Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Jajak Pendapat Tim Kemenkomarvest beserta Peneliti BRSDM KKP dengan Gubernur Jawa Tengah

E-mail Print PDF


Terbitnya Perpres Nomor 18 Tahun 2020 terkait percepatan implementasi Major Project RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) Tahun 2020-2024 nomor 27 yaitu pengamanan pesisir 5 perkotaan di Pantura Jawa, diantaranya adalah kawasan pesisir Kota Semarang dan Kabupaten Demak. Tim dari Asisten Deputi Infrastruktur Dasar, Perkotaan, dan Sumber Daya Air, Deputi Infrastruktur dan Transportasi, Kemenko Kemaritiman dan Investasi mengikutsertakan Peneliti Geologi Laut Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP)-Pusat Riset kelautan-BRSDMKP-KKP, Wisnu Arya Gemilang S.T., melaksanakan koordinasi dan kunjungan kerja untuk meninjau infrastruktur dan bangunan pantai di Kota Semarang, Kabupaten  Demak dan Kabupaten Kendal. Kegiatan koordinasi dan kunjungan lapangan dilaksanakan dari tanggal 29 September hingga 01 Oktober 2020. Koordinasi terhadap beberapa pemerintah daerah terkait diantaranya BAPPEDA Kota Semarang, serta kegiatan koordinasi di Kabupaten Demak bersama Bappeda Litbang, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas PU  dan Binamarga Kab.Demak dengan tujuan melakukan sinkronisasi progress implementasi Major Project RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) Tahun 2020-2024.

Kegiatan peninjauan langsung ke beberapa lokasi rencana pembangunan Harbour Tol Semarang-Kendal dan Harbour Tol Semarang-Demak yaitu meliputi kawasan pesisir di ketiga kota tersebut. Kegiatan peninjauan bertujuan untuk mengidentifikasi secara langsung permasalahan dan kelayakan pembangunan Harbour Tol Semarang-Demak sehingga diharapkan dapat memperoleh solusi untuk mengurangi hambatan terealiasnyai project tersebut. Hasil koordinasi dan kunjungan lapangan tim dari Asisten Deputi Infrastruktur Dasar, Perkotaan, dan Sumber Daya Air, Deputi Infrastruktur dan Transportasi, Kemenko Kemaritiman dan Investasi bersama peneliti LRSDKP kemudian dilaporkan kepada Gubernur Jawa Tengah yaitu Ganjar Pranowo, untuk memperoleh arahan dan sinkronisasi terkait implementasi Major Project RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) Tahun 2020-2024.


Pertemuan yang dilaksanakan di Puri “Gedeh” antara tim dari Asisten Deputi Infrastruktur Dasar, Perkotaan, dan Sumber Daya Air, Deputi Infrastruktur dan Transportasi, Kemenko Kemaritiman dan Investasi bersama peneliti LRSDKP dengan Gubernur Jawa Tengah terdapat beberapa point penting yang disampaikan. Asisten Deputi Infrastruktur Dasar, Perkotaan, dan Sumber Daya Air, Dr. Eng. Ir. Rahman Hidayat, M.Eng memaparkan hasil koordinasi dan tinjauan lapangan secara langsung pantura Jawa Tengah  kepada Gubernur Jateng. Selain itu Dr. Eng. Ir. Rahman Hidayat, M.Eng juga memohon arahan darI Bapak Ganjar Pranowo terkait pengembangan Kawasan Industri Batang dan Kawasan Industri Brebes, arahan kebijakan pembangunan Harbour Tol serta permasalahan pesisir Kab.Demak yang harus dilakukan penanganan khusus dan cepat sebelum proses implementasi pembangunan Harbour Tol Semarang-Demak.

Selaku Gubernur Jawa Tengah yang memiliki wewenang serta memahami arahan kebijakan, Bapak Ganjar mengatakan bahwa project pengembangan Kawasan Industri Brebes harus lebih diutamakan dibandingkan Batang, mengingat dengan adanya pengembangan KI Brebes dapat meningkatkan perekonomian masyaraka setempat. Namun pada pelaksanaannya masih terbentur beberapa hambatan diantaranya terkait proses pembebasan lahan, sehingga sangat dibutuhkan upaya koordinasi yang tepat antara pemerintah daerah Kab.Brebes dengan pemerintah pusat untuk penyelesaian masalah tersebut. Konsep Harbour Tol Semarang-Demak, Semarang-Kendal yang diingkan Ganjar adalah bukan melakukan reklamasi laut secara utuh/keseluruhan, namun hanya sebagain kecil lahan pesisir laut yang akan direklamasi karena diharapkan dengan konsep tersebut dapat mengurangi resiko penurunan muka tanah, serta adanya tambahan reservoir untuk air setelah lahan dikeringkan. Selain itu Indra Hermawan S. Pi, M.Si, Kepala Bidang Infrastruktur Perkotaan, Asdep Deputi Infrastruktur Dasar, Perkotaan, dan Sumber Daya Air, mengingatkan kepada Gubernur Jateng terkait proses realiasi penanganan rob di Pekalongan agar dapat segera dilakukan, dengan adanya pendampingan oleh Pemda Provinsi Jateng, PUPR dan Pemda Pekalonan sehingga diharapkan dapat segera di realisasikan mengatasi Rob di Kota Pekalongan.

Adapun Keseluruhan hasil pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah yang didampingi oleh Kepala Dinas BAPPEDA dan Asisten 2 Gubernur diharapkan adanya tindak lanjut dan koordinasi lebih intensif terkait percepatan implementasi Major Project RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) Tahun 2020-2024 di Jawa Tengah dengan pemerintah pusat. (Editor : Tim LRSDKP)


Last Updated on Monday, 19 October 2020 17:57
 

Peneliti Pusat Riset Kelautan Dr. Anastasia Kuswardani Diusulkan Menjadi Ketua Harian Konsorsium Riset Samudera

E-mail Print PDF

Jakarta, 19 Oktober 2020. Konsorsium Riset Samudera telah dideklarasikan dalam sebuah Piagam Pembentukan Konsorsium Riset Samudera pada 26 September 2017. Konsorsium ini diinisiasi oleh perwakilan dari LIPI, BPPT, BMKG, KKP, ESDM, BIG, Pushidros TNI-AL, LAPAN dan perguruan tinggi. Pada piagam tersebut disemangati bersama akan dilakukan penguasaan data kelautan di ZEE dan landas kontinen, akan dioptimalkan pemanfaatan biodiversitas laut dan sumber daya alam kelautan di pulau-pulau terdepan, akan ditingkatkannya kolaborasi rsiet atar Lembaga riset kelautan nasional, akan lebih dikuasainya iptek interaksi antara laut dan atmosfer serta dampak perubahan iklim. Disemangatkan juga inventarisir sarpras riset samudera yang telah dimiliki secara nasional, kemudian disusun master plan riset samudera secara integratif dengan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Sebagai tindak lanjut rencana penguatan Konsorsium Riset Samudera pada tahun 2020 hingga 2024, maka dilakukan rencana penyusunan desain besar (grand design) riset kemaritiman.

Pada Senin, 19 Oktober 2020, melalui metode video conference, dilakukan rapat dengan agenda pembahasan berupa Agenda Riset 1 (AR-1) yakni tentang pertahanan dan keamanan maritim, dan AR-2 tentang pemanfaatan ruang laut.

Diskusi tersebut dipimpin oleh Dr. Anastasia Rita Tisiana Dwi Kuswardani, peneliti Bidang Oseanografi Fisika Pusat Riset Kelautan KKP, yang diusulkan sebagai Ketua Harian atau Sekretaris Eksekutif Konsorsium Riset Samudera. Adapun sebagai Ketua KRS adalah Deputi Bidang Sumber Daya Alam Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Dr. Safri Burhanudin, DEA.


Last Updated on Monday, 19 October 2020 11:43
 

Peneliti BROL Dr. Bambang Sukresno Rekomendasikan Pembangunan di Letti dan Kisar Perlu Pertimbangkan Interaksi Laut dan Atmosfer

E-mail Print PDF

JAKARTA – Pengembangan wilayah Pulau Letti dan Pulau Kisar yang diupayakan pemerintah, disambut baik para peneliti. Selama pengembangannya disesuaikan dengan hasil analisa pada variabel kelautan dan sumber daya yang berkelanjutan.

Peneliti Penginderaan Jauh Kelautan, Balai Riset Observasi Laut (BROL), Dr. Bambang Sukresno, M.Si, menyatakan, dalam proses pembangunan suatu daerah, maka yang perlu diperhatikan adalah sumber daya alamnya. “Jadi untuk Pulau Letti dan Pulau Kisar ini, yang harus diperhatikan adalah potensi perikanannya. Sehingga, pengembangan wilayahnya bisa terjamin. Misalnya, data potensi ikan,” kata Bambang dalam salah satu talk show online, Sabtu (17/10/2020).

Dari data, lanjutnya, tercatat di kawasan Maluku Barat Daya ini, memiliki potensi ikan yang cukup besar setiap tahunnya. Yaitu, pelagis besar, pelagis kecil dan demersal dengan nilai potensi secara berurut adalah 528,42 ton, 1.036 ton dan 975,5 ton dalam periode tahunan. “Jumlah penduduk yang tercatat menggantungkan hidupnya pada sumber daya ini adalah 12,51 persen dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Data tahun 2019, menunjukkan adanya 134 nelayan di Kisar Utara dengan perahu tanpa motor 78 buah, perahu motor tempel 28 buah, kapal motor 1 dan 581 nelayan di Letti dengan perahu tanpa motor 287 buah, perahu motor tempel 222 buah dan kapal motor 24,” ujarnya. Komoditas perikanan tangkap yang tercatat di perairan Maluku Barat Daya meliputi Lalosi (ekor kuning – Caesio sp), cakalang, komo (tongkol), momar (layang), geropa (kerapu) dan gaca (kakap).

“Yang perlu ditekankan adalah semua itu adalah data ikan yang ada. Tapi untuk memastikan peta prakiraan daerah penangkapan ikan maka perlu mempertimbangkan faktor lingkungan, karakteristik oseanografi dan data satelit, yang memanfaatkan teknologi observasi laut, penginderaan jauh kelautan dan pemodelan laut,” papar Bambang. Untuk oseanografi, yang menjadi variabel datanya adalah data suhu permukaan laut, data tinggi muka air laut, data klorofil-a, data salinitas serta data kecepatan angin dan tinggi gelombang. Untuk penginderaan jauh kelautan, variabel datanya adalah skin temperature, bulk temperature dan sub-surface temperature yang akan memberikan informasi terkait upwelling, arus Eddy, siklon hingga ENSO, IOD dan ITF. “Semua data ini akan diaplikasikan untuk memahami sumber daya, perubahan iklim, perairan dan kelautan hingga ekosistem dan pariwisata,” ucapnya.

Salah satu hasil pengaplikasian data ini adalah terlihat bahwa pada musim barat di Pulau Kisar dan Pulau Letti, daerah selatan akan memiliki ikan pelagis kecil lebih banyak dibandingkan daerah utara. Dan saat musim timur, yang terjadi adalah sebaliknya. Serta saat musim peralihan, jumlah ikan akan berada di bawah jumlah yang dicatatkan pada musim barat dan musim timur.

“Tapi data ini tidak permanen. Karena ada pengaruh variabel oseanografi. Di sini pentingnya data harian bagi para nelayan yang akan menangkap ikan pelagis kecil. Salah satu yang mempengaruhi adalah arus laut. Dan analisa pada pergerakan distribusi pelagis kecil ini, juga bisa dilakukan untuk pelagis besar dan ikan demersal,” ucapnya.

Data lainnya yang harus dipertimbangkan juga, menurut Ahli Fisika Oseanografi Pusat Penelitian Laut Dalam, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Johanis D Lekalette, SSi, MSi, adalah fenomena alam dari kondisi geografis kedua pulau ini. Secara geografi, Pulau Letti dan Pulau Kisar berada pada sisi selatan Laut Banda. Dan data menunjukkan bahwa pasang surut memiliki pengaruh cukup besar pada kegiatan di kedua pulau ini. Dalam artian, kebijakan pembangunan pantai seperti dermaga maupun pasar apung, haruslah mempertimbangkan data-data ini. “Berdasarkan analisa konstanta harmonik pasut (red: pasang surut) dalam metode Admiralty menunjukkan ada perbedaan antara bulan Januari, April, Juni dan Oktober dan kecenderungan pasutnya adalah campuran dan tinggi airnya juga tidak beraturan,” urainya.

Iklim Maluku Barat Daya secara keseluruhan adalah iklim laut tropis dan iklim monsun. Dan perubahan metrologi dapat berlangsung cepat bergantung pada musim yang dipengaruhi oleh Laut Banda, Laut Arafura dan Samudera Indonesia.

“Suhu udara, terpantau rerata 27,6 derajat Celcius dengan suhu minimum absolut 21,8 derajat Celcius dan suhu maksimum absolut 33,0 derajat Celcius. Suhu terendah, tercatat pada Juni 2014 yaitu 22,7 derajat Celcius pada bulan Juni dan tertinggi pada 31,7 derajat Celcius juga pada November 2014, yaitu pada saat El Nino terjadi,” urainya lagi.

Last Updated on Monday, 19 October 2020 13:47 Read more...
 

Pusat Riset Kelautan Bersama Kemenko Marves Dorong Kebangkitan Wisata Bahari Taman Nasional Laut Karimunjawa

E-mail Print PDF



Bertepatan dengan dibuka kembalinya kawasan Taman Nasional Laut Karimunjawa setelah selama 7 bulan ditutup akibat pandemi Covid-19,  pada hari Jumat 16 Oktober 2020, para peneliti dari Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) melaksanakan survey lapangan kegiatan riset Kajian Pengembangan Kawasan Ekoeduwisata Bahari Di Pulau Cemara Besar, Karimunjawa. Koordinator kegiatan Yulius M.Si, telah berhasil melaksanakan survey bersama  anggota tim Pusriskel yang terdiri atas: Dr. Taslim Arifin, S.P, M.Si, (Peneliti Madya) Dr. Muhammad Ramdhan, S.T, M.T (Peneliti Muda), Dino Gunawan Pryambodo, M.T (Peneliti Muda), Peter Mangindaan, M.Si. (Teknisi), Joko Subandrio ST. (Teknisi)  serta dua mahasiswa yaitu Nur Kholik Kurniana Putra (Universitas Dipenogoro, Semarang) dan Yeremia Edgar Aprilio (Universitas Brawijaya, Malang).

Pemerintah daerah Kabupaten Jepara menyatakan bahwa pembukaan pariwisata Karimunjawa ini masih terbatas. Pengunjung Taman Nasional Karimunjawa hanya dibatasi 100 wisatawan per minggu. Pada awal pembukaan ini, selain tim survey Pusriskel, Pulau Karimunjawa juga menerima kedatangan kunjungan kerja dari kementerian koordinator kemaritiman dan investasi (Kemenko Marves) yang dipimpin oleh Bpk. Rahman Hidayat (Asdep infrastruktur dasar, perkotaan dan sumberdaya air deputi-3-Kemenko Marves) yang bertujuan melihat kesiapan infrastruktur pariwisata di Kepulauan Karimunjawa.

Pada diskusi yang telah terjadi di lapangan. Pihak Kemenko Marves sangat menantikan hasil penelitian tim riset pusriskel di P. Cemara Besar berupa data perubahan garis pantai di P. Cemara besar, Kondisi terumbu karang di sekitar P. Cemara Besar, Infrastruktur wisata yang telah tersedia di P. Cemara Besar, potensi sumberdaya air di P. Cemara Besar dan Rona awal lingkungan di P. Cemara Besar. Melalui data tersebut diharapkan mampu mendorong kebangkitan wisata bahari Taman Nasional Laut Karimunjawa di masa yang akan datang.


Last Updated on Monday, 19 October 2020 06:40
 

Kepala Pusat Riset Kelautan Jelaskan Pentingnya Riset Dasar Laut

E-mail Print PDF


JAKARTA – Perkembangan teknologi Batimetri menjadikan proses pemetaan dasar laut dalam rangka mengembangkan potensi kelautan dan perikanan menjadi lebih mudah dan akurat. Data terkait dasar laut dan fenomena alam di sekitar pesisir, akan mampu mewujudkan suatu pembangunan yang berkelanjutan, sekaligus mampu mengantisipasi potensi bencana.

Kepala Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP), Nia Naelul Hasanah Ridwan, SS., M.Soc., Sc., menyatakan pemetaan dasar laut memiliki peran besar dalam proses pengenalan fenomena yang terjadi di pesisir pantai. “Pemetaan dasar laut ini memiliki esensi dalam pemodelan, memahami fenomena tsunami, abrasi, sedimentasi untuk melihat gambaran yang lebih lengkap. Juga untuk riset sumber daya nonhayati, seperti kapal karam, terkait lokasi maupun posisi kapal tersebut aman atau tidak,” kata Nia dalam workshop online LRSDKP, Jumat (16/10/2020).

Dengan berkembangnya teknologi pemetaan laut yang ada saat ini, proses pemetaan dan riset kelautan menjadi lebih detail dan mampu memberikan hasil yang lebih akurat. “Artinya, setiap riset yang dilakukan akan mampu memberikan sumbangsih pada kebijakan pengembangan wilayah pesisir dan kelautan secara lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Kepala Pusat Riset Kelautan, I Nyoman Radiarta, S.pi., M.Sc., menjelaskan riset dasar laut menjadi sangat penting di Indonesia yang merupakan negara kelautan, dengan sumber daya kelautan yang sangat besar. “Potensi sumber daya ini dibarengi dengan potensi kerusakan sumber daya juga. Misalnya, seperti abrasi. Karena itu, pemetaan dasar laut menjadi sangat penting dalam kaitan pengembangan wilayah pesisir dan kelautan, seperti untuk penentuan jalur pelayaran, pemodelan hidrodinamika maupun penentuan situs sejarah bawah laut,” ungkapnya, dalam kesempatan yang sama.

Teknologi untuk pemetaan dasar laut atau yang dalam bahasa teknisnya dikenal sebagai Batimetri, dimulai sejak dulu dengan cara yang tradisional, yaitu dengan tali ukur yang menghasilkan tingkat keakurasian yang sangat rendah.

“Lalu, teknologinya berkembang menjadi pengukuran dengan menggunakan gelombang suara atau yang kita kenal dengan echo-sounder. Lalu, berkembang lagi dengan sistem penginderaan jauh dengan menggunakan ratio-band, yang mengekstrak hasil batimetri daerah pesisir maupun lautan,” urainya.

Penggunaan teknologi ini, tentunya diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam menyokong pemerintah dalam mengembangkan wilayah pesisir dan kelautan Indonesia. “Kajian topografi sudah dilakukan dalam kerentanan wilayah pesisir. Kolaborasi pun sudah dilakukan dengan pihak lembaga peneliti lainnya, maupun akademisi untuk mengolah data batimetri ini menjadi bagian pengembangan wilayah kelautan. Maupun penggunaan hasil kajian untuk dilanjutkan dengan kajian berikutnya yang lebih detail, dan membangun data batimetri nasional yang bisa digunakan oleh pihak-pihak terkait untuk dimanfaatkan,” papar Nyoman Radiarta.

Dalam pengaplikasiannya, Peneliti Geomatika Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir (LRSDKP), Guntur Adhi Rahmawan, ST., menyatakan teknologi Batimetri bisa digunakan dalam menterjemahkan kerentanan sumber daya pesisir yang beragam. “Ada sumber daya buatan dan jasa-jasa lingkungan yang memanfaatkan pasir, air laut, mineral dasar laut maupun objek bawah air. Contohnya, pelabuhan untuk transportasi maupun identifikasi muatan kapal karam. Atau sumber daya hayati seperti ikan, terumbu karang, padang lamun, mangrove maupun biota laut lainnya,” kata Guntur.

Berbagai sumber daya pesisir ini memiliki kerentanan, yang bisa dilihat dari aspek fisik, sosial kependudukan dan ekonomi. “Kerentanan ini menggambarkan tingkatan suatu sistem yang mudah terkena atau tidak mampu menanggulangi bencana. Misalnya, dalam menghadapi gelombang maupun perubahan iklim. Contohnya, rob yang terjadi di beberapa lokasi dekat pantai di Indonesia hingga tsunami,” urainya.

Guntur menjelaskan, untuk mempelajari risiko kerentanan ini, para peneliti kelautan mengembangkan batimetri, yang merupakan pemetaan kondisi dasar perairan dengan memanfaatkan teknologi akustik, yang berbasis gelombang suara maupun penginderaan jarak jauh. “Informasi ini bisa didapatkan dari 20 titik pemeruman, citra landsat, quickbird, peta yang berasal dari berbagai penelitian dasar laut oleh instansi berwenang, Batnas maupun Gebco. Setiap data ini memiliki perbedaan sesuai kebutuhan atau peruntukan,” ujarnya. Contohnya, dengan melakukan pemetaan di daerah Pangandaran, maka bisa diteliti daerah mana yang rentan karena pengaruh gelombang dan abrasi, serta prediksi tsunami yang mungkin terjadi di sepanjang selatan Jawa. “Atau menggunakan batimetri untuk mengamati tebalnya sedimentasi dan pola sebarannya untuk kepentingan pengerukan wilayah pendangkalan, atau pun pengerukan kolam pelabuhan. Misalnya, kajian Teluk Ambon,” ucap Guntur.

Yang terbaru, lanjutnya, salah satunya adalah kajian pengerukan pasir secara besar-besaran di daerah Serang dan penelitian kolam dermaga di Bungus, dalam rangka penambahan kapasitas kapal di Pelabuhan Mentawai. “Bahkan dengan data batimetri ini, juga bisa dideteksi pergerakan partikel sampah maupun peninjauan awal sebelum dilakukan pemasangan keramba apung,” tandasnya.

Sumber berita : Cendananews




Last Updated on Friday, 16 October 2020 20:08
 

Peneliti Pusat Riset Kelautan KKP Widodo Pranowo Berikan Analisis Penyebab Tenggelamnya Kapal Ikan KM Tanjung Permai Di Selatan Selat Bali

E-mail Print PDF

JAKARTA – Pelajaran penting yang harus diingat dari kejadian karamnya kapal ikan KM Tanjung Permai di Selat Badung, Selasa (6/10), bahwa kru kapal ikan sebelum berlayar harus selalu memperhatikan prakiraan cuaca, terutama angin, peringatan dini pola dan kecepatan angin, serta arah dan tinggi gelombang ekstrem dan menyesuaikan dengan kapasitas kapalnya.

Peneliti Oseanografi Terapan, Widodo Setiyo Pranowo, menyampaikan berdasarkan kronologis Tim SAR, diketahui kapal ikan KM Tanjung Permai berangkat dari Pelabuhan Benoa menuju ke Selat Badung, kemudian kehilangan kontak dengan kru darat pada 5 Oktober 2020 antara pukul 21.00 – 22.00 WIB, pada koordinat 08°55′ LS dan 115°1’5″ BT. “Yang pertama, terpikir kemungkinan besar kapal kena gelombang karena memang musim pancaroba. Ternyata angin masih bertiup dari arah selatan-tenggara. Kalau dimensi kapal tidak sebanding dengan karakter dimensi gelombang, maka besar kemungkinan kapal tidak akan stabil, terombang-ambing dan pecah,” kata Widodo, saat dihubungi Cendana News, Selasa (13/10/2020).

Berdasarkan analisis terhadap model arus permukaan laut, arus di Selat Badung kecepatannya berkisar antara 0,75 hingga 1,15 meter per detik menuju ke arah selatan. Arus di Selat Badung tersebut lebih rendah kecepatannya, bila dibandingkan dengan arus di Selat Lombo yang sama-sama bergerak menuju ke selatan, yakni ke Samudra Hindia. Kemudian, arus dari Selat Badung dan Selat Lombok tersebut berbelok ke barat menuju ke selatan Selat Bali dan selatan Banyuwangi dengan kecepatan 0,75 hingga 1,25 meter per detik.

“Ketika menilik kepada data pola angin, pada 5 Oktober hingga 8 Oktober 2020 pola angin bergerak dari arah selatan dan tenggara menuju ke arah utara dan timur laut. Area pembangkitan angin ini cukup panjang, karena berupa Samudra Hindia yang luas dan tanpa adanya pulau-pulau penghalang. Sehingga, kemudian angin ini membangkitkan gelombang signifikan dengan ketinggian antara 3,5 meter di Samudra Hindia, kemudian makin berkurang hingga menjadi 2,5 meter ketika mendekati Selat Bali dan sekitarnya,” urai Widodo.

Berdasarkan karakter arus dan gelombang pada kurun waktu 5 hingga 8 Oktober 2020 tersebut, dapat dianalisis dugaan penyebab tenggelamnya kapal ikan KM Tanjung Permai. “Dugaannya adalah kapal ikan tersebut lepas dari Teluk Benoa memasuki Selat Badung, kemudian kapal tersebut memang sengaja berlayar menuju ke selatan keluar dari Selat Badung untuk menuju ke Selat Bali atau ke arah Banyuwangi. Kapal ketika masih di Selat Badung masih lancar pelayarannya, karena searah dengan pola arus ke selatan, bahkan kecepatan kapal menjadi makin cepat karena adanya dorongan dari arus tersebut. Namun, ketika keluar dari Selat Badung ketika berlayar menuju ke arah Barat, gelombang memberikan masalah kepada kapal ikan tersebut,” ucapnya.

Gelombang dengan ketinggian antara 2,5 hingga 3 meter di sekitaran lintang 8,9 hingga 9,0 LS, kemungkinan menghantam lambung kiri kapal setiap 10 hingga 15 detik. “Ketinggian dan periode gelombang tersebut yang kemungkinannya menyebabkan air masuk ke dalam kapal, sehingga menyebabkan tenggelam,” kata Widodo.

Air bisa masuk ke kapal, karena tinggi kapal dihitung dari batas muka laut diduga hanya sekitar 1,69 atau maksimum 1,89 meter, yang artinya masih lebih rendah dari tinggi gelombang laut signifikan. Secara teoritik, kapal ikan dengan panjang berkisar 17 hingga 18 meter, seperti KM Tanjung Permai, akan stabil ketika mengarungi gelombang secara tegak lurus dengan karakter panjang gelombang antara 3,75 hingga 11 meter. Namun, yang terjadi adalah gelombang datang menghantam lambung kapal dari arah selatan, ketika kapal menuju ke arah barat. Sehingga, kestabilan kapal kemudian hanya bergantung dari lebar kapal terhadap karakter panjang gelombang. Dimensi lebar kapal KM Tanjung Permai diduga hanya berkisar 1,6 hingga 2 meter, sehingga jelas lebih pendek dari karakter gelombang dengan panjang antara 3,75 hingga 11 meter. “Selanjutnya, kapal mudah terombang-ambing dan dengan cepat terisi air laut, mengakibatkan mesin tidak sanggup menggerakkan kapal, atau bahkan mati, sehingga mengakibatkan tenggelam,” urainya.

Terkait adanya satu penumpang yang ditemukan di perairan Uluwatu, Widodo memperkirakan, arus lautlah yang membawanya hingga ditemukan oleh salah satu kapal wisatawan. “Koordinat hilangnya kontak antara kru darat dengan Kapal Ikan KM Tanjung Permai pada 5 Oktober 2020 pukul 21.00 – 22.00 WITA dijadikan rujukan asumsi lokasi kapal tenggelam dan sebagai titik awal dari hanyutnya korban. Ketika menilik kondisi arus selama periode 24 jam setelah kapal tenggelam, didapati pola arus bergerak ke arah utara menuju ke Selat Bali dengan kecepatan antara 0,14 hingga 0,15 meter detik. Sehingga dalam waktu 24 jam, korban yang selamat tersebut hanyut mengikuti arah arus hingga kemudian sampai di sekitaran perairan Uluwatu,” terangnya.

Widodo menekankan, bahwa ada banyak ‘lesson learned’ atau pelajaran berharga yang dapat diambil hikmahnya dari kejadian ini. “Kru kapal senantiasa harus mengecek ketersediaan jaket pelampung (life jacket), baik secara fungsional maupun jumlahnya yang harus memadai untuk seluruh kru kapal. Tidak hanya diperlukan keberanian dalam mengarungi laut, namun perhitungan dan pertimbangan akan keselamatan kru kapal dan kapal itu sendiri menjadi penting, hendaknya juga diprioritaskan,” pungkasnya.

Sumber Berita : Cendananews




Last Updated on Wednesday, 14 October 2020 14:36