Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

SDM Unggul Pusriskel Dilantik Menjadi Pejabat Struktural Di Lingkungan BRSDM KKP

E-mail Print PDF

Jakarta, 31 Desember 2019. Jelang akhir tahun 2019, Kementerian Kelautan dan Perikanan mengisi kekosongan beberapa jabatan struktural eselon 4, eselon 3, dan eselon 2 dengan melantik sejumlah sumber daya manusia (SDM) unggul di lingkup KKP. Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo melantik 25 pejabat Eselon II, 110 pejabat Eselon III, dan 123 pejabat eselon IV lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), pada hari Jumat 20 Desember 2019, di Gedung Mina Bahari KKP, Jakarta Pusat. Menurut Menteri Edhy Prabowo, pelantikan ini bertujuan untuk merapatkan barisan, melengkapi kekuatan untuk percepatan pencapaian beberapa program prioritas KKP. Terdapat 2 (dua) orang SDM unggul yang dimiliki oleh Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) turut dilantik menjadi pejabat struktural, Dr. Aulia Riza Farhan menjadi Kepala Balai Riset Konservasi Sumber Daya Ikan, dan Sdr. Hilman Ramadhan, S.E. sebagai Kepala Sub Bagian Pemeliharaan di Biro Umum Sekretariat Jenderal KKP. Pada Senin 30 Desember 2019, bertempat di kantor Balai Riset Konservasi SDI di Jatiluhur, Jawa Barat, berlangsung acara serah terima jabatan antara Kepalai Balai sebelumnya, yakni Dr. Joni Haryadi kepada Kepala Balai yang baru yakni Dr. Aulia Riza Farhan. Acara sertijab disambut dengan suka cita oleh segenap jajaran staf dan para peneliti di Balai Riset tersebut. Adapun Dr. Joni Hariyadi mendapatkan amanah menjadi pimpinan di UPT BRSDM yang strategis lainnya, yakni menjadi Kepala Balai Riset Pemuliaan Genetika Sumber Daya Ikan di Sukamandi.


Last Updated on Tuesday, 31 December 2019 13:25
 

Dukungan Pemerintah Terhadap Teknologi Wakatobi AIS

E-mail Print PDF

Wakatobi, 23 Desember 2019.  Setelah melalui proses pengujian yang sudah mencapai tahap final pihak LPTK akan melanjutkan pada proses sertifikasi dibeberapa kementerian dan lembaga sehingga nanti dibuatkan regulasi terkait produksi massal dan penggunaannya oleh masyarakat . Beberapa kementerian dan lembaga itu antara lain Kementerian Perhubungan, Kementerian Kominfo, Badan SAR Nasional dan Kementerian Hukum dan HAM untuk mendapatkan pengakuan hak atas kekayaan intelektual, sementara itu pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Wakatobi juga sangat mendukung adanya Teknologi AIS, terbukti dengan adanya anggaran riset  terhadap Wakatobi AIS tersebut. Kementerian Perhubungan sudah mengeluarkan regulasi yakni Peraturan Menteri Perhubungan nomor 7 tahun 2018 dimana aturan tersebut mengharuskan semua kapal yang berlayar di seluruh perairan Indonesia wajib menggunakan teknologi AIS. Kepala LPTK Wakatobi Akhmatul Ferlin mengatakan “Tentunya ini merupakan angin segar bagi Wakatobi AIS sehingga penggunaan dan pemakaian teknologi ini sudah didukung oleh regulasi yang ada, kemudian di tingkat Pemerintahan Daerah juga mendukung berkaitan dengan teknologi ini dan pada tahun anggaran 2019 Pemda Wakatobi mendukung pelaksanaan riset teknologi Wakatobi AIS”.

Sumber : Youtube Wakatobi TV


Last Updated on Tuesday, 31 December 2019 13:19
 

Apresiasi Ketua LGN Maritim CTI Terhadap Institusi Riset di Wakatobi

E-mail Print PDF


WAKATOBI - Di tengah kegiatannya yang padat, pada reses di Provinsi Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, Anggota Fraksi PDIP DPR RI, menyempatkan berkunjung ke Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK), (21/12/2019). Loka tersebut merupakan unit Kerja Pusat Riset Kelautan - Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (PRK-BRSDM KP), yang berkedudukan di Kabupaten Wakatobi.LPTK dibangun di Wakatobi pada 2011 kala Hugua menjabat Bupati Wakatobi. Selama masa kepemimpinannya di Wakatobi, LPTK dijadikan sebagai etalase Kabupaten Wakatobi. Hampir semua tamu penting yang datang ke Wakatobi dipastikan berkunjung ke LPTK sebagai Center of Excellent Pada kunjungannya kali ini -- kunjungan pertama sejak resmi menjadi anggota DPR RI Periode 2019 – 2024 - Hugua diterima Akhmatul Ferlin (Kepala LPTK BRSDM KP), didampingi Efi Noferya (Kasubsie Pelayanan Teknis LPTK), Sunarwan Asuhadi (Ketua Kelompok Peneliti dan Perekayasa LPTK), serta Arief Rahman (Fungsional Perekayasa LPTK).
Hadir pula Manafi, salah satu anggota Tim Tujuh Pemekaran Wakatobi sebagai Kabupaten, serta pernah menduduki sejumlah jabatan penting pada masa kepemimpinan Hugua sebagai Bupati Wakatobi periode 2006-2011.Akhmatul Ferlin, amat bersemangat memperkenalkan dua inovasi unggulan LPTK di hadapan Hugua. Inovasi unggulan LPTK tersebut, secara khusus di-branding dengan akronim Wakatobi, baik pada inovasi rancang bangun riset teknologi pengawasan laut maupun konservasi laut.“Teknologi Konservasi Laut disebut dengan Wahana Perekayasaan Teknologi Konservasi Biota Sea Bamboo disingkat Wakatobi-Sea Bamboo, yang risetnya telah dimulai sejak tahun 2016,” jelas Akhmatul yang merupakan putra kelahiran Batulo Pulau Buton tersebut. Menurutnya, riset ini merupakan amanah dari Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 46/KEPMEN-KP/2014 Tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Bambu Laut (Isis spp).
Hugua yang saat ini adalah juga Ketua Asosiasi Pemerintah Daerah Maritim 6 Negara CTI/ Maritim Local Government Network (Maritim LGN) memberikan apresiasi terkait riset Wakatobi-Sea Bamboo. Bambu laut dikenal sebagai salah satu komoditas ekspor yang memiliki banyak manfaat, seperti bahan kosmetika, kerajinan tangan, bahan porselin, senyawa anti virus, bahkan dikenal sebagai ginseng laut."Saya akan mendorong ini kepada teman-teman yang ada di fraksi yang relevan serta kepada mitra kami di Kementerian agar menaruh perhatian pada pengembangan riset ini," janji Hugua.Setelah memperkenalkan Teknologi Wakatobi-Sea Bamboo, Akhmatul Ferlin lalu memperkenalkan teknologi inovasi unggulan LPTK yang disebut dengan WakatobiAIS yang merupakan akronim dari Wahana Keselamatan dan Pemantauan Obyek Berbasis AIS, yang risetnya telah dimulai sejak tahun 2017.
"WakatobiAIS dipersembahkan oleh LPTK untuk mengisi kekosongan teknologi keselamatan dan keterpantauan nelayan kecil yang selama ini merupakan segmentasi terbanyak yang mengalami kecelakaan laut,” kata pria yang akrab disapa Ferlin ini. “Kelebihan lain WakatobiAIS adalah memiliki tombol SOS yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk menyampaikan keadaan darurat baik pada Base Station di darat maupun kapal-kapal lainnya yang ada di sekitar kejadian," tambahnya.Menanggapi penyampaian Kepala LPTK tersebut, Hugua merespons bahwa agar WakatobiAIS dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat luas, khususnya para nelayan, dia berharap segera dilanjutkan dengan upaya sertifikasi.“Saya berharap LPTK segera menyelesaikan tahapan sertifikasi, sehingga WakatobiAIS dapat segera diproduksi massal melalui pihak industri," sarannya.Kunjungan Hugua di LPTK kali ini ditutup dengan sesi santai di ruang balkon LPTK yang terletak persis menghadap Laut Banda, kawasan yang menjadi ekosistem maritim bersama bagi Kawasan Indonesia Timur. (*)

Sumber Berita : Kumparan.com



Last Updated on Monday, 23 December 2019 08:30
 

Peneliti Pusriskel Sosialisasikan Aplikasi SI Kenelayanan

E-mail Print PDF


Jakarta, 02 Desember 2019. Pada hari Rabu - Kamis tanggal 27 - 28 November 2019  Peneliti Pusriskel yakni Penny Diah K., M.Si. didampingi oleh Pranata Komputer Adi Darmawan dan staf Tata Usaha  Hilman Ramadahan melaksanakan kegiatan implementasi sosialisasi Sistem Informasi Kenelayanan (SI Kenelayanan) di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Batang dan Kabupaten Jepara. Hari pertama, Rabu 27 November 2019, sosialisasi dilaksanakan terlebih dahulu di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Batang.  Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan, Bapak Tri Haryadi Sudaryanto dan dihadiri oleh perwakilan kelompok nelayan Kabupaten Batang serta penyuluh perikanan.


Pada hari kedua, Kamis 28 November 2019 sosialisasi dilanjutkan di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jepara, acara  dibuka oleh Kabid Perikanan Tangkap, Ibu Yenny Diah Sulistiyani dan dihadiri oleh perwakilan KUB Kabupaten Jepara,  penyuluh perikanan dan pegawai di jajaran bidang perikanan tangkap


Last Updated on Monday, 02 December 2019 14:27
 

Peneliti Pusriskel Berjanji Turut Aktif Fight Against X-Crime Di Laut dan Pesisir

E-mail Print PDF

Jakarta, 29 November 2019. Dr. Budhi Gunadharma Peneliti Pusat Riset Kelautan (Pusriskel) bidang oseanografi terapan yang berkecimpung sebagai ahli pemodelan sebaran tumpahan minyak, pada hari Selasa-Jumat tanggal 26-29 November 2019 ikut aktif dalam acara Forum Ahli Penanganan Sengketa Lingkungan Hidup di Batam yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Acara tersebut menghasilkan Deklarasi Forum Komunikasi Ahli Dalam Rangka Penegakkan Hukum Lingkungan dan Sumber Daya Alam NKRI, yang  berkomitmen untuk memperkuat kerjasama antar bidang studi dan berbagi informasi tentang perkembangan ilmu terkait lingkungan hidup dan sumberdaya alam, memberikan dukungan terkait keahlian masing-masing dalam upaya penegakan hukum lingkungan dan sumberdaya alam untuk kepentingan perlindungan lingkungan hidup dan sumberdayaaAlam yang berkelanjutan.  Komitmen tersebut diperlukan  berdasarkan pertimbangan bahwa kondisi lingkungan hidup dan sumber daya alam saat ini yang  memprihatinkan dan banyaknya  pelanggaran dan kejahatan lingkungan hidup dan sumber daya alam yang menimbulkan berbagai dampak bagi generasi saat ini dan mengancam kehidupan generasi yang akan datang.


Last Updated on Friday, 29 November 2019 09:48
 

Hikmah Tragedi Baruna Jaya I Saatnya WakatobiAis Selamatkan Nelayan!

E-mail Print PDF

Belum hilang ingatan kita pada kasus yang menimpa Aldi, seorang nelayan Minahasa Utara yang 1,5 bulan hanyut terombang-ambing hingga di Perairan Laut Jepang tahun 2018 lalu, di awal November 2019 ini kembali terjadi peristiwa kecelakaan laut yang menimpa tiga nelayan Banten, dan seorang dinyatakan hilang. Kasus ini merupakan satu dari 841 kasus nelayan hilang yang terhitung sejak 2010 hingga 2019.

Peristiwa naas tersebut terjadi setelah perahu congkreng yang ditumpangi tiga nelayan terlibat kecelakaan dengan Kapal Baruna Jaya 1 milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang sedang melakukan survey, pada Sabtu lalu (2/11/2019).

“Kita tidak ingin kasus yang sama berulang-ulang terjadi, padahal kita punya teknologinya,” ujar Akhmatul Ferlin, Kepala Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan menanggapi kecelakaan yang menimpa tiga nelayan Banten tersebut.

Meski berbeda modus dengan kasus yang menimpa Aldi, kecelakaan yang menimpa tiga nelayan tersebut seyogyanya bisa dihindari jika nelayan di tanah air dapat memanfaatkan teknologi Wahana Keselamatan dan Pemantauan Obyek Berbasis Automatic Identification System (WakatobiAIS) yang saat ini dikembangkan oleh LPTK BRSDM KP – Solusi 247.

Terkait pemanfaatan peralatan navigasi Automatic Identification System (AIS), Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 7 Tahun 2019 Tentang Pemasangan dan Pengaktifan Sistem Identifikasi Otomatis Bagi Kapal Yang Berlayar di Wilayah Perairan Indonesia.

Pasal 5 ayat (1) PM 7 Tahun 2019 tersebut, menyebutkan bahwa AIS Klas A wajib dipasang dan diaktifkan pada Kapal Berbendera Indonesia yang memenuhi persyaratan Konvensi Safety of Life at Sea (SOLAS) yang berlayar di wilayah Perairan Indonesia.

Sedangkan pada ayat (2) menyatakan bahwa AIS Klas B wajib dipasang dan diaktifkan pada Kapal Berbendera Indonesia, yakni pada Kapal penumpang dan Kapal barang Non Konvensi dengan ukuran paling rendah GT 35 (tiga puluh lima Gross Tonnage) yang berlayar di wilayah Perairan Indonesia, serta pada Kapal yang berlayar antar lintas negara atau yang melakukan barter-trade atau kegiatan lain yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kepabeanan, serta (3) pada Kapal penangkap ikan berukuran dengan ukuran paling rendah GT 60 (enam puluh Gross Tonnage).

“Dengan demikian, belum ada keberpihakan teknologi dan kebijakan untuk keselamatan dan keamanan pelayaran untuk kapal dengan dimensi < 35 GT maupun kapal penangkap ikan < 60 GT (unregulated fishing and shipping), bahkan kebijakan ini terancam mengalami moratorium,” beber Ferlin menambahkan.

Untuk menjembatani itu, LPTK BRSDM KP – Solusi 247 menghadirkan teknologi WakatobiAIS. WakatobiAIS memang didesain untuk memberikan dukungan operasional bagi keselamatan dan keamanan pada kapal-kapal yang berukuran kecil, misalnya pada kapal yang dioperasikan oleh nelayan kecil (<10 GT), sehingga mereka memiliki kemudahan dalam menavigasi kapal serta memberikan sinyal mara bahaya ke stasiun-stasiun sarana bantu navigasi-pelayaran, jika sewaktu-waktu mengalami resiko pada saat melakukan pelayaran atau penangkapan ikan.

Last Updated on Tuesday, 05 November 2019 12:37 Read more...