Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

Berita

Tak Menjaga Laut, Manusia Akhirnya Memakan Plastik

E-mail Print PDF


Kita memakan plastik. Itu kesimpulan dari Christina Thiele dan Malcolm David Hudson, peneliti dari University of Southampton, yang mereka tulis dalam “Anda Memakan Plastik Mikro dalam Cara yang Tak Tarbayangkan”. Umat manusia tak hanya memakan plastik lewat ikan dan kerang, tapi banyak makanan lainnya.

Sebelumnya, pada Maret 2018 lalu, beberapa media internasional seperti BBC (pdf)menyiarkan penelitian yang dilakukan oleh State University of New York bersama Orb Media. Para peneliti menguji 259 botol air minum dari 11 merek di 8 negara, termasuk Indonesia. Ternyata, 93 persen air mineral botol yang menjadi sampel, terpapar mikroplastik.

Memang, belum ada kajian tentang bahaya mikroplastik ketika ia dikonsumsi manusia. Namun, Sherri Mason, profesor kimia dari State University of New York menyampaikan bahwa mikroplastik dapat berimbas pada kehidupan ekosistem daerah tersebut.

"Penelitian ini bukan hendak menuding merek tertentu, tapi menunjukkan bahwa [plastik] ini ada di mana-mana, menjadi bahan yang merangsek ke dalam masyarakat kita, dan meliputi air—semua produk yang kita konsumsi sehari-hari,” ungkap Mason seperti dikutip BBC.

Tak hanya itu, seorang ahli zoologi bernama Lucy Quinn, seperti ditulis BBC, menunjukkan ihwal bahwa studinya terhadap burung fulmar yang mati di pantai. Quinn menemukan bahwa burung fulmar yang mereka temukan mengandung 39 partikel plastik, dengan berat 0,32 gram.

“Saya tercengang ketika saya melihat balon di kerongkongannya, yang mungkin telah menyebabkan kematiannya, bersama bungkus plastik, sikat gigi dan bungkusnya. Saya merasa sangat prihatin dan harus melakukan sesuatu,” kata Quinn. Plastik-plastik itu sangat mungkin merusak kesehatan burung tersebut, dan memengaruhi kemampuan untuk berkembang biak, bahkan membunuhnya.

Last Updated on Wednesday, 15 August 2018 08:48 Read more...
 

Partisipasi Pusris Kelautan Dalam Persiapan Peluncuran Portal Kebijakan Satu Peta

E-mail Print PDF


Jakarta, 14 Agustus 2018.  Bertempat di Hotel Borobudur Jakarta pada hari Senin , 13 Agustus 2018, Badan Informasi Geospasila (BIG) dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menggelar acara Rapat Koordinasi Nasional Infrastruktur Informasi Geospsial  untuk kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dengan tema “ Indonesia Connected, Satu Peta Prestasi Bangsa”. Kegiatan ini merupakan persiapan untuk berbagi pakai data melalui jaringan Informasi Geospasial Nasional (JIGN) untuk mengakomodir data-data yang dihasilkan sesuai target Pelaksanaan Kebijakan Satu Peta. Seluruh data kebijakan satu peta akan dibagi pakaikan sesuai dengan ketentuan klasifikasi akses berbagi data melalui Jaringan Informasi Geospasial Nasional (JIGN).  Acara dibuka oleh Menteri Kemenko Perekonomian Darmin Nasution  dan   dihadiri oleh kurang lebih 140 undangan yang terdiri dari Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, Universitas, Dewan Juri Bhumandala Award 2018 dan Mitra Pemerintah.  Turut hadir mewakili Kepala Pusat Riset Kelautan yakni  Kepala Sub bidang Riset MItigasi, Adaptasi dan Konservasi Triyono, MT dan Peneliti Senior Dr. Anastasia R. Tisiana.


Last Updated on Tuesday, 14 August 2018 15:11
 

Seminar Nasional Kelautan dan Perikanan : Isu dan Tantangan Perikanan dan Kelautan Saat Ini"

E-mail Print PDF



Last Updated on Wednesday, 15 August 2018 10:00
 

Tim Kajian Kepekaan Lingkungan Pusat Riset Kelautan Lakukan Pantauan Kualitas Perairan Batam

E-mail Print PDF


Batam, 10 Agustus 2018. Kegiatan survei kajian kepekaan tumpahan minyak di perairan Bintan Batam yang dilakukan oleh tim pusat riset kelautan dibawah koordinator Dr. Widodo Pranowo pada hari ketiga, Kamis 09 Agustus 2018, melanjutkan survei  yang berlokasi di perairan Nongsa hingga Batu Merah. Tim melakukan pengambilan sampel kualitas air laut  menggunakan alat Water Quality  Checker (WQC) di 25 titik yang telah di plot sebelumnya  sepanjang 20 Km sesuai desain survei. Beberapa parameter kualitas air yang diambil diantaranya Suhu, Salinitas, Dissolved Oksigen (DO), pH, Nitrat, Fosfat, dan Silikat. Tim survei  terdiri dari Dr. Budhi Gunadharma (tim Leader), August Daulat, M.Sc., Joko Subandriyo, S.T, Rizal Fadlan Abida, S.T, Sari Novita, S.T dan Armyanda Tussadiah, S. Kel. dan didampingi oleh Kepala Subbidang Sumber Daya Laut Yenung Secasari, M.Sc. Survei di pulau Batam ini merupakan rangkaian survei yang telah dilakukan sebelumnya di Pulau Bintan pada bulan Mei  2018 lalu.


Last Updated on Monday, 13 August 2018 12:02
 

Perairan Pesisir Batam Terkonfirmasi Oleh Pusat Riset Kelautan Terdampak Tumpahan Minyak Sejak Lama

E-mail Print PDF


Batam, 09 Agustus 2018. Survei “Kajian Kepekaan Wilayah Perairan Bintan-Batam Terhadap Sebaran Tumpahan Minyak” yang dilakukan oleh tim survei Pusat Riset Kelautan dibawah Koordinator Dr. Widodo Pranowo, pada hari kedua (Rabu, 08 Agustus 2018) di Pulau Batam melakukan penyisiran  disepanjang  pantai utara mencari jejak tumpahan minyak yang terjadi berulang sepanjang tahun.  Tim yang terdiri dari Dr. Budhi Gunadharma (tim Leader), August Daulat, M.Sc., Joko Subandriyo, S.T, Rizal Fadlan Abida, S.T, Sari Novita, S.T dan Armyanda Tussadiah, S. Kel. dan didampingi oleh Kepala Subbidang Sumber Daya Laut Yenung Secasari, M.Sc. memulai  penyisiran dipesisir Batu Merah, Tanjung Pinggir, Turi Beach Resort dan Teluk Mata Ikan.  Jejak tumpahan minyak yang paling banyak ditemui terdapat di pesisir Turi Beach dan Tanjung Pinggir. Staf Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam Bapak Irham D. ikut mendampingi tim selama survei di Tanjung Pinggir serta membantu berkoordinasi dengan pihak Manajemen Turi Beach Resort.

Pada bulan Maret 2018 lalu manajemen resort  Turi Beach melaporkan kepada DLH bahwa terdapat tumpahan minyak yang menggenangi sepanjang perairan pantai, mereka menuturkan bahwa tumpahan minyak pada saat itu merupakan kejadian yang paling parah dibandingkan kejadian-kejadian sebelumnya. Ketika tim menyusuri pantai terlihat banyak terdapat jejak  tumpahan minyak yang menempel pada batu di sepanjang pantai, dibagian utara resort masih dapat ditemukan sebagian kecil area perairan yang mengandung film/lapisan minyak dan ketika pasir di area tersebut digali terlihat adanya minyak hitam yang keluar. Pemandangan dari Turi Beach Resort dapat dilihat dengan jelas banyaknya kapal tangker  dan kapal angkut yang  lalu lalang ataupun berhenti di perairan  outer port limit/OPL. Pada saat terjadi tumpahan minyak Turi Beach, pihak manajemen resort melakukan pembersihan mandiri dengan cara memasukkan  kedalam tong dan dikumpulkan di tempat penyimpanan/storage yang terletak tidak jauh dari resort, untuk kemudian diangkut ketempat pembuangan.  Survei di Pulau Batam ini merupakan rangkaian survei yang telah dilakukan sebelumnya di Pulau Bintan pada bulan Mei 2018 lalu.

Berita terkait : Historis Tumpahan Minyak Pesisir Batam Dikaji Oleh Pusat Riset Kelautan


Last Updated on Monday, 13 August 2018 12:01
 

Historis Tumpahan Minyak Pesisir Batam Dikaji Oleh Pusat Riset Kelautan

E-mail Print PDF


Batam, 08 Agustus 2018. Tim Survei “Kajian Kepekaan Wilayah Perairan Bintan-Batam Terhadap Sebaran Tumpahan Minyak” Pusat Riset Kelautan dibawah Koordinator Dr. Widodo Pranowo yang terdiri dari Dr. Budhi Gunadharma (tim Leader), August Daulat, M.Sc., Joko Subandriyo, S.T, Rizal Fadlan Abida, S.T, Sari Novita, S.T dan Armyanda Tussadiah, S. Kel. telah melaksanakan survei  untuk mencari jejak tumpahan minyak/oil spill di Pulau Bintan pada bulan Mei 2018 lalu.  Sebagai rangkaian survei tersebut, pada hari Selasa-Jumat tanggal 07-10 Agustus 2018 tim kembali melanjutkan survei kajian  kepekaan tumpahan minyak berlokasi di Pulau Batam, didampingi oleh Kepala Subbidang Sumber Daya Laut Yenung Secasari, M.Sc. Hasil kegiatan survei tersebut akan digunakan sebagai bahan penyusunan indeks kepekaan lingkungan di Perairan Bintan dan Batam. Setibanya di Pulau Batam, Selasa 07 Agustus 2018, agenda pertama kegiatan adalah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam dan Dinas Perikanan Kota Batam. Tim diterima oleh Kepala  Bidang Pengawasan dan Penindakan DLH Batam Bapak Saprial, S.Pi, MT dan  Kepala Seksi Pencegahan dan Pencemaran Bapak Didi. Pada kesempatan tersebut tim memperoleh data updating terkait waktu dan tempat lokasi tumpahan minyak, diantaranya kejadian tumpahan minyak di perairan Tanjung Bemban dan Turi Beach pada bulan Maret 2018, dengan kondisi pantai yang tercemar sepanjang 650 meter, kemudian melanjutkan koordinasi dengan Kepala UPT Dinas Perikanan Batam Bapak Witono. Rencananya pada hari kedua tim akan untuk menyusuri pantai mencari jejak tumpahan minyak di lokasi yang pernah tercemar tumpahan minyak serta wawancara dengan penduduk setempat untuk mengetahui dampak dan kerugian tumpahan minyak. Dan pada hari ketiga tim akan melakukan  pengambilan sampel kualitas air untuk selanjutnya dilakukan analisa.


Last Updated on Monday, 13 August 2018 08:36