Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Jakarta, 31 Agustus 2017. Indonesia secara resmi memiliki Dewan Hidrografi Indonesia (DHI). Dalam Rangka Memperingati Hari Hidrografi Sedunia,  Pusat Hidro-Oseanografi TNI-AL (PUSHIDROSAL) menggelar seminar internasional bertajuk Mapping Our Seas, Oceans and Waterways More Important Than Ever. Pada kesempatan tersebut hadir Kepala Staff TNI-AL, Laksamana Ade Supandi, yang membuka seminar di Hotel Mercure Ancol, tersebut. Dalam sambutannya Kepala Staff TNI-AL mengatakan bahwa sesuai dengan Perpres No. 62/2016 tentang perubahan atas Perpres No. 10/2010 mengenai Susunan Organisasi Tentara Nasional Indonesia, yaitu menerangkan bahwa Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI-AL bertugas melakukan pemetaan. Peningkatan kualitas dan ketelitian untuk menjamin keselamatan pelayaran. Peta laut bukan hanya peta yang melengkapi kapal, namun juga melindungi ekosistem laut yang ada. Mengelola laut membutuhkan teknologi, investasi, dan integrasi antar lembaga dan kementerian terkait guna mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Pada kesempatan tersebut Jenderal Bintang Empat tersebut mengukuhkan Dewan Hidrografi Indonesia, yang terdiri atas para pakar keprofesian bidang maritim, perwira TNI-AL, akademisi dari berbagai perguruan tinggi yang membuka program studi kelautan, pelayaran, perkapalan, geodesi dan geomatika serta penginderaan jauh, pengamat kemaritiman. Salah satunya berasal dari Badan Riset dan Sumberdaya Manusia KP, KKP, yaitu Dr.-Ing. Widodo. S. Pranowo yang tergabung dalam UPT International Maritime Reserch and Training Center.

Tujuan dari dibentuknya Dewan Hidrografi Indonesia merupakan sebagai wadah dalam menampung aspirasi masyarakat Indonesia yang berkecimpung dalam dunia hidrografi, selain wadah pemangku masyarakat hidrografi tersebut, DHI ditujukan untuk berkontribusi dalam pertarungan ketenagakerjaan pada era AFTA dengan menjadi lembaga sertifikasi profesi di bidang hidrografi di Indonesia. Selain itu , orang tertinggi di lingkungan TNI-AL tersebut menyaksikan penandatanganan kerjasama antara Pushidrosal dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan penandatanganan kerjasama antara Pushidrosal dengan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Serta menyaksikan peluncuran buku peta skala detail 1:1000 untuk alur Sungai Musi dan pelabuhan Palembang, demi menyukseskan keberlangsungan pelaksanaan Asian Games yang dilaksanakan tahun depan (2018) di Jakarta dan Palembang. Seminar tersebut menghadirkan tiga pembicara utama, yaitu Vice Admiral (Retired) Shin Tani dari General Bathymetric Chart of the Oceans (GEBCO),  Prof. Dr. Ir. Hasanuddin Z Abidin, M.Sc. Eng Kepala Badan Informasi Geospasial, serta Kolonel Jamie McMichael-Phillips, Head of Partnering & Engagement  United Kingdom Hydrographic Office, dan dimoderatori oleh Kolonel Laut (KH) Dr. Kresno Buntoro.

Chairman GEBCO menjelaskan bahwa Peta laut membutuhkan tingkat akurasi yang tinggi untuk keselamatan kegiatan dilaut. Peta laut yang dihasilkan oleh GEBCO merupakan lebih dari pemetaan dan penelitian yang memudahkan dalam melaksanakan segala sesuatu di laut. Selama ini GEBCO bekerja di perairan laut dalam, bukan di perairan dangkal dengan skala hingga 900 meter grid perairan dangkal sangatlah sulit dijangkau oleh metode yang digunakan oleh GEBCO. Selama ini data yang disajikan oleh GEBCO 15% nya merupakan hasil pengukuran langsung dilapangan selebihnya menggunakan teknologi satelit altimetri yang mengukur tingkat gravitasi bumi guna menentukan pula kedalaman kolom air di lautan. Kedepannya peta yang dihasilkan oleh GEBCO akan menjadi lebih detail lagi hingga 450 meter.

Sejalan dengan pemaparan Chairman GEBCO, Kepala Badan Informasi Geospasial juga menambahkan bahwa BIG saat ini sedang melaksanakan proses realisasi program satu peta, yang akan berakhir pada 2019. Hingga saat ini banyak versi peta yang diterbitkan oleh kementerian dan lembaga terkait. Sejauh ini terdapat 85 peta yang berbeda-beda dari 19 kementerian dan lembaga serta dari 34 Provinsi. BIG bertugas untuk mengumpulkan dan mengintegrasikan sehingga menjadi satu peta standar. Saat ini untuk mendukung proses pembangunan terutama pelabuhan dan dermaga untuk mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, dibutuhkan peta laut dan peta pantai dengan skala 1:10.000, saat ini hanya 6% dari peta laut dan pantai yang ada di Indonesia dengan skala 1:10.000. Jamie McMichael-Phillips sebagai Kepala kerjasama dan Kemitraan UKHO menegaskan bahwa kebutuhan peta laut adalah untuk navigasi dan pemanfaatan laut. Dalam hal ini penekanan pada kualitas persepsi pengguna dan ekspektasi pengguna peta laut itu sendiri. UKHO sendiri telah memiliki kerjasama yang cukup baik dengan Pushidorsal dalam penerbitan peta, alih teknologi, pelatihan dan kerjasama internasional.