Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;


Jakarta – 31 Oktober 2016, Sekembalinya tim survei “Penyusunan Basis Data Laut dan Pesisir di Pulau Rote” membawa beberapa data dan sampel yang akan dianalisis, disimpulkan, dan akan disusun menjadi bagian dari basis data laut dan pesisir yang nantinya akan meng”cover” seluruh perairan Indonesia. Dalam pelaksanaan kegiatan lapangan yang dilaksanakan selama lebih dari 1 minggu tersebut tim dibagi menjadi 3 kelompok, yang masing-masing kelompok memiliki tugas di “alam” yang berbeda, kelompok-kelompok tersebut antara lain: Kelompok Kualitas Air, Kelompok Terumbu Karang, dan Kelompok Mangrove dan Pencemaran Minyak. Kelompok Mangrove dan Pencemaran Minyak ditujukan untuk melaksanakan kegiatan Transek Mangrove yang tesebar disekitar Pulau Rote bagian Timur khususnya didaerah Desa Daiama (Mulut Seribu) dan di Barat Laut Desa Pukuafu, serta mencari jajak minyak yang terindikasi merupakan cemaran minyak pengeboran lepas pantai West Atlas yang meledak dan terbakar pada tahun 2009 silam. Pengeboran lepas pantai yang dimiliki oleh Montara tersebut meledak dan terbakar pada 21 Agustus 2009, yang melepaskan minyak mentah ke perairan sekitar Laut Timor, yang berdekatan dengan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Sebagaimana yang dilansir oleh Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia menyatakan bahwa ”Gumpalan minyak yang telah terurai teramati pada 21 September, sekitar 94 kilometer sebelah tenggara Pulau Rote. Penerbangan di atas mengindikasikan yang terdapat di ZEE Indonesia utamanya adalah lapisan minyak, dengan kadang kala gumpalan kecil minyak yang telah terurai. Bagian utama tumpahan minyak kini berada lebih dari 248 kilometer dari garis pantai Indonesia”. Menurut penuturan warga sekitar yang memiliki keramba jaring apung dan pembudidaya rumput laut, memang pernah terjadi laut terdapat lapisan hitam dan menempel pada jaring dan ladang-ladang rumput laut warga. Berdasarkan data statistic yang diperoleh dari dinas Kelautan dan Perikanan menyatakan bahwa terjadinya penurunan hasil produksi rumput laut semenjak terjadinya pencemaran minyak yang terjadi pada 7 tahun silam. Kepala Dinas KP Kabupaten Rote-Ndao tersebut menuturkan bahwa saat ini hasil produksi rumput laut mulai tumbuh lagi. Rumput laut merupakan komoditas utama hasil laut yang dibudidayakan secara tradisional oleh warga Kab. Rote-Ndao, terutama warga disekitar pesisir. Tim Mangrove dan Pencemaran Minyak medapatkan informasi tentang titik koordinat mengenai sisa-sisa hasil tumpahan minyak yang terjadi hampir satu dasawarsa tersebut. Tim berhasil menemukan satu titik yang terdapat “tar” yang diduga terindikasi sebagai sisa hasil cemaran tumpahan minyak Montara, di sekitar pelabuhan nelayan tradisional Desa Daiama sebanyak lebih kurang 150 mL, selanjutnya tim mencari ketitik-titik berikutnya namun hasilnya nihil, sementara hilangnya sisa minyak tersebut kemungkinan diakibatkan oleh limpasan air fenomena pasang surut dan semakin lebatnya tanaman mangrove yang tumbuh disekitar dinding laut (seawall) yang menjadikan medan susah untuk ditembus guna mencari setetes minyak untuk verifikasi.

Baca berita terkait:

1. Jurnal Survei Rote 2016: Reorientasi Lokasi Survei Mangrove & Karang

2. P3SDLP bersama DKP dan BKKPN Rote Akan Berkolaborasi dalam Penyusunan Basis Data di Pulau Rote

3. Dinamika Massa Air Perairan Pulau Rote Dianalisis