Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Mengenal Paus Pembunuh yang Muncul di Anambas

E-mail Print PDF

Anambas -Paus pembunuh atau orca muncul di Perairan Anambas. Jadi fenomena langka di Indonesia, yuk kenali orca lebih dekat.

Orca atau paus pembunuh memiliki nama latin Ornicus Orca. Hewan ini bukanlah ikan apalagi paus. Orca adalah mamalia keluarga lumba-lumba.

Nama paus yang diberikan sebenarnya memiliki kisah. Konon, ketika masa perburuan paus di Australia, orca membantu manusia.

Orca bisa dengan mudah menemukan paus-paus lain. Sehingga orca diberi julukan whale killer atau pembunuh paus. Namun julukan tersebut malah berubah menjadi killer whale atau paus pembunuh.

Mamalia ini hidup bergerombol hingga 40 ekor. Orca sangat suka berburu. Makanan utama mereka adalah ikan, gurita, cumi-cumi hingga burung laut. Mereka hanya memakan binatang yang berukuran lebih kecil.

Namun jangan salah, orca memiliki tubuh yang besar dan gigi panjang yang tajam. Menjadi predator tingkat satu, orca mampu untuk menyerang hiu putih atau white shark yang ganas.

Meski demikian, belum pernah ada sejarah yang mencatat bahwa orca memangsa manusia. Karena sejatinya orca adalah lumba-lumba.

Habitat hidup orca dimulai dari tempat yang sangat dingin seperti kutub sampai perairan hangat. Ini mengapa kemunculan orca di Anambas bisa terjadi, walau sangat langka.

"Migrasi orca tidak mengikuti pola musim. Ketika migrasi orca menggunakan sonar untuk memancarkan gelombang akustik yang dimilikinya untuk memandunya mencari mangsa dan menuju lokasi yang ditujunya," ujar Widodo Pranowo, Peneliti Madya Bidang Oseanografi Terapan Laboratorium Data Laut dan Pesisir, Pusat Riset Kelautan,Badan Riset & SDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Penjalaran gelombang akustik di kolom massa air laut sangatlah tergantung oleh suhu laut dan densitas massa air laut. Densitas massa air laut dipengaruhi dari konsentrasi partikel-partikel yang terlarut di dalam air laut tersebut, seperti kadar garam dan konsentrasi terlarut lainnya.

"Ketika ada suatu anomali massa air laut, maka kecepatan penjalaran gelombang akustik yang dipancarkan oleh orca juga bisa terganggu atau terbelokkan sehingga orca pun tersesat," tambahnya.

Sonar navigasi orca juga bisa dipengaruhi oleh faktor ekstrem lainnya seperti sinyal seismik yang digunakan oleh manusia dalam survei mencari potensi sumber-sumber minyak di bawah dasar laut. Percobaan-percobaan militer atau ledakan di bawah air juga bisa menghasilkan siyal akustik ekstrim.

Sumber Berita : detik.com


Last Updated on Wednesday, 08 April 2020 10:20
 

Kata Peneliti "Widodo Pranowo" Soal Paus Pembunuh di Anambas, Langka!

E-mail Print PDF

Anambas - Melihat paus pembunuh di Anambas bukanlah hal yang biasa. Dikenal dengan nama orca, hewan ini bukan asli perairan Indonesia.

Perairan Anambas kedatangan 4 paus pembunuh. Kemunculan paus pembunuh ini direkam oleh nelayan lokal di Letung, dekat dengan Pulau Bawah. Video tersebut tersebar di medsos.

detikcom mewawancara Widodo Pranowo, Peneliti Madya Bidang Oseanografi Terapan Laboratorium Data Laut dan Pesisir, Pusat Riset Kelautan, Badan Riset & SDM, Kementerian Kelautan dan Perikanan, terkait kemunculan paus pembunuh di Anambas.

Mari mulai dari teori, orca hidup di perairan laut tropis. Mereka suka dengan suhu air laut yang berkisar 27-32 derajat celsius, bersalinitas (kadar garam) berkisar 35-39 PSU (practical salinity unit). Biasanya mereka ditemukan di Samudera Arktik dan Antartika.

"Kisaran suhu laut di Perairan KepulauanAnambas pada tanggal 1-6 April 2020 berkisar 29,5-30,5 derajatcelsius, ini sesuai dengan teori yang ada. Hal yang menarik adalah pada parameter salinitas yang masih di bawah kisaran teori, yakni 33,5-33,75PSU," ujarWidodo.

Migrasi orca, secara teori, tidak mengikuti pola musim. Pola migrasinya lebih mengikuti naluri. Mereka memburu ikan atau mamalia kecil yang menjadi mangsanya.

"Asumsinya, ikan-ikan yang menjadi mangsanya adalah dalam jumlah yang cukup banyak, karena biasanya Orca akan migrasi dalam bentuk gerombolan. Gerombolan ikan-ikan memerlukan daya dukung hidup yang melimpah pula, dalam hal ini adalah plankton," tambahnya.

Plankton yang melimpah akan ditemukan pada perairan subur. Bisa dibilang kandungan khlorofil terlarutnya 25-200 miligram per meter kubik per hari. Apabila dihitung secara sesaat maka konsentrasinya sekitar 1-16 miligram khlorofil terlarut di dalam 1 meter kubik air laut.

"Konsentrasi khlorofil sesaat Laut Kepulauan Anambas pada tanggal 1-6 April 2020 diestimasi hanya sekitar 0,2 hingga 0,4 miligram per meter kubik. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi khlorofil secara realita di Perairan Laut Anambas hanya menyediakan 20 persen dari teori yang ada," jelas Widodo.

Jika dicocokkan maka Perairan Anambas termasuk kategori rendah hingga sedang untuk orca. Sehingga bisa dikatakan kemunculan Orca di perairan Anambas merupakan hal yang anomali atau langka.

"Anomali tersebut bisa positif dan bisa negatif. Untuk menentukan hal tersebut diperlukan riset survei dan pengukuran lebih lanjut tentang kondisi menyeluruh interaksi laut, atmosfer, dan dinamika kolom massa air di perairan Anambas, Laut Natuna Utara hingga ekstensinya ke Laut China Selatan," pungkasnya.

Suber berita : detik.com


Last Updated on Wednesday, 08 April 2020 09:55
 

Selamat Purna Tugas Drs. Riyanto Basuki, M.Si

E-mail Print PDF


Last Updated on Thursday, 02 April 2020 09:41
 

Penasihat Menteri KKP Puji Inisiatif LPTK BRSDM-KP di Wakatobi

E-mail Print PDF


Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), bidang ekonomi maritim, Prof. Laode Masihu Kamaluddin melakukan kegiatan ‘memorial planting’ Wakatobi Sea Bamboo untuk Combbity Garden di area Waha Tourism Community Desa Waha, Pulau Wangi-wangi, Wakatobi (12/3/2020).

Prof Masihu didampingi Akhmatul Ferlin, Kepala Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) BRSDM KP. Masihu menandatangai prasasti untuk tagging lokasi memorial planting. Dia juga menuliskan pesannya di atas prasasti: untuk keberlanjutan Wakatobi Sea Bamboo di lokasi Combbity Garden.

Setelah itu dilanjutkan penyerahan bibit bambu laut dari lokasi Laboratorium Konservasi LPTK, oleh Akhmatul Ferlin kepada Prof Masihu untuk selanjutnya diserahkan kepada warga desa yang akan melakukan penanaman bambu laut di lokasi Combbity Garden. 

Masihu menyampaikan pujian atas implementasi teknologi Wakatobi Sea Bamboo serta Combbity Garden, sekaligus menyampaikan sejumlah masukan. “Kegiatan ini harus diubah paradigmanya, tidak lagi sekadar memiliki visi dan misi, tetapi harus dibingkai oleh suatu platform yang jelas. Platform yang relevan adalah memulihkan kondisi ekosistem karang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” saran Masihu, pria yang dikenal visioner ini. Di atas prasasti, Masihu menulis: Wakatobi Masa Depan Dunia Maritim.

Akhmatul Ferlin, yang didampingi sejumlah pejabat struktural dan fungsional (peneliti dan perekayasa) LPTK, terkait memorial planting ini menyebutnya sebagai bagian dari LPTK BRSDM KP. “Tujuannya untuk mendukung PermenKP No. 8/KEPMEN-KP/2020 tentang Perlindungan Penuh Bambu Laut atau Sea Bamboo. Juga demi mengimplementasikan hasil riset LPTK BRSDM KP, yakni Wakatobi Sea Bamboo di lokasi Combbity Garden. Harapannya dapat memberikan dampak pada kesejahteraan masyarakat,” kata Ferlin.

Sunarwan Asuhadi, ketua Kelompok Peneliti dan Perekayasa (Ka Keltiyasa) LPTK yang mendampingi Ferlin menjelaskan bahwa Combbity Garden berlokasi di Ou Ntooge Desa Waha dan Koroe Onowa. “Ini berasal dari kata kombiti dan garden. Kombiti yang dalam Bahasa Wakatobi berarti pemeliharaan atau perlindungan, sekaligus merupakan akronim dari Community Based Biodiversity Garden,” jelas Sunarwan.

“Sedangkan Teknologi Wakatobi Sea Bamboo merupakan akronim dari Wahana Perekayasaan Teknologi Konservasi Biota Sea Bamboo. Inisiatif yang dalam dua tahun terakhir ini diimplementasikan di lokasi Combbity Garden. Telah diinisiasi kemitraannya dengan warga Desa Waha melalui Waha Tourism Community dan Pemerintah Desa Koroe Onowa, dengan luas lokasi sekitar 8,5 ha,” papar Sunarwan. “Lokasi blue hole Ou Ntooge yang dijadikan sebagai lokasi Combbity Garden merupakan salah satu lokasi yang pernah mengalami pengeboman ikan pada tahun 1980 – 1990-an,” pungkas Sunarwan.

Sumber berita : Maritimenews

Last Updated on Monday, 16 March 2020 14:49
 

Penasehat MenKP Apresiasi Wakatobi Sea Bamboo dan Combbity Garden LPTK BRSDM KP

E-mail Print PDF


Kamis (12/3) menjelang sunset, Penasehat Menteri Bidang Ekonomi Maritim Kementerian Kelautan dan Perikanan, Laode Masihu Kamaluddin melakukan kegiatan memorial planting Wakatobi Sea Bamboo untuk Combbity Garden.

Bertempat di lokasi Waha Tourism Community, Desa Waha, Masihu didampingi Akhmatul Ferlin, Kepala Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) BRSDM KP menandatangai prasasti untuk tagging lokasi memorial planting sekaligus menuliskan pesannya di atas prasasti, untuk keberlanjutan Wakatobi Sea Bamboo di lokasi Combbity Garden.

Setelah penandatanganan prasasti, dilanjutkan dengan penyerahan bibit bambu laut dari lokasi Laboratorium Konservasi LPTK, oleh Akhmatul Ferlin kepada Masihu Kamaludin untuk selanjutnya diserahkan kepada warga desa yang akan melakukan penanaman bambu laut di lokasi Combbity Garden. Masihu dalam kesempatan ini menyampaikan apresiasi terkait teknologi Wakatobi Sea Bamboo serta Combbity Garden, sekaligus menyampaikan sejumlah masukan.

“Kegiatan ini harus dirubah paradigmanya, tidak lagi sekedar memiliki visi dan misi, tetapi harus dibingkai oleh suatu platform yang jelas. Dan platform yang relevan adalah memulihkan kondisi ekosistem karang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” papar Masihu, pria yang dikenal visioner ini. Dalam pesannya, di atas prasasti, ia menulis, “Wakatobi Masa Depan Dunia Maritim”.

Akhmatul Ferlin, yang didampingi sejumlah Pejabat Struktural dan Fungsional (peneliti dan perekayasa) LPTK, terkait memorial planting ini, berujar,“Ini bagian dari kampanye LPTK BRSDM KP untuk mendukung PermenKP No. 8/KEPMEN-KP/2020 tentang Perlindungan Penuh Bambu Laut atau Sea Bamboo, di mana ini dalam rangka mengimplementasikan hasil riset LPTK BRSDM KP, yakni Wakatobi Sea Bamboo di lokasi Combbity Garden dengan harapan dapat memberikan dampak pada kesejahteraan masyarakat.”

Sementara itu, Sunarwan Asuhadi, selaku Ketua Kelompok Peneliti dan Perekayasa (Ka Keltiyasa) LPTK, yang mendampingi Akhmatul Ferlin, mengatakan bahwa, Combbity Garden berlokasi di Ou Ntooge Desa Waha dan Koroe Onowa, berasal dari kata kombiti dan garden. Kombiti yang dalam Bahasa Wakatobi berarti pemeliharaan atau perlindungan, sekaligus merupakan akronim dari Community Based Biodiversity Garden.

“Sedangkan Teknologi Wakatobi Sea Bamboo merupakan akronim dari Wahana Perekayasaan Teknologi Konservasi Biota Sea Bamboo, yang dalam dua tahun terakhir ini diimplementasikan di lokasi Combbity Garden yang telah diinisiasi kemitraannya dengan warga Desa Waha melalui Waha Tourism Community dan Pemerintah Desa Koroe Onowa, dengan luas lokasi mencapai ± 8,5 ha,” ungkap Sunarwan.

“Lokasi blue hole Ou Ntooge yang dijadikan sebagai lokasi Combbity Garden merupakan salah satu lokasi yang pernah mengalami pengeboman ikan pada tahun 1980 – 1990-an,” pungkas Sunarwan.

Sumber berita : Publiksatu.co



Last Updated on Monday, 16 March 2020 14:46
 

Kontribusi Humas Pusriskel Dalam Menyongsong Era 4.0

E-mail Print PDF

 

Jakarta, 12 Maret 2020. Pelaksanaan workshop Kehumasan BRSDMKP hari kedua, pada Rabu 12 Maret 2020 meghadirkan narasumber Public Sector Communication Ibu Galuh Pangestu (Communication Expert UNDP). Dalam workshop ini Galuh memberikan pengetahuan dan pembelajaran mengenai Goverment Publik Relation (GPR) atau yang sering disebut Humas Permerintah. Komunikasi pemerintah di era generasi 4.0, Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI) dan Big Data yang perlu diketahui oleh pegawai pemerintah dituntut untuk dapat uggul di tengah jutaan konten kreatif yang dinamis dengan pemahaman mengenai esensi komunikasi GPR.  Pada workshop hari kedua ini peserta dilatih untuk membuat brand activation dengan visi, misi dan derap langkah yang sama, untuk menjawab berbagai tantangan dalam mengoperasionalkan brand activation.

Workshop Kehumasan dengan tema “Optimalisasi Media Sosial untuk Humas Pemerintah” yang digelar oleh Sekretariat Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan ini berlangsung mulai hari Rabu – Jumat tanggal 11- 13 Maret 2020 di Ruang Arwana Gedung Mina Bahari II lantai 14.  Acara  dibuka oleh Kepala Bagian Humas, Kerjasama dan Data Informasi Sekretariat BRSDM, Ir. Andi Soesmono, M.EM. pada hari pertama dan dihadiri oleh seluruh satker Lingkup BRSDMKP se-Indonesia. Perwakilan dari Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) yang mengikuti workshop ini adalah Kasubag Umum Dra. yayah Shobariyah, Pranata Komputer Dani Saepuloh, S.Kom dan staf pelaksana Sari Novita, S.T.  Pada hari ketiga, Jumat 13 Maret 2020 seluruh peserta akan melaksanakan kunjungan ke Metro TV untuk memperoleh pengalaman langsung dalam bidang kehumasan.

Berita terkait : Workshop Kehumasan "Optimalisasi Media Sosial untuk Humas Pemerintah"



Last Updated on Thursday, 12 March 2020 12:16