibandingkan sistem lainnya yg ada di Indonesia saat ini (EUR 2500). Pada senin siang, tim diminta bertemu Kepala BMKG, Ibu Dwikorita untuk menjelaskan rencana pemasangan. Dijelaskan bahwa pada tahap awal (tahap riset yang dikerjakan oleh peneliti Pusriskel-BRSDMKP) hanya ada dua alat yang akan dipasang. Sisanya (6 alat) dapat dioperasionalkan BMKG yang direncanakan tiba bulan Maret-April 2019. Pusriskel telah berpengalaman penelitian alat pantau serupa di 5 pelabuhan perikanan dan di LRSDKP Bungus. Kami banyak belajar dari permasalahan berbagai alat kerjasama dengan LIPI dan BPPT. Pada tahap riset ini, alat Pusriskel, Tidemaster-Valeport akan dipasang mendampingi IDSL. Dalam kegiatan tersebbut dihadiri oleh Dr.-Ing. Semeidi Husrin, Dr. Tubagus Solihuddin (Peneliti) dan Sujatmiko Bayu Aji (Teknisi Litkayasa) Pusriskel-BRSDMKP, Ardito M. Kodijat (IOTIC/IOC Indonesia), Yudo, Kian, Hanif, Akbar (BMKG), Gegar Prasetya (IATsI) dan Kepala BMKG.