Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Ocean Color 2019

E-mail Print PDF




Last Updated on Friday, 20 September 2019 07:10
 

Seminar : Milenial Perangi Sampah Plastik

E-mail Print PDF



Last Updated on Thursday, 19 September 2019 09:06
 

Sampah Plastik Indonesia Nyasar sampai ke Pantai Phuket Thailand. Kok Bisa?

E-mail Print PDF

Pada pertengahan Agustus 2019, masyarakat kota Phuket, Thailand dihebohkan dengan banyaknya sampah yang menumpuk dan berserakan di pesisir pantai wilayahnya seperti di Pantai Naiyang dan Pantai Maikhao.

“Sudah beberapa hari masyarakat di Phuket, Thailand secara sukarela membersihkan sampah di pantai. Musim hujan angin telah membawa sampah-sampah itu ke sini,” kata Ivana Kusumawati yang memposting tumpukan sampah dalam postingan Instagramnya Minggu (11/8/2019).


Hal yang mengejutkan sekaligus memalukan adalah, sebagian besar sampah plastik tersebut berasal dari Indonesia. Hal itu diketahui setelah meneliti tulisan dan keterangan pada berbagai bungkusan dan botol sampah plastik itu.

Ada kemasan minuman, permen, minyak goreng, sampai racun tikus produksi dari beberapa kota seperti Medan, Jakarta, dan Surabaya. “Entah sudah berapa tahun sampah itu mengambang di lautan,” kata Ivana.

Selain itu, terlihat ada penyu yang mati terdampar dan terlilit sampah. “Hari ini mataku menyaksikan sendiri hewan-hewan yang mati itu dengan sampah di sekelilingnya dari negeri kita yang datang bermil-mil jauhnya,” lanjutnya.

Tumpukan sampah plastik yang sangat banyak itu tentu membutuhkan waktu dan tenaga untuk membersihkannya. Dan tentunya menyisakan mikro plastik dari penguraian sampah plastik selama di lautan.

“Sedangkan mikro plastik yang masih lautan itu jadi konsumsi hewan-hewan laut, dan hewan-hewan laut itu juga yang jadi konsumsi di meja makan kita,” kata Ivana dalam postingannya.

“Tak banyak yang bisa kulakukan selain membagikan berita buruk ini, sebuah tamparan bagi kita semua. Aku sangat malu, berkali-kali aku meminta maaf pada masyarakat yang kutemui di pantai ini dan aku tahu kata maaf tidak cukup,” lanjutnya.

Ivana sendiri merupakan WNI asal Surabaya yang berdomisili di Bangkok sejak Oktober 2018. Hampir setiap akhir pekan, pekerja desain grafis dan ilustrator itu berkunjung ke Phuket.

Komentar Netizen

Postingan Instagram Ivana itu kemudian menjadi viral dan ramai diperbincangkan netizen dengan 13,7 ribu like dan 500-an komentar. Ada netizen dari Indonesia yang menanggapi bahwa sampah itu dibuang orang Thailand di Phuket dari barang yang dibeli saat berkunjung di Indonesia.

“Itu berita bohong, bahwa sampah itu dibuang orang Thailand yang membeli barang saat berkunjung ke Indonesia,” kata Ivana saat dihubungi Mongabay Indonesia, Selasa (13/8/2019).

Ngapain orang Thailand beli pembersih kaca ke Indonesia? Kalau memang barang itu impor dari Indonesia ke Thailand, pasti tulisan dalam kemasannya bukan dalam bahasa Indonesia. Kemasan itu berarti memang produk lokal Indonesia,” kata Ivana menirukan tanggapan orang-orang Phuket ketika dianggap sampah plastik itu berasal dari Thailand sendiri.

Ivana sendiri mengakui jarang sekali melihat barang impor produksi Indonesia, kecuali mie instan. “Kalo Indomie gampang dicari,” katanya.

Informasi yang dihimpun Ivana dari komunitas relawan bersih pantai Phuket yang menyebutkan sampah plastik itu mulai ada menumpuk tiap tahun sejak pasca tsunami tahun 2004. Dan tumpukan mulai banyak sejak tahun 2016 sampai sekarang, terutama setiap Juli – Desember saat terjadinya angin barat pada musim monsoon.

“Tetapi tumpukan sampah yang paling banyak terjadi pada tahun ini. Pada awal Agustus itu,” kata Ivana.

Meskipun tumpukan sampah itu sebagian besar, bahkan 80 persen merupakan sampah dari Indonesia, Malaysia dan Filipina, lanjut Ivana, masyarakat kota Phuket terkesan tidak menyalahkan Indonesia dan lebih fokus untuk rutin tiap minggu membersihkan sampah di pesisir pantai.

“Kebetulan pacar saya anggota DPR Thailand yang melakukan survey soal sampah. Konsen mereka justru bagaimana mencegah tumpukan sampah karena tidak punya cukup anggaran untuk pembersihan sampah,” terangnya.

Setelah pembersihan intensif hampir setiap hari oleh relawan dan warga kota Phuket, saat ini pantai Pantai Naiyang dan Pantai Maikhao sudah bersih dari sampah.

“Pembersihan pantai terus berlanjut. Pada tanggal 20 Agustus, sampah di pantai tinggal sekitar 20 persen. Pada tanggal 22 Agustus, ada ratusan orang yang membersihkan pantai itu. Dan sekarang pantai sudah bersih. Musim juga sudah berganti, sehingga mungkin tidak ada lagi kiriman sampah ke pantai,” kata Ivana saat dihubungi Mongabay Indonesia pada Minggu (8/9/2019).

Arus Laut

Bagaimana sampah plastik dari Indonesia bisa sampai ke Phuket, Thailand?

Peneliti Madya Bidang Oseanografi Terapan Pusat Riset Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Widodo Pranowo mencoba menganalisa arus laut yang membawa sampah dari Indonesia menuju ke Phuket, Thailand.

Widodo menjelaskan arus laut di Selat Malaka, Selat Karimata dan Laut Jawa itu saling berhubungan. Secara umum pada bulan Juni hingga Agustus terjadi angin monsoon timur di Laut Jawa, dimana angin bergerak dari arah timur menuju ke Barat. Angin timur ini lebih kencang dibandingkan angin barat.

Angin monsoon tenggara ini menyeret permukaan air Laut Jawa menghasilkan arus permukaan. Arus permukaan yang menuju ke barat, di Laut Jawa ini, semakin kuat karena ada dorongan pula oleh Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau Indonesia Through Flow (ITF).

“Sehingga pada periode angin monsoon timur yang biasanya mulainya Juni, dengan puncaknya terjadi padaJuli/Agustus, berakhir di September/Oktober, memungkinkan mengangkut material apapun termasuk sampah plastik dari Laut Jawa menuju ke Selat Malaka melalui Selat Karimata,” kata Widodo kepada Mongabay Indonesia, Rabu (14/8/2019).


Sedangkan probabilitas sampah plastik makro terangkut arus permukaan hingga jauh adalah lebih besar ketimbang sampah mikro plastik. “Sampah mikro plastik selain terangkut oleh arus permukaan, dia akan teraduk di kolom air. Sementara jika di pesisir masih ada variasi arus pasang surut yang sifatnya bolak-balik setiap 6 atau 12 jam,” jelasnya.

Widodo melakukan set up lokasi investigasi arus yang berputar-putar yang biasa disebut Arus Putaran (Eddy Current) dengan batas koordinat geografisnya 100 LU untuk bagian utara, 20 LU untuk bagian selatan, 930 BT untuk bagian barat dan 1000 BT untuk bagian timur.

Ada 3 skenario arus yang dibuat yaitu (1) arus dengan legenda kecepatan arus 1 m/detik menampilkan kota Belawan Sumut dan pesisir Naiyang Phuket, (2) arus dengan legenda kecepatan arus 1 m/detik menampilkan kota Belawan dan Phuket ditambah kota lain, dan (3) arus dengan legenda kecepatan arus 0.5 m/detik menampilkan beberapa kota.


“Alasan menampilkan beberapa kota adalah sebagai gambaran, apakah ada kota pesisir lainnya diduga turut terkena imbas sampah atau sebagai sumber sampah,” katanya.

Secara umum, arus laut dari Selat Malaka secara umum bergerak menuju ke Barat Laut. Namun kemudian terbagi menjadi 2 rezim arus lintang saat berada pada 60 LU, sebut saja arus rezim selatan dan arus rezim utara.

Rezim Selatan yaitu arus menyusuri pesisir utara Pulau Sumatera melewati Belawan, Teluk Semawe (Lhokseumawe), dan Banda Aceh. Kemudian di utara Banda Aceh, arus bergerak berubah arah, yaitu ada arus yang berputar arah ke timur laut, dan ada yang ke utara.

Kemudian, arus yang bergerak ke utara itu pada sekitar lintang 8,3 LU berbelok ke arah timur dan sedikit ke tenggara menuju Pantai Naiyang Pukhet.


Sedangkan arus laut di utara Banda Aceh yang berbelok ke TimurLaut, pada posisi di sekitaran 98,50 BT berputar arah kemudian berbalik ke Barat dan BaratLaut. Kemudian Ekstensi dari arus ke Barat dan BaratLaut ini bergerak ke Utara di sekitaran Bujur 98,1 0 BT menuju ke Pantai Naiyang Phuket.

“Sehingga Naiyang Phuket, kemungkinan mendapatkan pasokan sampah adalah dari arah Barat dan arah Selatan,” lanjutnya.

Widodo menambahkan berdasarkan sebuah penelitian, ada kemungkinan sampah plastik makro dari sungai-sungai yang bermuara di Teluk Jakarta, terbawa keluar dari Teluk Jakarta menuju ke arah Laut Jawa.

Sumber Berita : Mongabay.co.id




Last Updated on Friday, 20 September 2019 07:33
 

Prototipe Pencucian Garam Bergerak

E-mail Print PDF

Jakarta, 13 September 2019.  Pencucian garam sistem mekasnis bergerak, merupakan alat untuk meningkatkan nilai tambah garam krosok menjadi garam halus sejak dari lahan. Dengan menggunakan sistem pencucian garam mekanis di rumah produksi, alat ini mempunyai beberapa keunggulan,  yakni dapat memangkas biaya transportasi dan penyimpanan, memanfaatkan brine di lahan sebagai media pencuci, serta meningkatkan kadar NaCl, mengurangi limbah pengotor dan menyeragamkan butir garam sejak dari lahan.

informasi lebih detail dapat diunduh pada link Prototipe Pencucian Garam Bergerak


Last Updated on Friday, 13 September 2019 15:00
 

Pompa Air Tambak Garam

E-mail Print PDF

Jakarta, 13 September 2019. Sebagai salah satu upaya mempermudah para petambak garam di Madura dalam memproduksi garam, Instalasi Pengembangan Sumberdaya Air Laut (IPSAL), Pusat Riset Kelautan, BRSDMKP yang terletak di Kabupaten Pamekasan, Madura  berhasil membuat inovasi teknologi tepat guna yakni Pompa Air Tambak Garam ( Aplikasi Kincir Angin Sumbu Vertical). Kincir tersebut berfungsi sebagai alternative pengganti kincir kayu konvensional yang digunakan untuk memindahkan air ke tambak/petak garam. Kincir angin sumbu vertikal memiliki beberapa kelebihan dibandingkan kincir konvensional, yakni efektif untuk menambah air secara perlahan dan terus menerus tanpa merusak kolom air dan dasar tambak.

Informasi detail dapat diunduh pada link Pompa Air Tambak Garam


Last Updated on Friday, 13 September 2019 14:54
 

The 29th Workshop South China Sea

E-mail Print PDF


The 29th Workshop on Managing Potential Conflicts in the South China Sea had been held in Harmoni One Hotel, Batam, Indonesia,  11-12 September 2019. The Workshop was co-organized by the Policy Analysis and Development Agency of the Ministry of Foreign Affairs of the Republic Indonesia and the Center for the Southeast Asia Studies. The Workshop was attended by 54 participants from China, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, The Philippines, Chinese Taipei, and Viet Nam. The Indonesian delegation from Marine Research Center, Ministry of Marine Affairs and Fisheries, who are attended in this workshop i.e.: Dr. Widodo Pranowo, Dr. Budhi Gunadharma Gautama and Nicolaus Naibaho, S.H., M.ILIR.

Dr. Widodo Pranowo of Indonesia presented the Hydrodynamics and Transports in the Natuna Sea and South China Sea as Transboundary Pollution Analysis Reference. In his presentation, he elaborated that seawater mass in the Natuna Sea and the South China Sea are estimated to be composed by seawater mass originated from Bay of Bengal, as well as the North Pacific Subtropical and Intermediate Water. The seawater mass and current circulation in the Natuna Sea and South China Sea are strongly influenced by monsoonal wind. The unique Natuna Offself Current is presented to be likely transporting pollution intyo Natuna Sea and South China Sea, and then into related coastal waters.

His presentation proposed following recommendations: (1) The necessity to understand the relationship between the characteristic of seawater mass, hydrodynamics, and transport in Natuna and the South China Sea; (2) The needs to establish a joint research (consortium) to develop the science plan related to hydrodynamics and transport study on the Natuna Sea and South China Sea; (3) The need institute the working group to develop anticipatory measures of transboundary pollution in the Natuna Sea and the South China Sea.

Sumber berita : Link



Last Updated on Friday, 20 September 2019 07:05