Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Indonesia Science Expo 2019

E-mail Print PDF


Last Updated on Thursday, 17 October 2019 09:10
 

Implementasi Aplikasi NELPIN dalam Program Nelayan Go Online

E-mail Print PDF


Kementerian kelautan dan perikanan melalui pusat riset kelautan telah ikut berperan aktif dalam program nelayan go online dari kementerian komunikasi dan informatika. program ini bertujuan untuk memberikan salah satu solusi permasalahan perikanan yakni pemanfaatan aplikasi digital berupa aplikasi dasar untuk nelayan yaitu aplikasi sistem informasi kenelayanan 'NELPIN' .

NELPIN merupakan aplikasi berbasis android yang dibuat dan dikembangkan sejak 2015 dan dapat diperoleh secara gratis melalui Playstore. Aplikasi ini memiliki fitur -fitur andalan antara lain Peta prakiraan daerah  penangkapan ikan (PPDPI), informasi cuaca gelombang dan arah angin, informasi perkiraan BBM, harga ikan dan pelabuhan serta informasi lainnya.

Sumber informasi data dari aplikasi ini adalah hasil produk dari Balai Riset Observasi Laut dan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap KKP serta juga hasil kerjasama dengan instansi lain yaitu Badan Meteorologi Klimatilogi dan Geofisika.


Sejak bulan januari 2019 sampai sekarang ,program ini sudah berjalan lebih dari 5 lokasi di indonesia dari kabupaten pasaman barat, kabupaten kupang, kab nunukan, kab selayar, kab Parigi Moutong, Kab Biak Numfor, Kab Rote Ndao dan terakhir di Kab Jayapura.

Dalam kegiatan ini dilakukan ujicoba penggunaan aplikasi  nelpin dari awal yaitu proses unduh dari playstore  hingga akhir dalam menggunakan aplikasinya. Diharapkan di akhir program ini, nelayan Indonesia lebih memanfaatkan teknologi informasi untuk membantu dalam kegiatannya menangkap ikan di laut.




Last Updated on Tuesday, 15 October 2019 15:59
 

Kondisi di Laut Memicu Terjadinya Kebakaran Hutan?

E-mail Print PDF

  • Kebakaran hutan bisa terjadi karena faktor kejadian alam, salah satunya adalah iklim yang kering.
  • Fenomena dan proses iklim yang terjadi di Indonesia dipengaruhi oleh fenomena yang terjadi di kedua samudera Hindia dan samudera Pasifik, seperti fenomena El Nino penyebab iklim yang kering.
  • Fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) terjadi di samudera Pasifik dengan dua karakteristik yaitu El Nino dan La Nina. El Nino dikenal sebagai penyebab terjadinya iklim kering dan La Nina menyebabkan terjadinya iklim basah
  • Iklim di Indonesia juga dipengaruhi pertukaran suhu muka laut di Samudera Hindia yaitu Indian Ocean Dipole (IOD) dengan indeks IOD atau Dipole Mode Index (DMI) yang membuat suhu muka laut di sepanjang pantai barat Sumatra dan selatan Jawa berada dalam kondisi dingin dan membuat iklim kering.

Terlepas dari kejadian kebakaran hutan dan lahan karena tujuan tertentu dan bagaimana penegakan hukumnya, kejadian kebakaran hutan di Indonesia tahun ini bukanlah kejadian yang pertama kali.

Kebakaran hutan juga bisa terjadi karena faktor kejadian alam, salah satunya adalah iklim yang kering. Sederhananya karena iklim dan cuaca yang kering, ranting-ranting pohon yang kemudian bergerak karena angin akan saling bergesekan dan kemudian menimbulkan percikan api.

El Nino paling sering disebut-sebut yang sebagai penyebab terjadinya iklim kering di wilayah Indonesia. Tetapi berapa banyak orang yang tahu apa penyebab terjadinya El Nino? Apakah El Nino satu-satunya yang menyebabkan iklim kering di seluruh wilayah Indonesia?

Sejak di sekolah dasar dan sekolah menengah, kita sudah diperkenalkan bahwa Indonesia memiliki dua musim yaitu musim basah dan musim kering atau juga sering disebut sebagai musim hujan dan musim kemarau. Angin musiman (monsoon) diketahui sebagai penyebab terjadinya kedua musim periodik tersebut. Tetapi awal dan panjang musim hujan dan musim kering tidak selalu sama setiap tahun.

Dikenal sebagai negara maritim, secara geografis posisi Indonesia terletak di antara Samudera Pasifik dan samudera Hindia. Sedikit banyak, fenomena dan proses iklim yang terjadi di Indonesia dipengaruhi oleh fenomena yang terjadi di kedua samudera tersebut.

Pengaruh ENSO

Masyarakat sudah sering mendengar tentang fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO), tetapi apa dan bagaimana fenomena tersebut terjadi mungkin hanya masyarakat tertentu yang memahaminya.

ENSO merupakan fenomena yang terjadi di samudera Pasifik oleh karena adanya perubahan suhu muka laut di wilayah tersebut. Sistem Pasifik ekuator di bagian barat memainkan peranan penting dalam pembentukan fenomena interaksi laut dan atmosfer ini, dimana frekuensi fenomena ini secara historis tidak teratur yaitu 2-7 tahun sekali. Walaupun nama ENSO memiliki unsur kata El Nino, tidak berarti bahwa fenomena ENSO ini hanya El Nino saja.

ENSO memiliki dua karakteristik yaitu El Nino dan La Nina. El Nino dikenal sebagai penyebab terjadinya iklim kering dan berkurangnya curah hujan karena membawa massa udara yang kering ke wilayah Indonesia, sedangkan sebaliknya La Nina menyebabkan terjadinya iklim basah karena menyebabkan semakin tinggi potensi terbentuknya awan hujan. Dalam periode ENSO selama 2-7 tahun, kejadian El Nino dan La Nina bisa terjadi bolak balik.

Lalu apa hubungannya dengan laut?

Faktor pemicu El Nino dan La Nina adalah kekuatan angin yang bergerak di atas samudera Pasifik wilayah tropis. Apabila angin lemah, maka suhu hangat yang berada di samudera Pasifik tidak bergerak ke wilayah Indonesia, sehingga suhu muka laut lebih dingin dan pembentukan awan hujan juga cenderung sedikit karena tekanan udara yang tinggi yang kemudian menyebabkan terjadinya kekeringan. Hal sebaliknya terjadi pada saat La Nina. Curah hujan akan meningkat karena suhu muka laut menghangat, dan proses pembentukan awan semakin tinggi karena pergerakan udara meningkat oleh karena tekanan udara yang rendah.

Lalu apakah karena ENSO terjadi setiap 2-7 tahun sekali, kemudian kita tidak perlu waspada terhadap kejadian kebakaran hutan?

Apakah karena penyebab ENSO di samudera Pasifik yang berada di sebelah timur Indonesia kemudian kita juga tidak perlu waspada terhadap kondisi iklim di wilayah barat karena modulasi ENSO yang mungkin melemah?

Kita harus ingat bahwa di bagian barat, posisi Indonesia bersebelahan dengan Samudera Hindia. Kondisi iklim sedikit banyak juga dipengaruhi oleh fenomena iklim di Samudera Hindia.

Samudera Hindia mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan Samudera Pasifik yang merupakan proses interaksi antara laut dengan atmosfer. Para ilmuwan membagi wilayah Samudera Hindia menjadi dua yaitu : Samudera Hindia sebelah barat dan Samudera Hindia sebelah timur untuk mengukur perbedaan suhu muka laut yang memiliki karakteristik berbeda di saat yang bersamaan.

Last Updated on Monday, 07 October 2019 15:21 Read more...
 

Ocean Color 2019

E-mail Print PDF




Last Updated on Friday, 20 September 2019 07:10
 

Seminar : Milenial Perangi Sampah Plastik

E-mail Print PDF



Last Updated on Thursday, 19 September 2019 09:06
 

Sampah Plastik Indonesia Nyasar sampai ke Pantai Phuket Thailand. Kok Bisa?

E-mail Print PDF

Pada pertengahan Agustus 2019, masyarakat kota Phuket, Thailand dihebohkan dengan banyaknya sampah yang menumpuk dan berserakan di pesisir pantai wilayahnya seperti di Pantai Naiyang dan Pantai Maikhao.

“Sudah beberapa hari masyarakat di Phuket, Thailand secara sukarela membersihkan sampah di pantai. Musim hujan angin telah membawa sampah-sampah itu ke sini,” kata Ivana Kusumawati yang memposting tumpukan sampah dalam postingan Instagramnya Minggu (11/8/2019).


Hal yang mengejutkan sekaligus memalukan adalah, sebagian besar sampah plastik tersebut berasal dari Indonesia. Hal itu diketahui setelah meneliti tulisan dan keterangan pada berbagai bungkusan dan botol sampah plastik itu.

Ada kemasan minuman, permen, minyak goreng, sampai racun tikus produksi dari beberapa kota seperti Medan, Jakarta, dan Surabaya. “Entah sudah berapa tahun sampah itu mengambang di lautan,” kata Ivana.

Selain itu, terlihat ada penyu yang mati terdampar dan terlilit sampah. “Hari ini mataku menyaksikan sendiri hewan-hewan yang mati itu dengan sampah di sekelilingnya dari negeri kita yang datang bermil-mil jauhnya,” lanjutnya.

Tumpukan sampah plastik yang sangat banyak itu tentu membutuhkan waktu dan tenaga untuk membersihkannya. Dan tentunya menyisakan mikro plastik dari penguraian sampah plastik selama di lautan.

“Sedangkan mikro plastik yang masih lautan itu jadi konsumsi hewan-hewan laut, dan hewan-hewan laut itu juga yang jadi konsumsi di meja makan kita,” kata Ivana dalam postingannya.

“Tak banyak yang bisa kulakukan selain membagikan berita buruk ini, sebuah tamparan bagi kita semua. Aku sangat malu, berkali-kali aku meminta maaf pada masyarakat yang kutemui di pantai ini dan aku tahu kata maaf tidak cukup,” lanjutnya.

Ivana sendiri merupakan WNI asal Surabaya yang berdomisili di Bangkok sejak Oktober 2018. Hampir setiap akhir pekan, pekerja desain grafis dan ilustrator itu berkunjung ke Phuket.

Komentar Netizen

Postingan Instagram Ivana itu kemudian menjadi viral dan ramai diperbincangkan netizen dengan 13,7 ribu like dan 500-an komentar. Ada netizen dari Indonesia yang menanggapi bahwa sampah itu dibuang orang Thailand di Phuket dari barang yang dibeli saat berkunjung di Indonesia.

“Itu berita bohong, bahwa sampah itu dibuang orang Thailand yang membeli barang saat berkunjung ke Indonesia,” kata Ivana saat dihubungi Mongabay Indonesia, Selasa (13/8/2019).

Ngapain orang Thailand beli pembersih kaca ke Indonesia? Kalau memang barang itu impor dari Indonesia ke Thailand, pasti tulisan dalam kemasannya bukan dalam bahasa Indonesia. Kemasan itu berarti memang produk lokal Indonesia,” kata Ivana menirukan tanggapan orang-orang Phuket ketika dianggap sampah plastik itu berasal dari Thailand sendiri.

Ivana sendiri mengakui jarang sekali melihat barang impor produksi Indonesia, kecuali mie instan. “Kalo Indomie gampang dicari,” katanya.

Informasi yang dihimpun Ivana dari komunitas relawan bersih pantai Phuket yang menyebutkan sampah plastik itu mulai ada menumpuk tiap tahun sejak pasca tsunami tahun 2004. Dan tumpukan mulai banyak sejak tahun 2016 sampai sekarang, terutama setiap Juli – Desember saat terjadinya angin barat pada musim monsoon.

“Tetapi tumpukan sampah yang paling banyak terjadi pada tahun ini. Pada awal Agustus itu,” kata Ivana.

Meskipun tumpukan sampah itu sebagian besar, bahkan 80 persen merupakan sampah dari Indonesia, Malaysia dan Filipina, lanjut Ivana, masyarakat kota Phuket terkesan tidak menyalahkan Indonesia dan lebih fokus untuk rutin tiap minggu membersihkan sampah di pesisir pantai.

“Kebetulan pacar saya anggota DPR Thailand yang melakukan survey soal sampah. Konsen mereka justru bagaimana mencegah tumpukan sampah karena tidak punya cukup anggaran untuk pembersihan sampah,” terangnya.

Setelah pembersihan intensif hampir setiap hari oleh relawan dan warga kota Phuket, saat ini pantai Pantai Naiyang dan Pantai Maikhao sudah bersih dari sampah.

“Pembersihan pantai terus berlanjut. Pada tanggal 20 Agustus, sampah di pantai tinggal sekitar 20 persen. Pada tanggal 22 Agustus, ada ratusan orang yang membersihkan pantai itu. Dan sekarang pantai sudah bersih. Musim juga sudah berganti, sehingga mungkin tidak ada lagi kiriman sampah ke pantai,” kata Ivana saat dihubungi Mongabay Indonesia pada Minggu (8/9/2019).

Arus Laut

Bagaimana sampah plastik dari Indonesia bisa sampai ke Phuket, Thailand?

Peneliti Madya Bidang Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Widodo Pranowo mencoba menganalisa arus laut yang membawa sampah dari Indonesia menuju ke Phuket, Thailand.

Widodo menjelaskan arus laut di Selat Malaka, Selat Karimata dan Laut Jawa itu saling berhubungan. Secara umum pada bulan Juni hingga Agustus terjadi angin monsoon timur di Laut Jawa, dimana angin bergerak dari arah timur menuju ke Barat. Angin timur ini lebih kencang dibandingkan angin barat.

Angin monsoon tenggara ini menyeret permukaan air Laut Jawa menghasilkan arus permukaan. Arus permukaan yang menuju ke barat, di Laut Jawa ini, semakin kuat karena ada dorongan pula oleh Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau Indonesia Through Flow (ITF).

“Sehingga pada periode angin monsoon timur yang biasanya mulainya Juni, dengan puncaknya terjadi padaJuli/Agustus, berakhir di September/Oktober, memungkinkan mengangkut material apapun termasuk sampah plastik dari Laut Jawa menuju ke Selat Malaka melalui Selat Karimata,” kata Widodo kepada Mongabay Indonesia, Rabu (14/8/2019).


Sedangkan probabilitas sampah plastik makro terangkut arus permukaan hingga jauh adalah lebih besar ketimbang sampah mikro plastik. “Sampah mikro plastik selain terangkut oleh arus permukaan, dia akan teraduk di kolom air. Sementara jika di pesisir masih ada variasi arus pasang surut yang sifatnya bolak-balik setiap 6 atau 12 jam,” jelasnya.

Widodo melakukan set up lokasi investigasi arus yang berputar-putar yang biasa disebut Arus Putaran (Eddy Current) dengan batas koordinat geografisnya 100 LU untuk bagian utara, 20 LU untuk bagian selatan, 930 BT untuk bagian barat dan 1000 BT untuk bagian timur.

Ada 3 skenario arus yang dibuat yaitu (1) arus dengan legenda kecepatan arus 1 m/detik menampilkan kota Belawan Sumut dan pesisir Naiyang Phuket, (2) arus dengan legenda kecepatan arus 1 m/detik menampilkan kota Belawan dan Phuket ditambah kota lain, dan (3) arus dengan legenda kecepatan arus 0.5 m/detik menampilkan beberapa kota.


“Alasan menampilkan beberapa kota adalah sebagai gambaran, apakah ada kota pesisir lainnya diduga turut terkena imbas sampah atau sebagai sumber sampah,” katanya.

Secara umum, arus laut dari Selat Malaka secara umum bergerak menuju ke Barat Laut. Namun kemudian terbagi menjadi 2 rezim arus lintang saat berada pada 60 LU, sebut saja arus rezim selatan dan arus rezim utara.

Rezim Selatan yaitu arus menyusuri pesisir utara Pulau Sumatera melewati Belawan, Teluk Semawe (Lhokseumawe), dan Banda Aceh. Kemudian di utara Banda Aceh, arus bergerak berubah arah, yaitu ada arus yang berputar arah ke timur laut, dan ada yang ke utara.

Kemudian, arus yang bergerak ke utara itu pada sekitar lintang 8,3 LU berbelok ke arah timur dan sedikit ke tenggara menuju Pantai Naiyang Pukhet.


Sedangkan arus laut di utara Banda Aceh yang berbelok ke TimurLaut, pada posisi di sekitaran 98,50 BT berputar arah kemudian berbalik ke Barat dan BaratLaut. Kemudian Ekstensi dari arus ke Barat dan BaratLaut ini bergerak ke Utara di sekitaran Bujur 98,1 0 BT menuju ke Pantai Naiyang Phuket.

“Sehingga Naiyang Phuket, kemungkinan mendapatkan pasokan sampah adalah dari arah Barat dan arah Selatan,” lanjutnya.

Widodo menambahkan berdasarkan sebuah penelitian, ada kemungkinan sampah plastik makro dari sungai-sungai yang bermuara di Teluk Jakarta, terbawa keluar dari Teluk Jakarta menuju ke arah Laut Jawa.

Sumber Berita : Mongabay.co.id




Last Updated on Friday, 20 September 2019 07:33