Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Pusat Riset Kelautan Sharing Tips Penyusunan Basis Data Sederhana Pada Workshop Satu Data Ditjen PSDKP

E-mail Print PDF


Jakarta, 19 April 2018. Bertempat di RR Tuna, GMB 4 Lantai 15  tengah berlangsung workshop yang diselenggarakan oleh Dirjen PSDKP. Workshop satu data Dirjen PSDKP dilaksanakan selama 2 (dua) hari yaitu pada tanggal 19 - 20 April 2018, yang dihadiri oleh para pengawas baik dari Pusat maupun dari UPT di 14 lokasi. Ada pun narasumber terdiri atas Pusat data informasi dan statistik, PSDKP dan Pusris Kelautan yang diwakili oleh ketua kelompok peneliti bidang Oseanografi yaitu Dr. Widodo Pranowo. Dalam paparanya Dr. Widodo menjelaskan mengenai pentingnya data bagi pengawasan dan penggunaan terutama untuk verifikasi hasil riset dengan melakukan geotagging sehingga diperoleh informasi yang akurat. Dalam workshop tersebut pula Dr. Widodo mempraktikan penggunaan software sederhana dan demo plot data AIS dengan ODV untuk menggambarkan hasil parameter laut agar dapat dilihat lebih menarik dan menjadikan minat baca bagi orang yang melihatnya, serta membagikan informasi mengenai data-data yang dimiliki dan dipublikasikan oleh Pusris Kelautan.


Last Updated on Thursday, 19 April 2018 13:21
 

Surat Edaran : Pengurangan Penggunaan Kemasan Plastik

E-mail Print PDF




Last Updated on Thursday, 19 April 2018 08:34
 

Di Pusat Riset Kelautan Mahasiswi UNSOED Meneliti Dinamika Laut Utara Aceh

E-mail Print PDF


Jakarta, 19 April 2018. Laut Utara Aceh dan sekitarnya adalah objek penelitian yang unik bagi 2 (dua) orang mahasiswi Prodi Ilmu Kelautan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FPIK) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Hampir selama 3 (tiga) bulan, Sdri. Wanda Avia Pasha dan Sdr. Nur Anisah mengolah data runtut waktu secara spasial dan temporal data-data oseanografi dan meteorologi. Analisis statistik mereka lakukan untuk mencari hubungan antara parameter massa air dan nutrien terlarut dengan ENSO (El Nino Southern Oscillation). Selama penelitian di Pusat Riset Kelautan, kedua mahasiswa tersebut, secara rutin berkonsultasi dengan Tim Laboratorium Data Laut dan Pesisir. Pada Selasa 17 April 2018, bertempat di ruang rapat lantai 6 Gedung II BRSDM KP, kedua mahasiswa tersebut melakukan sidang skripsi yang dipimpin oleh Dr. Widodo Pranowo. Sebelumnya, pada tahun 2016, kedua mahasiswi tersebut juga pernah melakukan magang praktek kerja lapangan di Laboratorium Data Laut dan Pesisir selama hampir 1 bulan.

Berita terkait : Mahasiswa Unsoed Maju Bersuara di Kolokium P3SDLP



Last Updated on Thursday, 19 April 2018 08:04
 

Pusat Riset Kelautan Salah Satu Anggota Steering Commitee of National Ocean Marine Debris Program

E-mail Print PDF

Jakarta, 18 April 2018. Bertempat di Gedung Kemenko Bidang Kemaritiman, Lantai 2 Jakarta, pada hari Kamis 12 April 2018, Peneliti Pusat Riset Kelautan Dr. Semeidi Husrin dan Dr. Rinny Rahmania menghadiri pertemuan 1st Steering Committee Ocean Marine Debris and Coastal Resources Multi Donor Trust Fund (OMC-MDTF) National Program. OMC-MDTF merupakan salah satu skema pendanaan kerjasama Kemenkomar dengan Bank Dunia sebagai salah satu upaya dalam mendukung komitmen pemerintah Indonesai mengenai kelestarian laut (Ocean Agenda).

Acara dipimpin oleh Deputi Bidang Koordinasi SDM, Iptek dan Budaya Maritim Dr. Syafri Burhanuddin dan didampingi oleh Perwakilan Bank Dunia, Ann Jeannette Glauber.

Pertemuan ini merupakan pertemuan yang ke-4 dalam kerangka OMC-MDTF yang telah berkomitmen mengucurkan dana 2,2 juta USD (saat ini) dari Royal Norwegian dan Royal Danish. Namun dana tersebut, dialokasikan untuk capacity building dan technical assistance, tidak mencakup alokasi dana untuk riset. Bank Dunia telah mengakomodir dana riset terkait OMC melalui program DDRG Coremap yang dikelola LIPI, dimana Dr. Semedi Husrin dan tim merupakan salah satu peneliti yang berhasil mendapatkan dana riset dari Program DDRG tersebut.

Peran riset memungkinkan untuk dilibatkan dalan level implementasi jika ada hasil-hasil penelitian terkait marine debris yang termasuk dalam 3 besar program utama OMC-MDTF, yaitu Policy, Reduction dan Raising Awareness. Selain itu strategic research juga memungkinkan seperti pembuatan pusat data nasional terkait marine debris. Beberapa agenda besar telah menanti di 2018, salah satunya adalah Our Ocean Conference pada tanggal 29 -30 Oktober 2018 di Bali yang digagas oleh KKP.

Direncanakan akan  ada 2nd steering commite meeting untuk membahas lebih lanjut kegiatan / implementasi dari program trust funds tersebut.

Berita terkait :


Last Updated on Wednesday, 18 April 2018 11:17
 

800 Karung Limbah Minyak Tumpah di Pantai Nongsa Batam, Pemkot Batam Tak Punya Anggaran

E-mail Print PDF


15 April 2018. Limbah minyak hitam yang kotori wilayah pantai Nongsa Batam sudah terkumpul sebanyak 800 karung. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, Herman Rozie mengatakan limbah ini berasal dari lima titik pantai, baik di pemukiman warga maupun kawasan wisata sanggraloka. Demikian dikutip radarcirebon.com dari situs media milik Pemerintah Kota Batam

“Masyarakat dan mereka yang terdampak yang membersihkan. Minyak yang cemari pantai itu mereka masukkan dalam karung-karung. Sejak dua bulan lalu, sudah terkumpul sampai 800 karung,” ujarnya di Sekupang, Kamis (12/4).

Karung berisi limbah minyak hitam ini menurut Herman masih berada di lokasi pantai masing-masing. DLH Batam saat ini sedang koordinasi dengan DLH Provinsi Kepulauan Riau untuk proses pemusnahan limbah tersebut.

Limbah rencananya dibawa ke Kawasan Pengelolaan Limbah Industri (KPLI) di Kabil. Namun anggaran yang terbatas membuat DLH Batam terpaksa menunggu bantuan provinsi.

“Kami sudah koordinasi dengan DLH Provinsi, tapi jawabannya masih menunggu arahan Gubernur,” kata Herman.

Meski begitu, DLH Batam sudah mengambil sampel limbah minyak yang diduga terbawa arus dari perairan internasional ini. Sampel disimpan untuk mengantisipasi jika suatu saat dibutuhkan barang bukti.

“Misalnya nanti ada kapal yang dicurigai membuang minyak ke laut, sampel ini bisa dipakai untuk mencocokkan, sama tidak minyaknya,” kata dia.

Beberapa waktu lalu tim audit investigasi juga telah turun memeriksa delapan perusahaan limbah di Kepri. Tepatnya enam perusahaan di Batam dan dua di Kabupaten Karimun. Tim auditor merupakan gabungan beberapa instansi pemerintah. Seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Lemigas, DLH Provinsi Kepulauan Riau, DLH Kota Batam, dan DLH Kabupaten Karimun.

Namun tim belum temukan perusahaan pelaku illegal oil spill atau tumpahan minyak di laut tersebut. Kepala Bidang Perlindungan Laut Asdep Lingkungan dan Kebencanaan Maritim Kemenko Kemaritiman, Koeshariadi mengatakan belum dapat dipastikan siapa pelaku oil spill illegal di Batam.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam Herman Rozi kepada Batam Pos (Jawa Pos Group) kemarin (14/4) mengungkapkan, Pemkot Batam tidak memiliki anggaran untuk memusnahkan limbah minyak hitam tersebut. Karena itu, Herman meminta pihak provinsi membantu menyelesaikan permasalahan limbah tersebut.

Sumber berita : RadarCirebon.com


Last Updated on Monday, 16 April 2018 13:15
 

Sejak 2017, Kasus Tumpahan Minyak di Perairan Batam-Bintan Belum Jelas

E-mail Print PDF


15 April 2018. Sehubungan dengan kejadian tumpahan  minyak yang hampir selalu terjadi setiap tahun di Perairan Batam-Bintan pada musim Barat (arah angin dan arus laut mengarah ke perairan Indonesia, dimana kasus-kasus tumpahan minyak yang terjadi di Perairan Batam-Bintan tersebut belum jelas penyelesaiannya hingga saat ini. Demikian yang dihimpun radarcirebon.com dari Pusat Riset Kelautan-Pusrikel, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, (15/4)

Sejak 8 September 2017, Kemenkomar telah mengadakan rapat koordinasi pengendalian tumpahan minyak di laut bersama tim Puskodalnas, diantaranya yakni KKP, KemenHub, KLHK, Kemen ESDM, Lemigas serta BAKAMLA, LAPAN dan Kompi Bravo Batam-Bintan. Rapat tersebut dilaksanakan di Ruang Rapat Lantai 2 Gedung I BPPT dan dipimpin oleh Dr. Sahat Pangabean serta didampingi oleh Dr. Kus Prisetiahadi. Agenda utama rapat adalah update status kasus tumpahan minyak akibat tabrakan kapal Alyarmouk , update status  kasus tumpahan minyak di Pantai Nongsa Batam, dan koordinasi kesiap-siagaan menjelang Musim Barat.

Pusat Riset Kelautan, Dr. Widodo Pranowo memaparkan statistik frekuensi terjadinya tumpahan minyak berdasarkan pantauan satelit radar INDESO 2014-2017. Terpantau bahwa secara umum WPPNRI 711(Laut Natuna dan Selat Karimata) dan WPPNRI 713 (Selat Makassar) sangat rentan terdampak mulai November hingga Februari. Widodo mengingatkan bahwa perairan Batam-Bintan harus waspada tumpahan minyak pada November 2017 hingga Februari 2018.

Berdasarkan  Perpres No 109/2006 Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak Di Laut dan Surat Edaran Kemenkomar Kepada 6 (enam) menteri yakni Menteri Perhubungan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri ESDM, Kepala Bakamla dan  Dirjen Bea dan Cukai yang ditanda tangani oleh Rizal Ramli pada tanggal 6 April 2016, mengenai tumpahan minyak di Perairan Batam-Bintan, serta KepmenKP No 54/2016 tentang Tim penanggulangan dampak tumpahan minyak terhadap sumberdaya kelautan dan perikanan.

Pusriskel yang merupakan anggota Pulkodalnas, yakni  sebagai Tim Pulbaket (Pengumpulan bahan dan keterangan). Pada tahun 2017 ini, Pusat Riset Kelautan melaksanakan survei di Perairan Batam-Bintan Pada tanggal 11-15 September 2017. Survei yang dipimpin oleh Hari Prihanto, M.Sc akan melakukan pengukuran hidro-oseanografi di kawasan perairan pesisir Batam-Bintan yang rentan tumpahan minyak.

Pada tahun 2015, terjadi tabrakan kapal Alyarmuk, namun hingga tahun 2017 masyarakat terdampak belum dapat diselesaikan klaim ganti ruginya. Kompi Bravo mewakili masyarakat terdampak akan mengajukan class action kasus Alyarmouk. Target tuntutan klaim adalah hingga akhir tahun 2017, karena batas waktu tuntukan akan expired pada Januari 2018. Hal ini sesuai dengan perjanjian intenational bahwa status hukum kasus International akan expired setalah 3 (tiga) tahun.

Rapat 8 September 2017 juga membahas masalah administrasi/pembiayaan dari hasil analisa tumpahan minyak merupakan salah satu kendala utama terhambatnya penanganan kasus tumpahan minyak  Alyarmouk. Kompi Bravo yang hadir pada saat rapat, mewakili lebih dari 1000 warga Batam yang terdampak langsung kasus tumpahan minyak Nongsa Batam mengajukan tuntutan sekitar 75ribu USD.

Sumber berita : RadarCirebon.com


Last Updated on Monday, 16 April 2018 13:08