Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;


Pasca terjadinya ledakan sumur pengeboran minyak minyak Montara milik PTTEP Australasia (AA) di perairan teritorial Australia, pada 21 Agustus 2009, yang kemudian tumpahannya memasuki wilayah ZEE Indonesia hingga mencapai wilayah perairan teritorial Indonesia, Pemerintah Indonesia telah melakukan pengukuran kualitas air dan sedimen untuk mengidentifikasi bukti adanya pencemaran di Laut Timor Indonesia. Berdasarkan dokumen yang telah diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup atas nama Pemerintah Indonesia pada tahun 2010, dan beberapa dokumen ilmiah/pendukung lainnya yang terkait ditemukan fakta-fakta sebagai berikut.

Pemantauan 23 Oktober & 3-6 November 2009

Secara umum telah dilakukan pengukuran pasca ledakan Montara 2009, oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah Propinsi NTT tentang kondisi kualitas air dan sedimen pada 23 Oktober 2009. Pemantauan kualitas air 3-6 Nopember 2009, dengan menggunakan KN Mina milik Disnav Kupang, adalah yang kedua kali oleh Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan,   KLH   bersama   dengan   Tim   Terpadu. Peserta survei terdiri dari  perwakilan dari berbagai instansi terkait, yaitu: Ditjen Hubla (Dit KPLP Pusat, Adpel Kupang, Disnav Kupang Reporter Humas Hubla); Kementerian  Lingkungan  Hidup  (Asdep  Pengendalian  Kerusakan  Pesisir  &  Laut, Asdep Penegakan Hukum Perdata, dan Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan); Departemen Kelautan dan Perikanan (Dit Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan) POLAIR (Babinkam POLRI dan POLAIR Daerah Kupang); BLHD Provinsi NTT; Balai Konservasi Sumber Daya Alam Propinsi NTT Dinas Perikanan Propinsi NTT; Dinas Pertambangan Kota Kupang; Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Propinsi NTT; Perwakilan masyarakat nelayan Kupang.

Pemantauan 10-26 Mei 2010

Pengukuran selanjutnya dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2010 untuk memastikan apakah pencemaran minyak Montara 2009 masih berlangsung di Laut Timor dan sekitarnya. Hal ini dilakukan karena Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan adalah sebagai Wakil Ketua Tim Advokasi Penanganan Pencemaran Tumpahan Minyak Akibat Meledaknya Sumur Pengeboran Ladang Minyak Montara 2009, berdasarkan SK Menhub.



KKP aktif bersama dengan kementerian dan lembaga lainnya melakukan tindakan responsif dalam memantau sejauh manakah tumpahan minyak memasuki wilayah ZEE Indonesia bahkan masuk ke perairan teritorial Indonesia. Tumpahan minyak akibat ledakan oil rig Montara di West Atlas Australia pada tanggal 21 Agustus 2009 tersebut dipantau, sejak 30 Agustus 2009, oleh Balai Riset dan Observasi Kelautan (nomenklatur lama dari Balai Penelitian Observasi Laut), yang memiliki stasiun bumi penangkap citra satelit, secara kontinyu sejak awal September. Terpantau bahwa laju tumpahan minyak Montara, cenderung menuju arah barat-laut dari sumber ledakan. Terlihat tumpahan minyak mengalami dispersi yang cukup luas. Pantauan dan perekaman citra satelit dilakukan hingga Nopember 2009. Data citra ini digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam mendesain stasiun pemantauan perairan untuk ATSEA Cruise (Mei 2010) dan TISRA Operation (Agustus 2010).

Pada 10-26 Mei 2010, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan pengukuran di Laut Timor dan sekitarnya untuk mengetahui apakah dampak tumpahan minyak Montara 2009 masih berlanjut. Kegiatan pengukuran tersebut merupakan gabungan kerjasama Indonesia – Australia – Timor Leste – dan Papua Nugini, yang dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, bernama Arafura Timor Sea Ecosystem Action (ATSEA) CRUISE. Hal ini mengingat pencemaran adalah salah satu topik lintas batas antar negara yang penting untuk dapat dikelola dan ditangani secara bersama.

Penelitian di perairan Laut Timor-Arafura dilakukan untuk mengetahui kondisi dinamika laut dan oseanografinya. Sampel air diambil selama ATSEA Cruise, kemudian dianalisis di Laboratorium Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dimana laporan teknis ditulis oleh Dede Falahudin (P2O-LIPI), Zainal Arifin (P2O-LIPI), dan Tonny Wagey (Badan Litbang KKP) pada tahun 2010, dan sudah dipublikasikan pada Buku berjudul “ATSEA Cruise Report” Second Edition ISBN: 978-979-3692-26-5 pada tahun 2011.

Pemantauan 18-23 Agustus 2010

Pada tanggal 18-23 Agustus 2010, KKP menggelar "Timor Sea Rapid Assessment" (TISRA) Operation. TISRA Operation yang dilaksanakan dalam rangka verifikasi tumpahan minyak Montara di perairan Timor dengan melakukan survei mengelilingi perairan pesisir Pulau Rote. Pelaksanaan survei tersebut adalah bersamaan waktunya dengan perjuangan Tim Advokasi Nasional dalam penuntutan ganti rugi, pertemuan kedua, di Australia. Pada saat itu, BROK mengirim beberapa penelitinya, untuk melakukan sampling air dan biota di daerah perairan Laut Timor, Pulau Rote dan Pulau Sabu. Para peneliti tersebut adalah Elvan Ampou, Iis Triyulianti, Faisal Hamzah, Suciadi Catur Nugroho, Yoke Hany dan Nyoman surana. Tim survei dibagi menjadi 2 tim, yakni tim pesisir dan tim laut.

TISRA Operation dilakukan dengan menggunakan Kapal Patroli Perikanan milik KKP Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Direktur pada Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan, Dr. Hartanta Tarigan, pada saat itu mengijinkan perjalanan dimulai untuk sampling dimulai hari Jumat tanggal 20 Agustus 2010 dengan menumpang KM Hiu Macan Tutul.

Fakta Temuan Hasil Pemantauan 23 Oktober 2009

Analisis laboratorium untuk kualitas air laut di Laut Timor yang dilakukan oleh BLHD NTT, dengan hasil sebagai berikut: Untuk parameter bau, diketahui bahwa Titik Sampling 1 dan Titik Sampling 2 tidak memenuhi baku mutu, karena seharusnya tidak berbau dan alami; Untuk parameter kekeruhan, semua titik sampling (TS1, TS2, TS3, dan TS4) tidak memenuhi baku mutu karena terukur melebih 5 NTU; Untuk parameter padatan tersuspensi total, titik sampling 2 dan 3 mendekati kepada standar yang ditetapkan pada baku mutu air laut yaitu 20mg/L dan pada titik sampling 4 telah melebihi nilai baku mutu, yaitu 24.80 mg/L; Untuk parameter lapisan minyak, diketahui bahwa lapisan minyak terdeteksi pada titik sampling 1 dan 2; Untuk parameter pH, semua titik sampling masih memenuhi baku mutu, dengan nilai berkisar dari 7 – 8.5; Untuk parameter DO, diketahui bahwa pada titik sampling 3 sudah tidak memenuhi baku mutu, yaitu < 5 mg/L; dan Untuk parameter minyak dan lemak, semua titik sampling tidak memenuhi baku mutu karena nilai yang diperoleh melebihi 1 mg/L.


Fakta Temuan Hasil Pemantauan 3-6 November 2009

Analisis laboratorium dilakukan terhadap sampel air berupa TSS, Amoniak, Sulfida, Minyak dan Lemak, Hg, Arsen, Cadmium, Cianida, Nitrat, pH, Salinitas, DHL, Suhu, Kekeruhan, dan Kecerahan. Kondisi TSS (di Stasiun A1), Lapisan minyak (di Stasiun A1), Minyak dan Lemak (di Stasiun A1, A2, A3, A4, dan A8) menunjukkan telah melewati baku mutu lingkungan hidup. Dari  hasil  analisis  Total Petroleum Hidrocarbon (TPH) terhadap sampel sedimen, menunjukkan  bahwa  ketiganya  mengandung  minyak mentah. Hasil analisis Gas Chromatography terhadap sampel sedimen, didapatkan bahwa secara kualitatif terdapat komponen toksik/racun di dalam sampel yang dianalisis. Komponen tersebut berupa hidrokarbon aromatik.

Menurut keterangan Ahli Karakteristik Minyak, Bapak Oberlin Sidjabat, bahwa hasil analisi laboratorium LEMIGAS telah mengkonfirmasi bahwa tipikal hidrokarbon aromatik pada sedimen di Stasiun T1, T2, T3 adalah sama dengan Tarball di stasiun yang sama, dimana memiliki kesamaan dengan Tarball minyak mentah dari sumur pengeboran minyak Montara.


Fakta Temuan Hasil Pemantauan 10-26 Mei 2010

Senyawa PAH yang dianalisis sebanyak 15 komponen senyawa PAH prioritas Environment Protection Agency (EPA). Kadar total senyawa PAH dari 12 stasiun penelitian di perairan Laut Timor-Arafura berkisar antara 54.46 sampai 213.7 µg/l dengan rataan total sebesar 99.75 µg/l di air laut permukaan dan antara 23.63 sampai 24.5 mg/kg berat kering di sedimen dengan rataan total  24.06 mg/kg berat kering sedimen. Kadar ini sudah melebihi ambang batas baku mutu kualitas perairan untuk biota sebesar 30 µg/l oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tahun 2004 dan sebesar 0.8 mg/kg untuk kualitas sedimen dalam Draft Baku Mutu KLH 2010.

Kadar PAH di Laut Timor-Arafura tersebut, yang diukur Mei 2010, secara umum konsentrasinya jauh lebih tinggi dari perairan lainnya di Indonesia, dan juga jauh dari beberapa perairan internasional. Hal ini didasarkan dari penelitian-penelitian sebelumnya oleh peneliti yang lain. Perairan lain di indonesia tersebut antara lain di Teluk Klabat-Bangka (Maret dan Juli 2006), Pantai Sangatta Kalimantan Timur (1999); Perairan Balikpapan Kalimantan Timur (1999), Teluk Mayalibit – Raja Ampat (November 2008), Teluk Lampung (2008). Sedangkan perairan internasional tersebut diatas antara lain di Elelenwo Creek Nigeria Selatan (Februari 2006 - 2007), Perairan Rhode Island USA (1996), Samudera Atlantik Selatan (2008), Teluk Biscay dan lepas pantai barat Laut Afrika (2008).

Hasil analisis rasio menunjukkan bahwa sumber PAH dari laut Timor-Arafura secara umum bersifat petrogenik yaitu bersumber dari tumpahan minyak mentah, pembakaran minyak mentah, dan minyak diesel.

Kondisi terdekat dari saat penelitian ini, 10 - 20 Mei 2010, dilakukan di perairan Laut Timor adalah peristiwa ledakan sumur minyak dan ladang gas Montara di Blok Atlas Barat pada 21 Agustus 2009. Hal ini mengindikasikan bahwa wilayah perairan Indonesia di Laut Timor positif tercemar minyak mentah.

Fakta Temuan Hasil Pemantauan 18-23 Agustus 2010

Konsentrasi PAH teranalisis, menggunakan 16 komponen senyawa PAH, dari pengambilan sampel di 12 stasiun selama 20-22 Agustus 2010. Ditemukan bahwa konsentrasi PAH di sekitar Pulau Rote, di stasiun T1-T10 dan T12, telah melewati baku mutu lingkungan hidup.

Senyawa PAH secara umum yang ditemukan di Laut Timor termasuk senyawa PAH dengan berat molekul besar, yang bersifat karsinogenik.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 'karsinogenik' atau “/karsinogénik/” mempunyai definisi/arti kata  “menyebabkan penyakit kanker”. Terminologi karsinogenik ini adalah salah satu sifat dari klasifikasi B3 tercantum di Pasal 2 Ayat 2 Butir “m” pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 03 Tahun 2008 Tentang Tata Cara Pemberian Simbol dan Label Bahan Berbahasa dan Beracun. Sifat karsinogenik berdasarkan rujukan International Agency for Research on Cancer (IARC).

Kesimpulan

Laut Timor, termasuk perairan di sekitar Pulau Rote, pasca meledaknya Montara 2009 hingga Agustus 2010, adalah tercemar oleh minyak mentah Montara, berdasarkan fakta temuan: Kualitas air hasil pemantauan 23 Oktober 2009 yang melewati baku mutu lingkungan hidup; Kualitas air hasil pemantauan 3-6 November 2009 yang melewati baku mutu lingkungan hidup, dan sedimen yang bersifat toksis oleh minyak mentah dari sumur Montara; Konsentrasi PAH terlarut di air dan sedimen hasil pemantauan Mei 2010 yang melewati baku mutu lingkungan hidup; Konsentrasi PAH terlarut di air hasil pemantauan Agustus 2010 yang melewati baku mutu lingkungan hidup.

Demikian yang disarikan dari berbagai laporan teknis dan artikel ilmiah oleh Dr. Widodo Pranowo untuk dilaporkan kepada Kementerian Koordinator Bidang Maritim, pada 23 – 24 Maret 2017, di Depok pada acara Focus Group Discussion (FGD) Sengketa Montara.

Berita Terkait :