Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Hikmah Tragedi Baruna Jaya I Saatnya WakatobiAis Selamatkan Nelayan!

E-mail Print PDF

Belum hilang ingatan kita pada kasus yang menimpa Aldi, seorang nelayan Minahasa Utara yang 1,5 bulan hanyut terombang-ambing hingga di Perairan Laut Jepang tahun 2018 lalu, di awal November 2019 ini kembali terjadi peristiwa kecelakaan laut yang menimpa tiga nelayan Banten, dan seorang dinyatakan hilang. Kasus ini merupakan satu dari 841 kasus nelayan hilang yang terhitung sejak 2010 hingga 2019.

Peristiwa naas tersebut terjadi setelah perahu congkreng yang ditumpangi tiga nelayan terlibat kecelakaan dengan Kapal Baruna Jaya 1 milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang sedang melakukan survey, pada Sabtu lalu (2/11/2019).

“Kita tidak ingin kasus yang sama berulang-ulang terjadi, padahal kita punya teknologinya,” ujar Akhmatul Ferlin, Kepala Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan menanggapi kecelakaan yang menimpa tiga nelayan Banten tersebut.

Meski berbeda modus dengan kasus yang menimpa Aldi, kecelakaan yang menimpa tiga nelayan tersebut seyogyanya bisa dihindari jika nelayan di tanah air dapat memanfaatkan teknologi Wahana Keselamatan dan Pemantauan Obyek Berbasis Automatic Identification System (WakatobiAIS) yang saat ini dikembangkan oleh LPTK BRSDM KP – Solusi 247.

Terkait pemanfaatan peralatan navigasi Automatic Identification System (AIS), Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 7 Tahun 2019 Tentang Pemasangan dan Pengaktifan Sistem Identifikasi Otomatis Bagi Kapal Yang Berlayar di Wilayah Perairan Indonesia.

Pasal 5 ayat (1) PM 7 Tahun 2019 tersebut, menyebutkan bahwa AIS Klas A wajib dipasang dan diaktifkan pada Kapal Berbendera Indonesia yang memenuhi persyaratan Konvensi Safety of Life at Sea (SOLAS) yang berlayar di wilayah Perairan Indonesia.

Sedangkan pada ayat (2) menyatakan bahwa AIS Klas B wajib dipasang dan diaktifkan pada Kapal Berbendera Indonesia, yakni pada Kapal penumpang dan Kapal barang Non Konvensi dengan ukuran paling rendah GT 35 (tiga puluh lima Gross Tonnage) yang berlayar di wilayah Perairan Indonesia, serta pada Kapal yang berlayar antar lintas negara atau yang melakukan barter-trade atau kegiatan lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan, serta (3) pada Kapal penangkap ikan berukuran dengan ukuran paling rendah GT 60 (enam puluh Gross Tonnage).

“Dengan demikian, belum ada keberpihakan teknologi dan kebijakan untuk keselamatan dan keamanan pelayaran untuk kapal dengan dimensi < 35 GT maupun kapal penangkap ikan < 60 GT (unregulated fishing and shipping), bahkan kebijakan ini terancam mengalami moratorium,” beber Ferlin menambahkan.

Untuk menjembatani itu, LPTK BRSDM KP – Solusi 247 menghadirkan teknologi WakatobiAIS. WakatobiAIS memang didesain untuk memberikan dukungan operasional bagi keselamatan dan keamanan pada kapal-kapal yang berukuran kecil, misalnya pada kapal yang dioperasikan oleh nelayan kecil (<10 GT), sehingga mereka memiliki kemudahan dalam menavigasi kapal serta memberikan sinyal mara bahaya ke stasiun-stasiun sarana bantu navigasi-pelayaran, jika sewaktu-waktu mengalami resiko pada saat melakukan pelayaran atau penangkapan ikan.

Last Updated on Tuesday, 05 November 2019 12:37 Read more...
 

Peranan Fungsional Perencana pada Asesor Kompetensi Profesi Perencana Pembangunan

E-mail Print PDF


Ahli Perencana Muda Pusat Riset Kelautan Indra Hermawan, S.Pi., M.Si. bersama 14 orang lintas Kementerian dan Pemerintah Pusat/Daerah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Pelatihan Asesor Kompetensi Profesi Perencana Pembangunan yang berlokasi di Hotel Rivoli, Jakarta Pusat pada tanggal 25 s.d. 28 Oktober 2019. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Lembaga Sertifikasi Profesi Penulis dan Editor Profesional (LSP PEP), Pusbindiklatren Bappenas dan Asosiasi Perencana Pemerintah Indonesia (AP2I) dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Pelatihan Asesor Kompetensi ini bertujuan untuk menghasilkan seorang asesor kompetensi yang berhak melakukan asesmen/pengujian terhadap kompetensi seseorang sesuai dengan ruang lingkup asesmennya. Seorang asesor kompetensi memiliki kewenangan untuk merekomendasikan seseorang kompeten atau belum kompeten pada pada unit-unit kompetensi yang dinilai sesuai dengan bukti yang dipersyaratkan. Tugas inilah yang akan diemban oleh Sdr. Indra Hermawan, S.Pi., M.Si. beserta keempatbelas peserta lainnya dengan harapan dapat menjaring para perencana yang berkualitas di bidangnya.


Berlakunya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 semakin mengukuhkan peran Kementerian Perencanaan Pembangunan/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dalam perencanaan pembangunan. Tidak dapat dipungkiri Jabatan Fungsional Perencana (JFP) di lembaga-lembaga pemerintah memiliki peran yang vital terutama untuk menghasilkan produk dokumen perencanaan pembangunan yang berkualitas. Di era Revolusi 4.0 ini seorang perencana menghadapi tantangan dan persaingan yang semakin kompleks. Oleh karena itu, perlu peningkatan kompetensi baik dari sisi sumber daya perencana maupun organisasi.

Salah satu bentuk dukungan untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensi perencana adalah dengan disusunnya SKKNI Perencana Pembangunan. SKKNI Perencana Pembanguan menjadi salah satu aspek yang sangat penting dan strategis dalam menyiapkan standar kompetensi kerja yang akan digunakan sebagai acuan dalam pembinaan dan penyiapan sumber daya perencana yang berkualitas, kompeten, dan diakui oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) serta berlaku secara nasional di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

SKKNI adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan dan/atau keahlian (skills) serta sikap kerja (attitude) yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Terbitnya Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 11 Tahun 2019 tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Kategori Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Golongan Pokok Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Bidang Perencanaan Pembangunan atau disebut sebagai SKKNI Perencanaan Pembangunan menjadi ujung tombak untuk mencapai tujuan diperolehnya seorang perencana yang profesional, berkualitas, dan kompeten di bidangnya.

Peran antara JFP dan perencana profesional di sektor swasta tidak terlepas dari dorongan pemerintah Indonesia dalam memasuki era collaborative governance demi memperluas peluang partisipasi berbagai elemen pemangku kepentingan dalam seluruh proses perencanaan pembangunan, sehingga menghasilkan dokumen perencanaan pembangunan yang dapat dilaksanakan melalui program dan proyek serta dapat dipantau dan dievaluasi pelaksanaannya.

Kemajuan yang pesat di bidang teknologi informasi, isu-isu lingkungan hidup, serta perubahan-perubahan akibat situasi dan kondisi sosial, politik, ekonomi yang memicu disrupsi di berbagai bidang, sehingga memengaruhi proses perencanaan pembangunan saat ini. Hal ini tentu memengaruhi Indonesia sebagai salah satu negara yang diperhitungkan kekuatan ekonomi dan sumber dayanya di tingkat global.

Untuk itu menyiapkan perencana pembanguan yang berkompeten dan memiliki daya saing secara global sudah tidak dapat ditawar lagi. Melakukan standarisasi dan sertifikasi di bidang perencana penbanguan merupakan salah satu upaya untuk menyiapkan tenaga perencana yang berkualitas dan kompeten. Di sinilah peran asesor kompetensi bidang perencana pembangunan menjadi sangat penting untuk memberikan pengakuan pada setiap tenaga perencana pembangunan sesuai dengan SKKNI Bidang Perencana Pembangunan. Semakin banyak tenaga perencana yang kompeten, tentu semakin meningkat daya saingnya secara global.


Last Updated on Sunday, 03 November 2019 06:43
 

Peneliti Pusriskel Presentasikan Penelitian Tsunami di Jerman

E-mail Print PDF

Peneliti Pusat Riset Kelautan Dr. -Ing Semeidi Husrin, ST. M.Sc. berkesempatan mempresentasikan hasil penelitian di Palu dan Selat Sunda terkait dengan kejadian terkini tsunami di dua lokasi tersebut pada tahun 2018, pada acara DAAD Alumni Seminar 2019 yang berlangsung di Jerman tanggal 14-18 Oktober 2019. DAAD Alumni Seminar 2019 merupakan acara serupa yang ke-3 digelar di Jerman oleh TH Koln setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2013 dan 2015. Pada kesempatan kali ini, TH Koln bekerjasama dengan  TU Kaiserslautern dengan mengambil tema “Resilient Flood Risk Management”. Acara DAAD Alumni Seminar 2019 „Resilient Flood Risk Management“ dihadiri oleh 22 peserta yang berasal dari negara-negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika. Indonesia diwakili oleh 5 peserta masing - masing dari Universitas Sriwijaya, UGM, ESDM, Unika Soegijapranata Semarang dan Pusat Riset Kelautan – KKP yang diwakili oleh Dr. – Ing. Semeidi Husrin, ST. M.Sc.

Kegiatan DAAD Alumni Seminar 2019 bertujuan untuk saling bertukar informasi terkini tentang pengelolaan resiko ketahanan banjir dari berbagai negara berdasarkan penelitian dan fenomena terkini dari masing-masing peserta dan membuat publikasi ilmiah secara bersama-sama dengan peserta lainnya pada jurnal-jurnal terindeks internasional.

Beberapa kegiatan yang dilakukan pada acara DAAD Alumni Seminar 2019 diantaranya adalah presentasi, seminar, kunjungan lapangan, diskusi kelompok dan sosialisasi. Presentasi dilakukan oleh narasumber, para ahli yang diundang berasal dari kampus – kampus yang bekerjasama (Universitas Wageningan, Cambridge University, TH Koln, dan TU Kaiserslautern).

Kunjungan lapangan dilakukan di hari ke-3 dengan mengunjungi Emscher, salah satu wilayah rentan banjir yang terletak di Kota Essen. Kawasan in merupakan kawasan bekas penambangan di mana masalah keairan menjadi fokus utama karena masalah kualitas air dan penurunan muka tanah sebagai dampak dari aktivitas penambangan batubara di masa lampau. Objek utama yang diperlihatkan pada kunjungan lapangan ini adalah keberadaan tanggul penahan banjir, kawasan pemukiman yang mengalami penurunan muka tanah serta upaya peningkatan kualtias air di daerah tangkapan dengan pembanguan jaringan air kotor yang terpisah dengan anak-anak sungai.


Last Updated on Thursday, 24 October 2019 16:48
 

Indonesia Science Expo 2019

E-mail Print PDF


Last Updated on Thursday, 17 October 2019 09:10
 

Implementasi Aplikasi NELPIN dalam Program Nelayan Go Online

E-mail Print PDF


Kementerian kelautan dan perikanan melalui pusat riset kelautan telah ikut berperan aktif dalam program nelayan go online dari kementerian komunikasi dan informatika. program ini bertujuan untuk memberikan salah satu solusi permasalahan perikanan yakni pemanfaatan aplikasi digital berupa aplikasi dasar untuk nelayan yaitu aplikasi sistem informasi kenelayanan 'NELPIN' .

NELPIN merupakan aplikasi berbasis android yang dibuat dan dikembangkan sejak 2015 dan dapat diperoleh secara gratis melalui Playstore. Aplikasi ini memiliki fitur -fitur andalan antara lain Peta prakiraan daerah  penangkapan ikan (PPDPI), informasi cuaca gelombang dan arah angin, informasi perkiraan BBM, harga ikan dan pelabuhan serta informasi lainnya.

Sumber informasi data dari aplikasi ini adalah hasil produk dari Balai Riset Observasi Laut dan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap KKP serta juga hasil kerjasama dengan instansi lain yaitu Badan Meteorologi Klimatilogi dan Geofisika.


Sejak bulan januari 2019 sampai sekarang ,program ini sudah berjalan lebih dari 5 lokasi di indonesia dari kabupaten pasaman barat, kabupaten kupang, kab nunukan, kab selayar, kab Parigi Moutong, Kab Biak Numfor, Kab Rote Ndao dan terakhir di Kab Jayapura.

Dalam kegiatan ini dilakukan ujicoba penggunaan aplikasi  nelpin dari awal yaitu proses unduh dari playstore  hingga akhir dalam menggunakan aplikasinya. Diharapkan di akhir program ini, nelayan Indonesia lebih memanfaatkan teknologi informasi untuk membantu dalam kegiatannya menangkap ikan di laut.




Last Updated on Tuesday, 15 October 2019 15:59
 

Kondisi di Laut Memicu Terjadinya Kebakaran Hutan?

E-mail Print PDF

  • Kebakaran hutan bisa terjadi karena faktor kejadian alam, salah satunya adalah iklim yang kering.
  • Fenomena dan proses iklim yang terjadi di Indonesia dipengaruhi oleh fenomena yang terjadi di kedua samudera Hindia dan samudera Pasifik, seperti fenomena El Nino penyebab iklim yang kering.
  • Fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) terjadi di samudera Pasifik dengan dua karakteristik yaitu El Nino dan La Nina. El Nino dikenal sebagai penyebab terjadinya iklim kering dan La Nina menyebabkan terjadinya iklim basah
  • Iklim di Indonesia juga dipengaruhi pertukaran suhu muka laut di Samudera Hindia yaitu Indian Ocean Dipole (IOD) dengan indeks IOD atau Dipole Mode Index (DMI) yang membuat suhu muka laut di sepanjang pantai barat Sumatra dan selatan Jawa berada dalam kondisi dingin dan membuat iklim kering.

Dr. Annastasia Rita Tisiana. Terlepas dari kejadian kebakaran hutan dan lahan karena tujuan tertentu dan bagaimana penegakan hukumnya, kejadian kebakaran hutan di Indonesia tahun ini bukanlah kejadian yang pertama kali.

Kebakaran hutan juga bisa terjadi karena faktor kejadian alam, salah satunya adalah iklim yang kering. Sederhananya karena iklim dan cuaca yang kering, ranting-ranting pohon yang kemudian bergerak karena angin akan saling bergesekan dan kemudian menimbulkan percikan api.

El Nino paling sering disebut-sebut yang sebagai penyebab terjadinya iklim kering di wilayah Indonesia. Tetapi berapa banyak orang yang tahu apa penyebab terjadinya El Nino? Apakah El Nino satu-satunya yang menyebabkan iklim kering di seluruh wilayah Indonesia?

Sejak di sekolah dasar dan sekolah menengah, kita sudah diperkenalkan bahwa Indonesia memiliki dua musim yaitu musim basah dan musim kering atau juga sering disebut sebagai musim hujan dan musim kemarau. Angin musiman (monsoon) diketahui sebagai penyebab terjadinya kedua musim periodik tersebut. Tetapi awal dan panjang musim hujan dan musim kering tidak selalu sama setiap tahun.

Dikenal sebagai negara maritim, secara geografis posisi Indonesia terletak di antara Samudera Pasifik dan samudera Hindia. Sedikit banyak, fenomena dan proses iklim yang terjadi di Indonesia dipengaruhi oleh fenomena yang terjadi di kedua samudera tersebut.

Pengaruh ENSO

Masyarakat sudah sering mendengar tentang fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO), tetapi apa dan bagaimana fenomena tersebut terjadi mungkin hanya masyarakat tertentu yang memahaminya.

ENSO merupakan fenomena yang terjadi di samudera Pasifik oleh karena adanya perubahan suhu muka laut di wilayah tersebut. Sistem Pasifik ekuator di bagian barat memainkan peranan penting dalam pembentukan fenomena interaksi laut dan atmosfer ini, dimana frekuensi fenomena ini secara historis tidak teratur yaitu 2-7 tahun sekali. Walaupun nama ENSO memiliki unsur kata El Nino, tidak berarti bahwa fenomena ENSO ini hanya El Nino saja.

ENSO memiliki dua karakteristik yaitu El Nino dan La Nina. El Nino dikenal sebagai penyebab terjadinya iklim kering dan berkurangnya curah hujan karena membawa massa udara yang kering ke wilayah Indonesia, sedangkan sebaliknya La Nina menyebabkan terjadinya iklim basah karena menyebabkan semakin tinggi potensi terbentuknya awan hujan. Dalam periode ENSO selama 2-7 tahun, kejadian El Nino dan La Nina bisa terjadi bolak balik.

Lalu apa hubungannya dengan laut?

Faktor pemicu El Nino dan La Nina adalah kekuatan angin yang bergerak di atas samudera Pasifik wilayah tropis. Apabila angin lemah, maka suhu hangat yang berada di samudera Pasifik tidak bergerak ke wilayah Indonesia, sehingga suhu muka laut lebih dingin dan pembentukan awan hujan juga cenderung sedikit karena tekanan udara yang tinggi yang kemudian menyebabkan terjadinya kekeringan. Hal sebaliknya terjadi pada saat La Nina. Curah hujan akan meningkat karena suhu muka laut menghangat, dan proses pembentukan awan semakin tinggi karena pergerakan udara meningkat oleh karena tekanan udara yang rendah.

Lalu apakah karena ENSO terjadi setiap 2-7 tahun sekali, kemudian kita tidak perlu waspada terhadap kejadian kebakaran hutan?

Apakah karena penyebab ENSO di samudera Pasifik yang berada di sebelah timur Indonesia kemudian kita juga tidak perlu waspada terhadap kondisi iklim di wilayah barat karena modulasi ENSO yang mungkin melemah?

Kita harus ingat bahwa di bagian barat, posisi Indonesia bersebelahan dengan Samudera Hindia. Kondisi iklim sedikit banyak juga dipengaruhi oleh fenomena iklim di Samudera Hindia.

Samudera Hindia mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan Samudera Pasifik yang merupakan proses interaksi antara laut dengan atmosfer. Para ilmuwan membagi wilayah Samudera Hindia menjadi dua yaitu : Samudera Hindia sebelah barat dan Samudera Hindia sebelah timur untuk mengukur perbedaan suhu muka laut yang memiliki karakteristik berbeda di saat yang bersamaan.

Last Updated on Tuesday, 12 November 2019 15:59 Read more...