Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Jakarta, 09 November 2018. Cuaca ekstrim berupa kemarau basah yang terjadi pada tahun 2010, 2013 dan 2016 sangat mempengaruhi produksi garam di Indonesia, sehingga  mengakibatkan tidak tercapainya target produksi garam sesuai yang diharapkan. Pada tahun 2018 ini Pusat Riset Kelautan sedang mendesain sebuah  sistem prediksi produksi garam yang kedepannya dapat dijadikan sebagai panduan bagi pemangku kepentingan didalam menetapkan target produksi garam nasional yang realistis. Sistem yang akan dibangun ini sagnat membutuhkan informasi spesifik terkait cuaca dan aspek lingkungan lainnya yang secara empiris terbukti memberikan perbedaan produksi garam di Indonesia.

Terkait pembuatan sistem tersebut, Pusat Riset Kelautan menggelar  kegiatan diskusi panel  bersama dengan BMKG, dan PT. Garam (Persero),  UP2KM STMKG dan beberapa pihak terkait lainnya  guna membahas kebutuhan data yang diperlukana. Dengan mengambil  tema "Urgensi Prediksi Produksi Garam Sebagai Faktor Pengendali Neraca Garam Nasional" acara diskusi dilaksanakan pada hari Kamis, 08 November 2018, bertempat di Ruang Rapat Yellow Fin Tuna, Gedung BRSDMKP2, Ancol Timur.

Acara dibuka oleh Kepala Bidang Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan Dr. Ifan Ridlo Suhelmi, mewakili Kepala Pusat Riset Kelautan yang berhalangan hadir. Dilanjutkan dengan paparan yang disampaikan secara berurutan, yakni oleh Peneliti Pusat Riset Kelautan Rikha Bramawanto,  perwakilan Pusat Layanan Informasi Iklim BMKG Bpk Siswanto,  perwakilan PT. Garam Persero Bpk EKo, serta perwakilan dari Praktisi Garam Bpk Sanusi.