Indonesian Ocean Forecasting System (Ina OFS) - Experimental

Prediksi Harian Suhu Muka Laut (Sea Surface Temperature) dan Arus Permukaan (Ocean Current Circulation) diperoleh dari luaran prediksi model global HYCOM + NCODA dengan resolusi grid 1/120 x 1/120 (~ 9.25 km x 9.25 km). Gambar hasil prediksi diolah dengan menggunakan software Ferret, yang merupakan perangkat analisa untuk data grid dan non-grid yang dibangun oleh NOAA-PMEL. Untuk melihat/mendownload data Archive klik

Team Ina OFS : A. Rita Tisiana Dwi Kuswardani, Ph. D; Dr.-Ing.Widodo Setiyo Pranowo; Dani Saepuloh, S.Kom; Wida Hanayasashi Samyono, S.Kel; Muallimah Annisaa, S.Kel; Novita Ayu Ryandhini, S.Kel;

News

Kapusriskel Memberikan Arahan Kegiatan Datinev dan Molap Pusriskel Tahun 2021

E-mail Print PDF

Jakarta, 24 Februari 2021. Pada hari Rabu, 24 Februri 2021 bertempat di Ruang Rapat Pusriskel Gedung BRSDMKP 2 Lantai 4, Kepala Pusriskel I Nyaman Radiarta, M.Sc. memberikan arahan kepada Kelompok Kegiatan Data, Informasi, Evaluasi (Datinev) dan Monitoring Pelaporan (Molap) yang dikoordinatori oleh  Erish Widjanorko, S.T.  terkait rencana pelaksanaan kegiatan tersebut ditahun 2021. Turut hadir pada saat arahan, yakni Subkoordinator Datinev, Hikmat Jayawiguna, M,Si. dan Subkoordinator Molap Joko Hardono, M.E beserta seluruh staf Kelompok Kegiatan  Datinev dan Molap.

Dalam arahannya Kepala Pusriskel menjelaskan tugas dan fungsi Kelompok Kegiatan  Datinev dan Monlap yang akan diemban selama satu tahun kedepan. Tugas tersebut tidak hanya dilakukan sendiri namun akan diperlukan juga koordinasi-koordinasi dengan Kelompok Kegiatan lainnya yang saling mendukung seluruh fungsi dan tugas masing-masing kelompok, sehingga seluruh kegiatan yang ada di Pusriskel dapat berjalan lancar sesuai dengan yang direncanakan.

Sebagai tindak lanjut dari arahan Kepala Pusriskel, pada awal Maret 2021 mendatang akan dilaksanakan pertemuan terkait kegiatan Datinev dan Molap bersama seluruh Koordinator Kelompok Kegiatan dan Koordinator Riset lingkup Pusriskel.


Last Updated on Wednesday, 24 February 2021 21:17
 

Workshop “Sosialisasi Penggunaan Aplikasi Layanan Perkantoran (E-Layar) Dan Tata Naskah Dinas” Lingkup Pusat Riset Kelautan.

E-mail Print PDF

Selasa, 23 Februari 2021 - Menghadapi perkembangan teknologi Informasi, dengan berdasar pada program Nawa Cita Pemerintah untuk membangun e-Government yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya, salah satu bentuk komitmen Kementerian Kelautan dan Perikanan yakni melakukan pengembangan sistem pemerintahan yang berbasis elektronik (SPBE) seperti penggunaan aplikasi layanan perkantoran (E-Layar) sebagai aplikasi untuk mengelola informasi persuratan di lingkungan kementerian. Pusat Riset Kelautan dalam kesempatan ini menyelenggarakan workshop penggunaan aplikasi e-Layar yang dilaksanakan secara luring di Auditorium Yellow Fin Tuna gedung 2 BRSDM Ancol Lt. 6.

Workshop dibuka oleh Koordinator Tata Usaha Pusat Riset Kelautan Ir. Theresia Lolita N, M.Si, dan dibawakan oleh Narasumber dari Sekretariat Jenderal, Biro Umum dan Pengadaan Jasa Ari Ruhimat, S.Pi, M.M., dan Pusat data, Statistik dan Informasi, Andetta Yulnanda, S.T. Workshop dihadiri oleh seluruh pegawai lingkup Pusat Riset Kelautan dan UPT-UPT seperti LRDSKP, BROL, LPSTK, unit rintisan PIAMARI dan MIAMARI.

Aplikasi e-Layar diharapkan dapat menyelesaikan masalah persuratan yang sering terjadi di perkantoran. Bapak Ari Ruhimat sebagai pembicara menyampaikan materi pengaplikasian e-Layar dan implementasinya selama periode 2019-2021 beserta tata naskah dinas. “Jadi memang garis besarnya bagaimana memetakan naskah dinas, kemudian yang meliputi persuratan, disposisinya, sampai di pengarsipannya” terangnya. Bapak Andetta Yulnanda dalam sesinya menjelaskan statistik penggunaan e-Layar ditahun 2020 dan penggunaan tanda tangan digital di aplikasi e-Layar. Workshop berjalan baik dengan para narasumber memaparkan dan menjelaskan penggunaan e-Layar hingga step by step dan para peserta memberikan beberapa feedback seperti masalah dalam penggunaan e-Layar, contoh penggunaan e-Layar dan beberapa masalah teknis yang harus dipecahkan dari pusat. Diharapkan setelah workshop ini, pegawai lingkup Pusat Riset Kelautan telah memiliki kemampuan dasar pengoperasian aplikasi  e-Layar dan menjawab masalah-masalah yang terkait dengan penggunaan aplikasi e-Layar. (Reportase : Ismail Adyaksa, Editor : Hikmat JW)


Last Updated on Wednesday, 24 February 2021 09:33
 

Pusriskel Terima Kunjungan Audiensi Dari Pimpinan Komisi D DPRD Kab. Jepara Terkait Pengembangan Teknologi Kapal Insinerator Sampah (KIS) Dan Konsep Tata Kelolanya

E-mail Print PDF

Senin, 22 Februari 2021.- Bertempat di Auditorium BRSDM Ancol Gd.1 lt.4 telah berlangsung pertemuan inisiasi kerjasama antara Pusat Riset kelautan BRSDMKP dan mitra pengguna (Pemerintah Kabupten Jepara, Jawa tengah) terkait pengembangan teknologi Kapal Insinerator Sampah (KIS)beserta konsep tata kelolanya hasil karya para peneliti Pusat Riset Kelautan (Pusriskel).

Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala BRSDMKP Prof. Ir. Sjarief Widjaja,  sekaligus memimpin jalannya  pertemuan yang didampingi oleh kepala Pusat Riset Kelautan Dr. I Nyoman Radiarta, Kepala Pusat Riset Perikanan Yayan Hikmayani, Kepala Pusat Pendidikan KP Dr. Bambang S. dan Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan KP Dr. Lily Aprilya. Turut hadir dari jajaran pimpinan DPRD Kab. Jepara; Ketua Komisi D  Sutrisno, wakil ketua Fauzi , 1 orang anggota dewan komisi D Sunarto beserta satu orang staf pendamping.

Dalam kesempatan tersebut, atas nama pemerintah kabupaten Jepara, para pimpinan komisi D DPRD Kab.Jepara sangat mengapresiasi adanya inisiasi kerjasama ini. Terlebih lagi pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya yang dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) kabupaten Jepara beserta jajaran sebagai mitra pengguna. Para anggota komisi D sangat tertarik dengan teknologi kapal pengangkut sampah yang dikembangkan oleh Pusriskel  BRSDM KP yang diyakini mampu membantu mengatasi persoalan sampah laut di wilayahnya. Sebagai komisi yang diberi mandat menangani permasalahan lingkungan hidup, para pimpinan Komisi D sangat prihatin dengan permasalahan sampah laut di wilayahnya  terutama di pulau Karimun Jawa yang menjadi salah satu destinasi wisata nusantara dan memiliki ekosistem mangrove yang masih terjaga kelestariannya.


Kedua belah pihak berharap penjajakan kerjasama pembuatan kapal insineretaor sampah (KIS) ini dapat terwujud dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar pulau Karimun Jawa. “Jika tidak ada refocusing anggaran untuk Covid, pasti Jepara sudah memiliki Kapal insinerator buatan Pusriskel ini”, terang Sutrisno. Lebih lanjut Kepala BRSDM Sjarief Wijaya menyarankan hendaknya jika tidak dapat terimplementasi untuk kapal insineratror dengan kapasitas angkut yang besar , kita dapat memulainya dari kapal pengangkut sampah dengan kapasitas lebih kecil yang nilainya lebih terjangkau, misal 300-400 Juta. “lebih baik kecil-kecil tapi jumlahnya banyak dan lebih efektif menjangkau beberapa titik pulau daripada besar tapi tidak dapat terimplementasi karena refocusing budget.” Terang Sjarief.

untuk menindaklanjuti hasil pertemuan ini, Kepala BRSDM meminta Dr. Nyoman Radiarta selaku Kepala Pusat Riset Kelautan dan ketua tim Teknologi Kelautan Dr. Handy Chandra untuk dapat menyempurnakan konsep desain kapal dengan kapasitas yang lebih kecil dan merumuskan rencana aksi berikutnya  agar kerjasama ini tetap  dapat terimplementasi dan menyesuaikan kemampuan anggaran Pemkab Jepara.

Pertemuan diakhiri dengan pemberian buku ilmiah hasil riset terkait pengelolaan sampah di kepulauan buah karya para peneliti pusriskel yang baru saja terbit di awal tahun 2021.Hk.Red.



Last Updated on Wednesday, 24 February 2021 21:19
 

BRSDM KKP Bakal Bangun Technopark Sumber Daya Pesisir dan Laut di Lombok Tengah

E-mail Print PDF

MATARAM-Potensi kelautan dan perikanan di NTB sangat besar. Sehingga kehadiran investor sangat diperlukan, agar bisa bersinergi dan mengembangkan sektor kelautan dan perikanan di daerah. Ini disampaikan Gubernur NTB H Zulkieflimansyah saat menerima audiensi Badan Riset dan Sumber Daya Manusia (BRSDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di ruang kerjanya, Senin (1/2).

Saat ini, Pemprov NTB terus mendukung berbagai program dari pemerintah pusat untuk kemajuan daerah. Salah satunya, BRSDM KKP merencanakan pembangunan technopark sumber daya pesisir dan laut yang berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah.

“Saya kira technopark salah satu program unggulan dari presiden dan kalau direalisasikan ini akan bagus sekali, karena NTB dengan technopark bukan suatu hal yang baru,” kata gubernur.

Doktor Zul, sapaan akrab gubernur, berharap agar selain fokus pada pengembangan kelautan dan perikanan, technopark yang akan dibangun diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan sumber daya dan potensi lokal yang ada. “Sektornya bisa diganti dari tambak udang, limbahnya bisa jadi pakan lobster. Rumput laut kemudian nanti bisa menjadi kosmetik,” tutur orang nomor satu di NTB ini.

Peneliti Pusat Riset Kelautan brsdmkp, KKP Taslim Arifin menuturkan, ide awal dari technopark muncul pada tahun 2014-2015. Saat itu ada program blue ekonomi di Lombok di bawah KKP. “Technopark sumber daya pesisir dan laut ini akan menjadi center of excellence di bidang riset. Hal ini untuk mendukung kebijakan-kebijakan kelautan dan perikanan, konsepnya yaitu wilayah lasser Sunda Island yang berpusat di Lombok,” kata Taslim menjelaskan arah dan konsep technopark yang akan dibangun.

Selanjutnya, akan dilakukan proses pembicaraan yang lebih dalam mengenai pembangunan technopark sumber daya pesisir dan laut di Lombok dengan pimpinan terkait agar tahun ini dapat segera dilaunching. “Semoga dengan dukungan gubernur kita dapat memulai dan kami akan melaporkan kepada pimpinan untuk segera memulainya,” katanya.

BRSDM KKP juga menginisiasi berbagai potensi kerja sama yang dapat dikembangkan. Khususnya pengoptimalan wilayah-wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di NTB.

Sumber Berita : Jawapos


Last Updated on Monday, 15 February 2021 15:34
 

Penjelasan Peneliti Pusriskel berdasarkan hasil observasi dan pemodelan hidrodinamika-transpor lintasan sampah laut : Kenapa Sih Bali Selalu Dapat Kiriman Sampah Tiap Tahun?

E-mail Print PDF

Jakarta - Pantai Bali menjadi langganan menjadi tempat sampah setahun sekali. Kok bisa, ya?

Pantai Bali kembali dipenuhi sampah hingga diberitakan oleh media internasional. Peristiwa ini bukan hanya terjadi pada tahun 2021, namun telah terjadi beberapa kali. Tercatat detikTravel pernah memberitakan peristiwa pantai Bali penuh sampah pada Januari 2017. Kemudian, Laut Nusa Penida yang sempat dilewati oleh sampah laut yang divideokan dan diviralkan oleh turis penyelam Rich Horner pada Maret 2018.

Pantai Kuta Bali terpapar oleh sampah plastik yang banyak pada Desember 2019 hingga awal tahun 2020. Ada dugaan ilmiah untuk menjelaskan mengapa peristiwa tersebut kembali berulang.

"Berdasarkan temuan peristiwa sampah di pesisir Bali dari 2017-2021 terjadi antara Desember hingga Februari. Sedangkan probabilitas ditemukannya sampah di laut, seperti di perairan Nusa Penida bisa ditemukan hingga Maret," ujar Widodo Pranowo, peneliti Madya Bidang Oseanografi Terapan, Laboratorium Data Laut dan Pesisir, Pusat Riset Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, kepada detikTravel.

Widodo menjelaskan bahwa Pulau Bali dengan segala aktivitas penduduk dan kegiatan turisnya tentunya memproduksi sampah. Tapi, pesisir Pulau Bali juga rentan terhadap kiriman sampah laut secara telekoneksi dari wilayah laut lain. "Salah satu wilayah laut yang diduga bisa mengirimkan sampah laut ke Bali adalah dari Laut Jawa," dia menjelaskan.

Dugaan tersebut didasarkan dari riset yang dilakukan oleh Pusat Riset Kelautan KKP bermitra dengan universitas dan kementerian/Lembaga terkait, sejak 2015 hingga 2020.

Kelompok Riset KOMITMEN Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran yang dipimpin oleh Noir Primadona Purba telah mensimulasikan lintasan dari sampah plastik mikro di perairan Indramayu, Cirebon dan Pulau Biawak, dan juga sampah plastik makro di Teluk Jakarta.


"Secara teori sampah plastik mikro adalah transformasi dari sampah plastik makro akibat gaya hidrodinamika dalam jangka waktu yang cukup lama," dia mengungkapkan.

Kondisi hidrodinamika arus di Laut Jawa pada periode Desember hingga Februari umumnya dipengaruhi oleh sistem angin monsun barat. Angin ini berhembus dari arah barat menuju ke timur. Sistem angin monsun barat tersebut mengakibatkan arus di Laut Jawa bergerak menuju ke Timur. Sebagian arus kemudian ada yang berbelok menuju ke Selat Bali dan Selat Lombok. "Hasil eksperimen secara pemodelan matematis lintasan sampah dengan uji coba sumber awal sampah laut berasal dari Muara Gembong Pantai Utara Jawa Barat menunjukkan lintasan sampah yang mencengangkan," kata dia.

Hasil simulasi yang dilakukan berdasarkan kondisi arus memperlihatkan bahwa sampah laut yang diujicobakan secara matematis keluar dari Muara Gembong Pantura Jawa Barat terbawa pada Januari. Kemudian sampah terbawa arus menuju ke timur sepanjang Januari.

"Sampah laut kemudian berbelok memasuki Selat Bali dan Selat Lombok menjelang akhir Januari. Pada bulan Februari sampah laut tersebut bisa mencapai wilayah laut selatan Bali," katanya.

Tak sampai di situ, sampah laut tersebut ada yang bersirkulasi di dalam Laut Bali. Bahkan sampah laut yang berbelok ke Selat Lombok pun berpeluang terbawa menuju ke Selat Bali karena didorong oleh arus susur pantai selatan Bali.

"Hasil eksperimen tersebut secara umum ternyata sejalan dengan hasil riset yang dilakukan oleh Anwar Rizal dan Niken F Gusmawati dari Pusat Riset Kelautan," dia menjelaskan.

Pada 7 Februari 2020 lalu, Anwar Rizal dan rekan-rekan melepaskan Marine Debris Drifter, suatu alat didesain seperti boks keranjang sampah super mini seberat kurang dari 1 kilogram berisi GPS dan baterai di Sungai Cisadane di dekat Teluk Jakarta.

Marine Debrie Drifter tersebut kemudian dipantau lintasannya melalui satelit. Marine Debris Drifter terbawa arus ke arah timur kemudian berbelok ke Selat Lombok. Perjalanan yang dimulai bulan Maret hingga April terlihat di Selat Lombok menjauh ke arah selatan.

"Pada Juni hingga Juli Marine Debris Drifter diangkut oleh arus menuju ke barat hingga hampir mencapai Pulau Christmas dan Pulau Cocos yang berada di Samudera Hindia Selatan Jawa," Debrie menjelaskan.

Sampah laut juga bisa terbawa dari daratan akibat sapuan atau limpasan banjir. Banjir mengangkut barang-barang di pemukiman menuju ke sungai dan atau langsung ke laut.

"Karakteristik kemunculan sampah laut di Pantai Bali setiap tahunnya telah kita ketahui bersama, tinggal dipikirkan bagaimanakah upaya bersama dalam mencegah dan menanggulanginya," ujar dia

Sumber Berita : DetikTravel


Last Updated on Friday, 12 February 2021 15:13
 

Persiapan Survei Rig to Farm Kangean dan P Seribu

E-mail Print PDF

Sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan riset Pemanfaatan Anjungan Minyak Lepas Pantai (AMLP) pascaproduksi untuk terumbu karang dan budidaya laut, maka dilakukan pertemuan dengan SKK Migas untuk membahas data sharing dan persiapan pelaksanaan survey di Kangean dan Kepulauan Seribu, Pertemuan dilaksanakan pada hari Rabu, 10 Februari 2021 pada pukul 09.00 WIB - selesai secara daring.


Pada pertemuan ini dihasilkan kesepakatan untuk melakukan pertukaran data untuk pelaksanaan kegiatan kajian decommissioning AMLP dan pemanfaatannya di Pusat Riset Kelautan dan SKK Migas. Sebagai tindak lanjutnya, akan dilakukan finalisasi PKS antara BRSDM KP dan SKK Migas.




Last Updated on Thursday, 11 February 2021 11:18