Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Jakarta, 31 Mei 2018. Direktorat Jenderal Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang bermaksud menyusun Kawasan Strategis Nasional (KSN) Pangandaran, Kali Pucang, Cilacap dan Segara Anakan (Pancangsanak). Pada Senin 28 Mei 2018, Direktorat Perencanaan Tata Ruang menggelar diskusi kelompok terfokus (FGD) di Hotel Verandah Jakarta Selatan membahas tentang potensi sumber daya kelautan kawasan Segara Anakan.

Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan diundang untuk memberikan data dan informasi terkini yang dapat dijadikan bahan rujukan dan pertimbangan untuk penyusunan KSN Pancangsanak tersebut. Pusat Riset Perikanan diwakili oleh Dr. Joni Haryadi, Kepala Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan memaparkan panjang lebar serta detil potensi sumber daya ikan dan keanekaragaman yang akan hilang bilamana sebagian besar Segara Anakan berubah menjadi daratan. Hal ini didukung oleh penjelasan Dr. Amulah, sebagai peneliti pada balai yang sama, menurutnya terdapat spesies udang unik yang hidupnya hanya menetap di kawasan perairan Segara Anakan, yang dikawatirkan akan lenyap akibat sedimentasi yang tidak terkendali.

Sedangkan menurut Dr. Widodo Pranowo, Pusat Riset Kelautan, lambat laun, Segara Anakan akan menyatu dengan Pulau Nusa Kambangan, suatu proses alam jutaan tahun yang tidak bisa dihindari. Yang hanya bisa dilakukan adalah memperlambat proses tersebut dengan melakukan pengelolaan Daerah Aliran Sungai mulai dari hulu hingga hilir. Selain itu, Widodo mengatakan bahwa secara umum Kawasan Pancangsanak di sisi yang menghadap Samudera Hindia Laut Selatan Jawa mempunyai potensi kebencanaan alam seperti terkena ekor badai tropis, gempa dan tsunami. Sedangkan kebencanaan lingkungan juga berpotensi terjadi akibat cemaran minyak karena ada aktivitas migas di Cilacap. Tercatat beberapa kali telah terjadi cemaran minyak di Cilacap dari tahun 2000 hingga 2015, baik dari sumber yang diketahui maupun tidak diketahui. Pada Mei tahun 2016 terjadi cemaran minyak akibat bocornya pipa bawah laut pertamina, cemarannya bahkan meluas hingga ke pesisir selatan Nusa Kambangan hingga kawasan Plawangan barat dan hampir mencapai Pangandaran timur. Tim Badan Riset KKP, pada tahun 2004, pernah turut menangani kasus cemaran minyak di Cilacap akibat sobeknya lambung Kapal Tanker Lucky Lady.

Widodo, pun menekankan bahwa manakala kawasan pesisir KSN Pancangsanak akan dilakukan pembangunan fisik, maka perlu dipersyaratkan agar semua bangunan wajib tahan terhadap gempa dan harus bisa difungsikan untuk evakuasi vertikal dari bahaya tsunami.

 Berita terkait :