Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Jakarta, 28 November 2016. Masih suasana mendung di pagi hari, terdapat suatu kesibukan di Gedung Badan Litbang KP 1 tepatnya di Ruang Auditorium Lobster Lantai 4. Forum Group Discussion dengan tema “Lokasi Potensial Perikanan Tangkap”, FGD yang diadakan oleh Bdan Litbang KP ini di pimpin langsung oleh Dr. Ir. Estu Nugroho, M.Sc. Kepala Bidang Program dan Kerjasama, Sekretariat Badan Litbang KP. Pada kesempatan pertama Prof. Dr. Ir. Wudianto, M.Sc. yang merupakan Peneliti Utama di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, memaparkan mengenai “Potensi Perikanan di Wilayah Pengeolaan Perikanan”, dalam pemaparannya Prof. Wudi mengatakan bahwa output dari pertemuan ini adalah  untuk menentukan pendugaan secara cepat atau lebih sering disebut dengan Rapid Assesment untuk 100 lokasi perikanan tangkap melalui data sekunder, dengan melaksanakan model kajian/studi kasus lokasi berdasarkan hasil tangkapan maupun budidaya. Lokasi yang ditentukan berdasarkan Inpres no 7 tahun 2016 mengenai Percepatan Pembangunan Industri Perikanan. Yang juga bertujuan untuk mengidentifikasi sumberdaya lingkungan, teknologi, sosial dan ekonomi di wilayah tangkap. Lokasi prioritas berdasarkan lokasi SKPT (Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu) serta 817 Pelabuhan Perikanan yang berada di seluruh Indonesia. Penentuan lokasi potensi tersebut mengacu pula pada “Estimasi Potensi” yang terdapat pada Keputusan Menteri KP no 47 tahun 2016, hasil kesepakatan bersama bahwa nilai MSY yang berada diatas 1 merupakan kawasan yang tidak boleh dilaksanakan kegiatan penangakapan dalam hal ini berada pada “Status Quo”. Selain itu penentuan daerah potensi tangkapan ikan juga berdasarkan: densitas ikan, fishing ground, wilayah tangkapan dengan habitat spesifik perikanan, dan daerah penangkapan informasi dari nelayan.

Pemaparan berikutnya yaitu mengenai “Potensi Perikanan Perairan Umum Darat (PUD)” yang disampaikan oleh Prof. Dr.Ir.Husnah,M.PHIL. yang merupakan peneliti utama di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Secara umum Prof. Husna menjelaskan mengenai PUD yaitu perairan yang ada di daratan, dari hulu hingga titik pasang-surut terendah yang merupakan milik umum dan bukan milik perorangan, seperti tambak dan lain-lain, terdapat 55.200.000 Ha yang dibagi dalam 14 KPP (Kawasan Pengelolaan Perikanan). Tujuan dari PUD ini adalah untuk ketahanan pangan nasional, hal ini seperti yang dikemukakan oleh Prof. Husnah bahwa lokasi strategis PUD merupakan sebagai Culture Bassed Fisheries (untuk peningkatan produksi) dan pengembangan kawasan yag dikelola oleh SKPT sebagai nilai tambah dari PUD itu sendiri.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Laut dan Pesisir memalui unit pelaksana teknisnya juga telah mengembangkan peta potensi daerah penangkapan ikan atau yang lebih sering disebut dengan PPDPI, peta yang dikeluarkan oleh Balai Penelitian dan Observasi Laut ini didasarkan pada hasil interpretasi dari beberapa komponen-komponen yang diduga sebagai indikator tentang keberadaan ikan tersebut, selain PPDPI terdapat peta prakiraan Pelikan (Peta Lokasi Penangkapan Ikan) Tuna, Pelikan Cakalang, dan Pelikan Lemuru.