MINYAK hitam (sludge oil) mencemari pantai di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Polusi minyak ini membentang sepanjang 12.170,2 meter. Lokasinya di pantai Bintan bagian utara dari Resort Nirwana (bagian barat) hingga Rerot Bintan Lagoon (bagian Timur). Desa Sebong Pereh hingga Desa Sakera tak luput dari dampak pencemaran ini. Begitu pula di Desa pengundang dan Berakit.

Berbagai upaya telah dilakukan pengelola resort dengan mengurangi limbah ini agar kenyamanan pengunjung tidak terusik. Caranya, dengan mengumpulkan limbah ke dalam drum dan akan diambil oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Riau. Tim Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Satker Tanjungpinang bersama dengan PSDKP Kota Tanjugpinang, pada Senin (18/3) turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi pantai yang tercemar minyak hitam tersebut.

Tahun lalu, Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga telah menelusuri jejak tumpahan minyak di Bintan dan Batam. Ketika tim menyusuri pantai, terlihat dengan jelas jejak tumpahan minyak yang menempel di bebatuan sepanjang pantai.

Di bagian lain, tampak lapisan minyak di pasir. Ketika pasir ini digali, muncul lebih banyak minyak hitam. Kepala Laboratorium Data Laut & Pesisir Pusat Riset Kelautan Badan Riset dan SDM KKP Dr Ing Widodo S Pranowo mengatakan, Pusat Riset Kelautan telah melakukan survei lokasi dan kajian dan menemukan banyak tumpahan minyak di pantai.

Penelusuran tim KKP untuk mencari jejak tumpahan minyak (oil spill) pada Mei dan Agustus 2018 lalu. Survei “Kajian Kepekaan Wilayah Perairan Bintan-Batam Terhadap Sebaran Tumpahan Minyak” berada di sejumlah lokasi. Seperti di pesisir Batu Merah, Tanjung Pinggir, Turi Beach Resort, Teluk Mata Ikan dan pantai utara Pulau Batam.*

Sumber Berita : darilaut.id