Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Wakatobi, NMN – Kantor Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerima tamu istimewa dari University of Rhode Island, (08/01). Mereka adalah Dr. David Dooley yang merupkan Presiden atau Rektor University of Rhode Island (URI-USA) dan Brook Williams Roos, MA., MBA, Director Business & Education Partnerships Asia. URI-USA mempunyai pengalaman panjang bekerjasama dengan institusi di Indonesia termasuk kementerian seperti KKP, Pertanian, Bappenas maupun kampus seperti IPB, Universitas Halu Oleo, ITB hingga LIPI. Menurut Kepala LPTK BRSDM-KP di Kabupaten Wakatobi, Akhmatul Ferlin, pada kunjungan tersebut mereka meninjau ketersediaan dan keadaan infrastrukur atau sarana prasarana yang ada di LPTK termasuk memberi tanggapan atas inovasi aplikasi WakatobiAIS yang dikembangkan unit kerjanya. “Selain itu, mereka mendengarkan penjelasan tentang potensi kelautan serta kondisi oseanografi Wakatobi dan WPP-714,” jelas Ferlin.

Dr. David Dooley dan Brook Williams Roos mengapresiasi inovasi hasil perekayasaan LPTK-KKP. Menurutnya, perangkat yang dapat menolong nelayan kecil yang mengalami kondisi darurat di laut ini dapat meningkatkan harapan selamat para penyintas. “Saya pernah mengunjungi komunitas nelayan di Ghana dan Pantai Gading, dan masalahnya sama dengan di sini (Wakatobi). Mereka, nelayan, berlayar dengan perahu kecil hingga 60 mil dari daratan dan banyak yang tidak kembali ke keluarganya,” ungkap David saat berdiskusi dengan anggota tim LPTK. Yang dimaksudkan oleh mereka adalah aplikasi ‘WakatobiAIS’ yang merupakan inovasi LPTK yang bekerja serupa perangkat AIS konvensional sehingga dapat dipergunakan pada perairan seluruh dunia. Mereka terkesan dengan inovasi atas fungsi tracking posisi dan penerimaan pesan keselamatan pelayaran yang bisa diterima dengan baik oleh kapal lain (termasuk non-perikanan). Inilah yang memungkinkan penyintas dapat diketahui lokasi dan kondisinya serta diberikan pertolongan segera. “Presiden URI sangat terkesan dengan output LPTK di antaranya operasionalisasi radar pantai LPTK, inovasi teknologi Wakatobi Sea Bamboo dan inovasi teknologi WakatobiAIS,” jelas Ferlin. Bagi tamu dari Amerika Serikat tersebut, kegiatan ini dimaksudkan pula untuk menjajaki kerjasama ke depannya sebagaimana diungkapkan oleh Ferlin. “Mereka juga melakukan penjajakan peluang kerjasama riset dan peningkatan kapasitas sumberdaya daya manusia (capacity building),” pungkasnya.

Sumber : Maritimenews.id