Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Selamat dan Sukses atas Pelantikan Pengurus Asosiasi Nasional Perencana Pemerintah Indonesia

E-mail Print PDF

Jakarta, Kementerian PPN/Bappenas, 11 Januari 2019.  Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang P. S, Brodjonegoro, selaku Ketua Dewan Penasehat Pengurus Nasional Asosiasi Perencana Pemerintah Indonesia (AP2I), mengukuhkan kepengurusan nasional AP2I masa bhakti 2018-2021 pada hari Jumat, tanggal 11 Januari 2019, bertempat di Kantor Kementerian PPN/Bappenas.  Kepengurusan nasional AP2I 2018-2018 terdiri dari Ketua Umum dan jajaran pengurus nasional, yang terdiri dari Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, Wakil Ketua Koordinator Kementerian/Lembaga dan Wilayah Barat, Tengah dan Timur, dilengkapi dengan Unsur Pelaksana yang terdiri dari 7 (tujuh) direktur, serta didukung oleh Tim Pakar dan Tim Penyiapan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).

Dalam kepengurusan nasional AP2I 2018-20121 ini, keanggotaannya terdiri dari pejabat fungsional perencana ahli dari beberapa kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, seperti dari Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Agama, Kementerian Kelautan dan Perikanan, LIPI, BPPT, BATAN, serta Bappeda Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Jawa Tengah, dan Kabupaten Jembrana Provinsi Bali, termasuk dari UIN Makassar.

Pada sambutannya pada acara pengukuhan Pengurus Nasional AP2I 2018-2021, Menteri PPN/Kepala Bappenas menyampaikan harapannya agar kepengurusan AP2I periode 2018—2021 dapat mewujudkan organisasi perencana pemerintah yang profesional serta mampu membangun kapasitas dan kompetensi perencana pemerintah dalam mendukung tugas dan fungsi perencanaan pembangunan di instansi pusat dan daerah. Selain itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas juga memandang bahwa Kepengurusan AP2I nasional periode 2018—2021 mempunyai tugas dan fungsi yang strategis, khususnya sehubungan dengan proses Pilpres dan Pilkada serentak di tahun 2019 ini, dimana para perencana diharapkan berkontribusi secara maksimal untuk menjabarkan visi dan misi Presiden terpilih ke dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) dan para Kepala Daerah terpilih ke dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) yang berkualitas dan sinkron supaya berdampak pada peningkatan kesejahteraan secara nasional.

Pada acara pengukuhan PN-AP2I, Menteri PPN/Kepala Bappenas juga telah memberikan arahan khususnya kepada Sesmen PPN/Sestama Bappenas dan Kepala Pusat Pembinaan Pendidikan dan Pelatihan Perencanaan (Pusbindiklatren) Bappenas selaku Dewan Pembina AP2I, untuk  terus memfasilitasi AP2I untuk dapat menjadi pionir dalam pengembangan profesi perencana pemerintah yang unggul dan berkualitas.  Pembinaan profesi perencana ke depan agar dapat terus berfokus pada upaya “Pengarusutamaan Jabatan Fungsional Perencana” agar perencana menjadi jabatan fungsional yang diperhitungkan dalam mendukung tugas dan fungsi perencanaan baik di pusat maupun daerah.  Dengan demikian, Kepengurusan Nasional AP2I 2018—2021 diarahkan untuk mengembangkan profesi perencana bagi lebih dari seribu anggotanya di berbagai instansi di pusat dan daerah, yang diharapkan akan dikembangkan melalui jejaring profesi yang luas dan dapat berkolaborasi untuk mendukung tugas dan fungsi yang terkait perencanaan pembangunan di masing-masing instansi, yang dilengkapi dengan pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) perencana pemerintah untuk mendukung peningkatan kompetensi profesi perencana pemerintah secara nasional.


Keterwakilan Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KP, melalui Pusat Riset Kelautan yang diwakili oleh Indra Hermawan, S.Pi., M.Si. diberi mandat sebagai Direktur Direktorat Penelitian  dan  Pengembangan,yang bertugas menyiapkan dan melaksanakan kajian strategis dan pengembangan di bidang perencanaan pembangunan, dengan menyelengarakan fungsi :

  1. Penyiapan  dan  pelaksanaan  kajian  strategis  di  bidang  perencanaan pembangunan;
  2. Penyiapan policy brief, policy note,  dan pelaksanan bridging research to policy;
  3. Penyiapan buku-buku perencanaan pembangunan dan produk produk pengembangan profesi perencanaan lainnya;
  4. Pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan koordinsi pelaksanaan kegiatan lingkup kedirektoratan;
  5. Penguatan  sinergi dengan  direktorat  lain dalam  mendayagunakan produk-produk/jasa layanan AP2I, dan dalam pengembangan sumbersumber pendanaan organisasi.


Last Updated on Monday, 14 January 2019 13:36
 

University of Rhode Island Jajaki Kerjasama dengan LPTK-KKP Wakatobi

E-mail Print PDF

Wakatobi, NMN – Kantor Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerima tamu istimewa dari University of Rhode Island, (08/01). Mereka adalah Dr. David Dooley yang merupkan Presiden atau Rektor University of Rhode Island (URI-USA) dan Brook Williams Roos, MA., MBA, Director Business & Education Partnerships Asia. URI-USA mempunyai pengalaman panjang bekerjasama dengan institusi di Indonesia termasuk kementerian seperti KKP, Pertanian, Bappenas maupun kampus seperti IPB, Universitas Halu Oleo, ITB hingga LIPI. Menurut Kepala LPTK BRSDM-KP di Kabupaten Wakatobi, Akhmatul Ferlin, pada kunjungan tersebut mereka meninjau ketersediaan dan keadaan infrastrukur atau sarana prasarana yang ada di LPTK termasuk memberi tanggapan atas inovasi aplikasi WakatobiAIS yang dikembangkan unit kerjanya. “Selain itu, mereka mendengarkan penjelasan tentang potensi kelautan serta kondisi oseanografi Wakatobi dan WPP-714,” jelas Ferlin.

Dr. David Dooley dan Brook Williams Roos mengapresiasi inovasi hasil perekayasaan LPTK-KKP. Menurutnya, perangkat yang dapat menolong nelayan kecil yang mengalami kondisi darurat di laut ini dapat meningkatkan harapan selamat para penyintas. “Saya pernah mengunjungi komunitas nelayan di Ghana dan Pantai Gading, dan masalahnya sama dengan di sini (Wakatobi). Mereka, nelayan, berlayar dengan perahu kecil hingga 60 mil dari daratan dan banyak yang tidak kembali ke keluarganya,” ungkap David saat berdiskusi dengan anggota tim LPTK. Yang dimaksudkan oleh mereka adalah aplikasi ‘WakatobiAIS’ yang merupakan inovasi LPTK yang bekerja serupa perangkat AIS konvensional sehingga dapat dipergunakan pada perairan seluruh dunia. Mereka terkesan dengan inovasi atas fungsi tracking posisi dan penerimaan pesan keselamatan pelayaran yang bisa diterima dengan baik oleh kapal lain (termasuk non-perikanan). Inilah yang memungkinkan penyintas dapat diketahui lokasi dan kondisinya serta diberikan pertolongan segera. “Presiden URI sangat terkesan dengan output LPTK di antaranya operasionalisasi radar pantai LPTK, inovasi teknologi Wakatobi Sea Bamboo dan inovasi teknologi WakatobiAIS,” jelas Ferlin. Bagi tamu dari Amerika Serikat tersebut, kegiatan ini dimaksudkan pula untuk menjajaki kerjasama ke depannya sebagaimana diungkapkan oleh Ferlin. “Mereka juga melakukan penjajakan peluang kerjasama riset dan peningkatan kapasitas sumberdaya daya manusia (capacity building),” pungkasnya.

Sumber : Maritimenews.id



Last Updated on Wednesday, 09 January 2019 10:02
 

LPTK BRSDM-KKP di Wakatobi Sukses Merestorasi Bambu Laut

E-mail Print PDF

Wakatobi, NMN – Bambu laut? Iya, namanya bambu laut. Spesies karang ini telah menggoda banyak nelayan di pesisir Indonesia bagian timur sejak lama. Di tahun 2000-an eksploitasinya berlangsung intensif dan masif. Bambu laut diburu karena dimanfaatkan sebagai bahan pencampur keramik porselin. Bambu laut yang dimaksud adalah speises Iris hippuris, banyak dijumpai di perairan Sulawesi. Saat ini, pasokan dari pesisir Sulawesi disebut mencapai 5000 ton per tahun. Bambu laut (Isis hippuris), adalah anggota suku Gorgonacea atau karang lunak (Octocorallia). Tersebar luas di perairan Indo-Pasifik dan beberapa tempat lainnya, terutama di daerah tropis. Bukan hanya diburu karena pencampur porselin, pada karang tersebut ditemukan pula senyawa anti-bakteri, anti-kanker maupun anti-virus. Isis hippuris mengandung senyawa anti-virus, mengandung senyawa spesifik hippuristanol yang memiliki sifat antivirus karena dapat mencegah proses replikasi virus.

“Bambu laut asal Sulawesi diperdagangkan ke negara Asia, Eropa hingga Amerika. Permintaan terbesar dari Cina. Harganya lumayan tinggi. Akibatnya, berdampak pada ekosistem khususnya terumbu karang,” jelas Dr. Syafyudin Yusuf, ST, M.Si ahli terumbu karang Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin saat dihubungi NMN. “Ekosistem rusak karena metode pengambilannya mencungkil substrat. Merusak alas spesies, merusak yang lain,” tambah alumni Ilmu Kelautan Unhas ini. Maka tepatlah ketika Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan surat Kepmen KP No. 46/KEPMEN-KP/2014 tanggal 27 Agustus 2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Bambu Laut (Isis spp.). Kepmen tersebut menetapkan status Perlindungan Terbatas Jenis Bambu Laut (Isis spp) yang berlaku selama 5 tahun, terhitung sejak 27 Agustus 2014, tujuanny merestorasi, menjaga dan melanjutkan fungsi ekologis bambu laut.

Inisiatif LPTK-BRSDM

Sejak moratorium diberlakukan, populasi bambu laut mulai membaik. Namun persoalannya, terhitung mulai 28 Agustus 2019, moratorium akan berakhir dan ini berarti pemanfaatan bambu laut akan menjadi masif lagi. Inisiatif para pemangku kepentingan untuk mempertahankan keberadaan bambu laut sangat diperlukan. “Para peneliti dan perekayasa Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi bekerjasama dengan FIKP-UHO Kendari telah melakukan penelitian dan pengembangan restorasi bambu laut secara in-situ dan ex-situ,” kata Akhmatul Ferlin, Kepala LPTK ke NMN.

“Penanaman transplantasi bambu laut secara in-situ dilakukan di Desa Waha, Pulau Wangi-wangi dengan menggunakan metode rak bersubstrat konkret semen,” jelasnya. Sementara penanaman secara ex-situ, menurut Ferlin, dilakukan di ruang laboratorium LPTK dengan metode instalasi aquarium air laut. Sejumlah teknologi digunakan LPTK Wakatobi dalam penelitian dan pengembangan dengan dukungan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo (FPIK UHO). Ferlin menambahkan bahwa perekayasaan teknologi bambu laut, meliputi rekayasa susbtrat untuk diuji coba di area yang mendapatkan pengaruh arus dan ombak. Lalu perekayasaan teknologi ex-situ melalui aquarium dengan menggunakan suplai mandiri energi yang berasal dari panel surya. “Kita juga mengintegrasikan teknologi rekayasa ex-situ dan in-situ,” ujarnya. Apa yang dilaksanakan pihaknya dengan UHO ini dibungkus sebagai ‘Wakatobi Sea Bamboo’, sebuah solusi pasca moratorium hasil perekayasaan teknologi konservasi sumber daya laut yang dihasilkan LPTK.

Sumber : Maritimnews.id


Last Updated on Wednesday, 09 January 2019 09:49
 

Kolaborasi LPTK Wakatobi dan UHO Sukses Merestorasi Bambu Laut

E-mail Print PDF

Wakatobi, Klanews.id – Bambu laut telah menggoda banyak nelayan di pesisir Sulawesi. Sejak awal tahun 2000-an eksploitasi berlangsung intensif. Di pesisir Takalar, Makassar, Pangkep, bambu laut diburu untuk jadi pencampur keramik porselin. Di pesisir Kendari, Soropia, Konawe hingga Wakatobi, biota beruas-ruas seperti bambu ini diburu dengan masif. Daerah lainnya perlu waspada. Bambu laut yang dimaksud adalah speises Iris hippuris, banyak dijumpai di perairan Sulawesi. Saat ini, pasokan dari pesisir Sulawesi disebut mencapai 5000 ton per tahun. Bambu laut (Isis hippuris), adalah anggota suku Gorgonacea atau karang lunak (Octocorallia). Tersebar luas di perairan Indo-Pasifik dan beberapa tempat lainnya, terutama di daerah tropis.

Pada karang tersebut ditemukan senyawa anti-bakteri, anti-kanker maupun anti-virus. Isis hippuris mengandung senyawa anti-virus, mengandung senyawa spesifik hippuristanol yang memiliki sifat antivirus karena dapat mencegah proses replikasi virus. “Bambu laut asal Sulawesi diperdagangkan ke negara Asia, Eropa hingga Amerika. Permintaan terbesar dari Cina. Harganya lumayan tinggi. Akibatnya, berdampak pada ekosistem khususnya terumbu karang,” jelas Dr. Syafyudin Yusuf, ST, M.Si ahli terumbu karang Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin saat dihubungi Klanews.id. “Ekosistem rusak karena metode pengambilannya mencungkil substrat. Merusak alas spesies, merusak yang lain,” tambah alumni Ilmu Kelautan Unhas ini.

Menurut Syafyudin, bambu laut juga digunakan untuk bahan kosmetika, obat-obatan, dan perhiasan. Bambu laut basah nilainya bisa mencapai Rp 5000/kg di tingkat nelayan. Pendek kata, bambu laut adalah komoditi perikanan terakhir dari terumbu karang yg dimanfaarkan nelayan sebagai sumber ekonomi lokal. “Beberapa perairan terumbu karang masih cukup melimpah seperti di Halmahera dan Maluku Utara, Papua serta pulau-pulau Maluku Tengah dan umumnya di Indonesia bagian Timur seperti di Teluk Tomoni Gorontalo. Tapi ini harus dijaga, tidak boleh jadi target eksploitasi besar-besaran,” kata periset yang pernah menyelam di lokasi-lokasi dimaksud.

Maka tepatlah ketika Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan surat Kepmen KP No. 46/KEPMEN-KP/2014 tanggal 27 Agustus 2014 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Bambu Laut (Isis spp.). Kepmen tersebut menetapkan status Perlindungan Terbatas Jenis Bambu Laut (Isis spp) yang berlaku selama 5 tahun, terhitung sejak 27 Agustus 2014.

Hasil riset BPSPL Sorong KKP menemukan bahwa jumlah koloni bambu laut yang ditemukan tidak berbanding lurus dengan luas kawasan konservasi perairan nasional.  Salah satu area yang disebut juga mempunyai hamparan bambu laut adalah Perairan Raja Ampat dimana ditemukan ada sebanyak 1.915 koloni dengan laus kawasan konservasi 60.000 Ha. “Jumlah koloni bambu laut yang ditemukan berbading lurus dengan kondisi terumbu karang. Semakin baik kondisi terumbu karangnya, jumlah koloni bambu laut yang ditemukan lebih banyak,” demikian rilis BPSPL Sorong pasca riset mereka.

Inisiatif LPTK-BRSDM KP Wakatobi

Sejak moratorium diberlakukan, populasi bambu laut mulai membaik. Namun persoalannya, terhitung mulai 28 Agustus 2019, moratorium akan berakhir dan ini berarti pemanfaatan bambu laut akan menjadi masif lagi. Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) di naung Badan Riset dan Sumber Daya Manusian Kementerian Kelautan dan Perikanan tak tinggal diam. Demi melindungi bambu laut dari ancaman kepunahan dengan melaksanakan riset terkait bambu laut. “Para peneliti dan perekayasa Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi bekerjasama dengan FIKP-UHO Kendari telah melakukan penelitian dan pengembangan restorasi bambu laut secara in-situ dan ex-situ,” kata Akhmatul Ferlin, Kepala LPTK ke Klanews.id. “Penanaman transplantasi bambu laut secara in-situ dilakukan di Desa Waha, Pulau Wangi-wangi dengan menggunakan metode rak bersubstrat konkret semen,” jelasnya.

Sementara penanaman secara ex-situ, menurut Ferlin, dilakukan di ruang laboratorium LPTK dengan metode instalasi aquarium air laut. Sejumlah teknologi digunakan LPTK Wakatobi dalam penelitian dan pengembangan dengan dukungan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo (FPIK UHO). Ferlin menambahkan bahwa perekayasaan teknologi bambu laut, meliputi rekayasa susbtrat untuk diuji coba di area yang mendapatkan pengaruh arus dan ombak. Lalu perekayasaan teknologi ex-situ melalui aquarium dengan menggunakan suplai mandiri energi yang berasal dari panel surya. “Kita juga mengintegrasikan teknologi rekayasa exsitu dan in-situ,” ujarnya.

Apa yang dilaksanakan pihaknya dengan UHO ini dibungkus sebagai ‘Wakatobi Sea Bamboo’, sebuah solusi pasca moratorium hasil perekayasaan teknologi konservasi sumber daya laut yang dihasilkan LPTK. “Kita sebut itu sebagai Wahana Perekayasaan Teknologi Konservasi Biota (Wakatobi) – Sea Bamboo atau disingkat menjadi Wakatobi Sea Bamboo,” jelas Ferlin. “Wakatobi Sea Bamboo menawarkan alternatif. Tidak hanya di lokasi perairan laut tenang, tetapi juga bisa diimplementasikan di area yang mendapatkan pengaruh ombak, serta bisa dilakukan di lokasi ex-situ seperti di laboratorium,” tambahnya.

Last Updated on Wednesday, 09 January 2019 09:36 Read more...
 

Kunjungan Rektor University of Rhode Island Ke LPTK Wakatobi

E-mail Print PDF

Jakarta, 09 Januari 2019. Pada hari Selasa kemarin, 08 Januari 2019, Kepala LPTK Wakatobi  Akhmatul Ferlin, MT menerima kunjungan Dr.  David Dooley,  Presiden (Rektor) University of Rhode Island (URI-USA) dan Brook Williams Roos,  MA.,  MBA,  Director Business & Education Partnerships Asia dikantor Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi. Kunjungan dilaksanakan dalam rangka penjajakan rencana kerjasama riset Universitas Rhode Island dengan LPTK Wakatobi.  Dalam kunjungannya perwakilan Dr David Dooley dan Brook Williams berkesempatan meninjau fasilitas riset/display Teknologi Restorasi Bambu Laut, WakatobiAIS dan Laboratorium Simlan, dan beliau terkesan dengan Inovasi Teknologi Restorasi Bambu Laut,  Teknologi WakatobiAIS dan operasionalisasi Radar Pantai. Pada kesempatan tersebut tidak lupa disampaikan pula bahan publikasi hasil Riset LPTK Wakatobi.


Last Updated on Wednesday, 09 January 2019 08:52
 

Wakatobi Sea Bamboo : Lindungi Bambu Laut dari Ancaman Kepunahan

E-mail Print PDF

Sebagai Tindaklanjut Penandatanganan MoU antara BRSDMKP dengan UHO beberapa waktu yang lalu, serta PKS yang ditandatangani antara Kepala LPTK (Akhmatul Ferlin, MT) dengan Dekan FPIK-UHO (Prof Ir.  La Sara,  MSc., PhD) menghasilkan Inovasi untuk mendukung dan menunjang PERMEN-KP/46/2014 tentang penetapan status perlindungan terbatas Bambu Laut (ISIS Spp)





Last Updated on Wednesday, 09 January 2019 08:49