Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;


Jakarta 20 Maret 2017. Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan, nomenklatur lama jauh sebelum bernama Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan seperti saat ini, adalah sebagai Wakil Ketua Tim Advokasi Penanganan Pencemaran Tumpahan Minyak Akibat Meledaknya Sumur Pengeboran Ladang Minyak Montara 2009.  KKP aktif bersama dengan kementerian dan lembaga lainnya melakukan tindakan responsif dalam memantau sejauh manakah tumpahan minyak memasuki wilayah ZEE Indonesia bahkan masuk ke perairan teritorial Indonesia. Tumpahan minyak akibat ledakan oil rig Montara di West Atlas Australia pada tanggal 21 Agustus 2009 tersebut dipantau oleh  Balai Riset dan Observasi Kelautan (nomenklatur lama dari Balai Penelitian Observasi Laut) secara kontinyu sejak awal September. Terpantau bahwa laju tumpahan minyak Montara, cenderung menuju arah barat-laut dari sumber ledakan. Terlihat tumpahan minyak mengalami dispersi yang cukup luas. Pantauan dan perekaman citra satelit dilakukan hingga Nopember 2009.

Posisi tumpahan minyak terdekat (surfacial) dengan daratan berjarak 67.698 km (37.76 Nm) arah tenggara dari Pulau Rote, NTT pada tanggal 10 September 2009.

Pada saat itu, Tim BROK mengestimasi, jika pergerakan minyak ini berlanjut mengikuti arus permukaan laut yang dominan ke arah barat - barat-laut (WNW) sepanjang Agustus – akhir September, dilanjutkan trend mengarah timur sejak awal Oktober bisa terjadi paling tidak tiga kemungkinan.

Kemungkinan pertama adalah diestimasi bahwa tumpahan minyak akan semakin mendekati P. Rote, selanjutnya masuk wilayah KKP Laut Sawu. Kemungkinan kedua, bahwa tumpahan minyak mengalami deposisi ke lapisan air laut yang lebih dalam (laut dalam). Terdapat kemungkinan lainnya, bahwa dengan asumsi volume bocoran minyak bumi mencapai 500 ribu liter per hari (AMSA-Australian Maritime Safety Authority), maka tidak tertutup kemungkinan tumpahan minyak yang terlihat / sudah ada sebelumnya mengalami penyebaran atau deposisi dengan pola berbeda.

BROK-BRKP pada rapat di Departemen Luar Negeri memberikan rekomendasi teknis bahwa untuk pembuktian pencemaran laut yang lebih detail dengan melakukan survei laut, pengambilan citra satelit resolusi sangat tinggi & radar aktif (time-series), pengambilan sample air laut & biota di berbagai lokasi dan kedalaman, pengukuran arus, survei nelayan penangkap ikan, survei dampak lingkungan. Hal ini dikarenakan ekosistem laut dan pesisir, berikut masyarakat nelayan/pembudidaya sebagai korban pencemaran adalah sebagai tanggungjawab KKP.

Pada tanggal 18-23 Agustus 2010, KKP menggelar "Timor Sea Rapid Assessment" (TISRA) Operation. TISRA Operation yang dilaksanakan dalam rangka verifikasi tumpahan minyak Montara di perairan Timor dengan melakukan survei mengelilingi perairan pesisir Pulau Rote. Pelaksanaan survei tersebut adalah bersamaan waktunya dengan perjuangan Tim Advokasi Nasional dalam penuntutan ganti rugi, pertemuan kedua, di Australia. Pada saat itu, BROK mengirim beberapa penelitinya, untuk melakukan sampling air dan biota di daerah perairan Laut Timor, Pulau Rote dan Pulau Sabu. Para peneliti tersebut adalah Elvan Ampou, Iis Triyulianti, Faisal Hamzah, Suciadi Catur Nugroho, Yoke Hany dan Nyoman surana. Tim survei dibagi menjadi 2 tim, yakni tim pesisir dan tim laut.

TISRA Operation dilakukan dengan menggunakan Kapal Patroli Perikanan milik KKP Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). Direktur pada Direktorat Pengawasan Sumber Daya Kelautan, Dr. Hartanta Tarigan, pada saat itu mengijinkan perjalanan dimulai untuk sampling dimulai hari Jumat tanggal 20 Agustus 2010 dengan menumpang KM Hiu Macan Tutul.

Pada akhir tahun 2014, melalui program "Infrastruktur Development for Space Oceanography", dilakukanlah analisis ulang terhadap arsip citra satelit radar oleh Dr. Widodo Pranowo bersama Beatrice Nhun Fat dari CLS, memverifikasi kejadian tumpahan minyak Montara. Hasilnya telah dipresentasikan pada acara APEC PRAOS di Korea pada 2014.

Pada Oktober 2016, melalui survei laut untuk penyusunan basis data pulau terdepan Pulau Rote, disempatkan pula untuk melakukan pencarian sisa jejak tumpahan minyak Montara 2009. Didapatkan sejumlah residu minyak tertempel terumbu karang di lokasi yang bernama Mulut Seribu, tepatnya di Desa Daiama, Kecamatan Rote Timor. Hingga saat ini masih menantikan konfirmasi dari LEMIGAS Badan Litbang Kementerian ESDM apakah minyak tersebut adalah sisa jejak tumpahan minyak Montara.

Selain itu pada kurun waktu 2010 hingga 2012, P3SDLP sebagai nomenklatur lama dari Pusat Riset Kelautan telah aktif dalam pertemuan negosiasi tuntutan ganti rugi akibat pencemaran laut oleh tumpahan minyak Montara 2009.

Demikian yang dilaporkan Dr. Widodo Pranowo kepada Kementerian Koordinator Bidang Maritim, 16-17 Maret 2017 pada rapat diskusi Kasus Montara 2009 di Hotel Margo Depok.

Berita Terkait :